Tampilkan postingan dengan label Renungan Agustus 2010. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Agustus 2010. Tampilkan semua postingan

Renungan 23 Agustus 2010

Memberi atau Memancing?
Baca: 2 Korintus 9:6-10
Ayat Mas: 2 Korintus 9:7
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 112-115; 1 Korintus 6

Tulus hati merupakan nilai batin yang penting, tetapi sulit dijumpai.
Ma­sa­lah­­nya, kita biasa memiliki ha­rapan di ba­lik segala pemberian
dan tin­dak­an baik. Ke­tika kita melakukan kebaikan, kita diam-di­am
bermaksud membuat orang lain yang kita tolong merasa berutang pada kita.
Hal ini tak ubahnya seperti memancing—ada sesuatu yang kita harapkan
sebagai im­­balan dari orang yang kita tolong; bah­kan dari Tuhan.
Namun, ini tentu saja ti­dak be­nar. Meski begitu, orang kristiani kerap
pu­nya motif tersembunyi. Kita men­jadi orang yang penuh perhitungan
de­ngan perbuat­an baik kita. Semua ada hitungan bisnis­nya. Lebih lagi
fir­man Tuhan menga­takan: "Orang yang me­na­bur sedikit akan me­nu­ai
sedikit juga, dan orang yang me­na­bur ba­­nyak akan menuai banyak
juga". Benarkah pemahaman kita ini?

Paulus mengingatkan bahwa walau orang akan diberkati se­suai apa yang
ditaburnya, itu tidak berarti kita boleh "berhitung-hitung" dengan
Tuhan. Mem­beri adalah tindakan kasih yang semestinya mun­cul dengan
segenap ketulusan, tanpa embel-embel apa pun. Itu­lah sebabnya Paulus
me­nulis: "Hendaklah masing-masing mem­beri menurut kerelaan hatinya,
jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi
orang yang memberi dengan su­ka­cita ... Allah sanggup melimpahkan
segala anugerah kepada ka­mu ..." Bagi orang yang menjaga hatinya tulus
dalam memberi, Allah melimpahkan berkat, yakni: "berkecukupan dalam
segala sesuatu dan malah berkelebihan di ber­bagai perbuatan baik" (ayat 8).

Mari memeriksa rekam jejak (track record) kita sendiri. Sudah­kah hati
kita jauh dari pamrih ketika kita mengasihi dan memberi? Periksalah diri
Anda dengan jujur dan berani.

SEMAKIN DALAM SESEORANG MENGENAL KASIH TUHAN

IA AKAN SEMAKIN MERASA BERUTANG KASIH KEPADA TUHAN

Penulis: Daniel K. Listijabudi

» Read more → Renungan 23 Agustus 2010

Renungan 30 Agustus 2010

Memilih untuk Bersyukur
Baca: Habakuk 3:17-19
Ayat Mas: Habakuk 3:19
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 129-131; 1 Korintus 11:1-16

Ada cerita tentang dua anak yang bernama Ceria dan Murung. Seperti
na­manya, Ceria sifatnya periang dan selalu ter­senyum. Sebaliknya,
Murung suka me­nge­luh dan selalu cemberut. Suatu kali Murung mendapat
hadiah telepon geng­gam dari orangtuanya. Ia senang sekali, te­tapi
tidak lama wajahnya murung lagi. Ia khawatir teman-temannya meminjam
tele­pon genggamnya itu dan merusakkannya. Bukannya mendatangkan
kegembiraan, hadiah itu malah menjadi beban buatnya.

Pada saat bersamaan, Ceria juga men­­­d­apat hadiah dari orangtuanya,
yaitu ko­toran kuda. Ketika menerima hadiah itu, Ce­ria kaget sekali,
tetapi segera ia berpikir, "Ah, masa Ayah dan Ibu hanya memberi ko­toran
kuda, pasti ada sesuatu yang baik di balik ini." Ia lalu menghampiri
ayah dan ibunya. "Ayah dan Ibu sangat mengasihi saya, jadi tidak mungkin
hanya memberi kotoran kuda. Ini pasti sebuah tanda, bahwa Ayah Ibu sudah
membelikan seekor kuda buat saya," kata Ceria seraya tersenyum dan
memeluk mereka.

Cerah suramnya kehidupan kerap tidak tergantung pada kondisi di luar
diri kita, tetapi pada bagaimana kita memandang dan menyi­kapi­nya.
Habakuk hidup dalam masyarakat yang keras hati dan pe­nuh dengan
kejahatan (Habakuk 1:2-4). Walaupun demikian, ia tetap berpe­gang teguh
pada imannya. Ia tidak membiarkan dirinya teng­gelam da­lam kesusahan.
Sebaliknya, ia mengarahkan diri pada ka­sih dan kuasa Tuhan, karenanya
ia tetap dapat bersyukur. Sekarang ini, kita mungkin tengah berada dalam
kondisi yang sulit, tetapi sesungguhnya dalam keadaan demikian pun kita
tetap dapat me­milih untuk bersyukur.

DALAM KEADAAN APA PUN

SELALU ADA ALASAN UNTUK BERSYUKUR

Penulis: Ayub Yahya

» Read more → Renungan 30 Agustus 2010

Renungan 31 Agustus 2010

Terlalu Betah
Baca: Filipi 3:17-4:1
Ayat Mas: Filipi 3:20
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 132-134; I Korintus 11:17-34

Merhan Karimi Nasseri, warga Iran, dicabut kewarganegaraannya ketika
menaiki pesawat terbang menuju Paris. Pas­pornya diambil. Tanpa bukti
kewarga­nega­raan, setiba di Paris ia tidak diizinkan meninggalkan
bandara. Selama sebelas ta­hun ia tinggal di Terminal 1; mandi di
toi­let bandara, dan hidup dari bantuan staf bandara. Pada 1999,
pemerintah Pran­­­cis akhirnya memberinya izin untuk ting­gal dan
bekerja. Sekarang ia bebas pergi ke­mana pun. Anehnya, ia memilih tetap
ting­gal di ban­dara—sudah telanjur betah. Se­telah di­bujuk beberapa
hari, baru ia mau pergi.

Sebuah bandara, sebesar dan seba­gus apa pun, bukan rumah. Begitu juga
du­nia ini bukan rumah sejati kita. Rasul Paulus mengingatkan, kita
adalah warga surga. Kita tinggal di dunia hanya sementara. Maka, jangan
sampai terlalu lekat dengan daya tarik dan kenikmatannya. Paulus
prihatin melihat orang kristiani yang hidup "sebagai seteru salib
Kristus" (ayat 18). Gaya hidupnya masih mementingkan perkara duniawi.
Yang dikejar melulu soal ma­kanan, kenikmatan, kemewahan, kehormatan,
dan keuntungan. Se­ba­gai warga surga, cara hidup kristiani seharusnya
berbeda—me­ngejar hal yang bernilai kekal, seperti kasih, keadilan, dan
kebenaran.

Orang yang terlalu lekat pada dunia akan takut meninggalkan dunia ini
apabila saatnya tiba. Segala hal yang telah telanjur digeng­gam erat
biasanya sangat sulit dilepaskan. Maka, bersyukurlah jika terkadang
Tuhan mengizinkan kita mengalami kehilangan, baik benda, kuasa, maupun
kekasih tercinta. Semuanya menyadarkan bahwa dunia bukan rumah kita.
Semuanya fana dan akan lenyap.

SAAT HATI TERPIKAT OLEH SILAUNYA DUNIA

SURGA TIDAK LAGI TAMPAK MEMESONA

Penulis: Juswantori Ichwan

» Read more → Renungan 31 Agustus 2010

Renungan 27 Agustus 2010

Mati adalah Keuntungan
Baca: Filipi 1:21-24
Ayat Mas: Filipi 1:21
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 120-122; 1 Korintus 9

Coyote adalah sejenis serigala yang berkembang biak sangat pesat di
Amerika bagian utara. Para petani di sana memiliki pandangan yang
berbeda terha­dap binatang itu. Sebagian memandang coyote sebagai
binatang perusak, karena menjadi ancaman bagi hewan peliharaan, seperti
kucing dan anjing. Sebagian lagi me­­­mandang coyote sebagai binatang
yang bermanfaat, karena dapat melin­dungi ta­nam­an dari hama tikus dan
he­wan pe­nge­rat lainnya.

Begitulah, satu hal atau keadaan da­pat dilihat dari dua sisi yang
berbeda; sisi terang dan sisi kelam. Demikian juga hal kematian. Pada
satu sisi kematian bisa di­lihat sebagai peristiwa kelam. Karena itu,
orang akan berduka jika mengetahui saat menghadapi kematiannya mendekat.
Akan tetapi, dari sisi iman, ke­matian juga bisa dilihat secara optimis.
Itulah yang dilakukan oleh Paulus. Ia sedang berada di penjara, dan ia
dapat merasakan betul, bahwa kematiannya tidak akan lama lagi. Namun
sebaliknya, dari­pa­da berduka dan patah arang, Paulus justru
menghadapinya de­ngan penuh pengharapan. "Karena bagiku hidup adalah
Kristus dan mati adalah keuntungan," demikian ia menulis (ayat 21).

Kita suatu saat, cepat atau lambat, akan diperhadapkan pa­da kenyataan
ini—atau mungkin sekarang kita tengah mengha­dapi­nya, bahwa hidup kita
di dunia tidak akan lama lagi. Dalam situasi demikian, marilah kita
berpegang pada iman dan pengharapan kita di dalam Kristus, sehingga kita
dapat menghadapinya dengan tetap tenang, tidak kehilangan sukacita. Kita
dapat menyongsong saat-saat kematian yang mendekat dengan hati lapang
dan kepala tegak.

DI DALAM KRISTUS KITA HADAPI KEMATIAN DENGAN SENYUM

Penulis: Ayub Yahya

» Read more → Renungan 27 Agustus 2010

Renungan 28 Agustus 2010

Jawaban-Nya Tak Terduga
Baca: Matius 14:22-33
Ayat Mas: Matius 14:26
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 123-125; 1 Korintus 10:1-18

Jika Yesus berjalan di atas air pada saat hari cerah dan laut tenang,
ra­sa­nya para murid akan tepuk tangan dan me­lonjak-lonjak menyambut
kedatangan-Nya. Namun, saat itu malam gulita dan cuaca buruk.
Murid-murid kepayahan men­­­­da­yung perahu melawan badai.
Ke­mun­culan-Nya yang dramatis dan tidak la­zim bukannya membangkitkan
harapan, me­lain­kan memperparah kecemasan dan ke­takutan mereka. Tak
heran mereka mengi­ra Dia hantu!

Bukankah kita kerap mengalami per­soalan serupa? Kita kepayahan
mengha­dapi masalah hidup dan sangat meng­harapkan pertolongan Tuhan.
Namun, kita sulit mengenali Dia karena cara keda­tang­an-Nya di luar
dugaan kita. Atau, bentuk per­tolongan-Nya berlawanan dengan keinginan
kita. Bukannya membaik, keadaan tampaknya malah semakin memburuk. Dan,
kita mengira tengah dicobai oleh Iblis!

Benarkah? Seseorang pernah menulis puisi: Ia meminta ke­kuat­­an, dan
Allah memberinya kesulitan untuk menjadikannya kuat. Ia meminta hikmat,
dan Allah memberinya masalah untuk di­pecahkan. Ia meminta kemakmuran,
dan Allah memberinya otak dan kegigihan untuk bekerja. Ia meminta
keberanian, dan Allah memberinya bahaya untuk diatasi. Ia meminta kasih,
dan Allah mem­berinya orang bermasalah yang perlu ditolong. Ia meminta
kemurahan, dan Allah memberinya kesempatan. Ia tidak menerima satu pun
yang diinginkannya; ia menerima segala sesuatu yang diperlukannya.
Doanya terjawab.

Lain kali, saat keadaan berlawanan dengan harapan kita, ber­si­ap­lah:
Jangan-jangan Tuhan malah tengah datang mendekat!

TUHAN TIDAK BERJANJI MEMUASKAN KEINGINAN KITA

NAMUN DIA PASTI MENCUKUPKAN KEBUTUHAN KITA

Penulis: Arie Saptaji

» Read more → Renungan 28 Agustus 2010

Renungan 29 Agustus 2010

Pengkhotbah Bertarif
Baca: Kisah Para Rasul 20:31-38
Ayat Mas: Kisah Para Rasul 20:33
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 126-128; 1 Korintus 10:19-33

Pengkhotbah memasang tarif? Memanfaatkan nama tenar yang sudah dimiliki,
seorang pengkhotbah meminta ba­­yaran dengan nominal tertentu, serta
fa­silitas akomodasi kelas utama untuk pe­la­yanan yang ia berikan.
Pihak penye­leng­gara pun menyanggupinya. Dengan alas­an, nama populer
yang dimiliki sang peng­khot­bah menjadi "jaminan" sukses­nya aca­­ra.

Betapa kontrasnya sikap pengkhot­bah tersebut dibandingkan dengan sikap
Paulus. Sebagai seorang pelayan Tuhan yang telah mendirikan banyak
jemaat, Paulus menjadi sangat terkenal. Namun, ketenarannya ini tidak
pernah ia manfaat­kan untuk meraup keuntungan bagi dirinya sendiri.
Sebaliknya, dengan setia ia terus mengabdikan dirinya bagi seluruh
jemaat seperti pada mulanya. Ter­ma­suk ketika pelayanannya ini sampai
membuatnya mencucurkan air mata (ayat 31) atau ketika secara finansial
ia harus mencukupi dirinya sendiri (ayat 34).

Keteladanan Paulus ini memberi teguran keras bagi siapa pun pada zaman
ini. Kita diajar bagaimana kita mesti melayani Tuhan. Jangan sampai
ketika melayani Dia, kita memanfaatkan kesem­patan untuk meraup
keuntungan pribadi dari mereka yang kita la­yani. Jangan sampai nama
besar membuat kita menuntut lebih ba­nyak fasilitas dan
kenyamanan—merasa diri layak dihargai. Biarlah motivasi murni Paulus
kembali membakar semangat kita untuk me­layani. Dan segala kemuliaan
hanya bagi Tuhan. Kemurnian dan ketulusan hati adalah kunci dalam
mengabdi kepada Tuhan. Dan di situlah pelayanan kita akan berbuah banyak
dan memuliakan Tuhan.

PELAYANAN BUKAN TEMPAT MENCARI KEUNTUNGAN PRIBADI

MELAINKAN TEMPAT PALING TEPAT UNTUK TULUS MENGABDI

Penulis: Alison Subiantoro

» Read more → Renungan 29 Agustus 2010

Renungan 24 Agustus 2010

Salah Bertanya
Baca: Keluaran 3:10-17
Ayat Mas: Yesaya 6:8
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 116-118; 1 Korintus 7:1-19

Ada orang berkata, "Pertanyaan yang benar sudah merupakan setengah dari
jawaban yang benar". Artinya jika salah ber­tanya, kita akan sukar
memperoleh ja­waban yang benar. Sebaliknya, jika kita meng­ajukan
pertanyaan yang tepat, maka terbentang pula jalur menuju jawaban yang benar.

Salah satu kendala pelayanan adalah ketika kita salah bertanya. Seperti
Musa yang risau dengan bertanya, "Siapakah aku?" Ia mempertanyakan
kesanggupan­nya sendiri. "Apakah aku mampu?" Saat itu, Musa pada usia
delapan puluh sudah tidak yakin akan panggilan yang pernah bergelora di
hatinya empat puluh tahun sebelumnya. Kalau dulu ia gagal, apalagi
sekarang. Ia merasa tak berdaya. Perta­nya­an­nya terpusat pada dirinya.
Padahal pemeran utamanya bukan Musa, melainkan Tuhan. Siapa Tuhan lebih
penting daripada siapa Musa. "AKULAH AKU" lebih penting daripada "siapa
aku". Mem­ba­wa Israel keluar dari Mesir adalah rencana Tuhan. Musa
hanya utusan­-Nya. Tuhan tak mempersoalkan apakah Musa mampu, melainkan
apa­kah ia mau. Hal selebihnya ada dalam kendali kuasa-Nya.

Bagaimana dengan kita? Bukankah tekanan dan tantangan be­rat di
pelayanan kerap membuat panggilan hati dan semangat kita goyah? Kita pun
tergoda bertanya, "Apakah saya mampu?" Sasaran pertanyaan kita adalah
"saya". Saatnya kita mengganti pertanyaan "siapa saya" dengan "siapa
Tuhan". Dialah Tuhan Sang Pengutus. Apa­kah yang tidak sanggup Dia
lakukan? Jika Dia mengutus, Dia pasti memperlengkapi. Ingat, pelayanan
pertama-tama bukan soal kesanggupan, melainkan kesediaan kita. Tuhan
hanya butuh kese­diaan kita untuk berkata seperti Yesaya, "Ini aku,
utuslah aku!"

JANGAN MELAKUKAN PELAYANAN KARENA MERASA SANGGUP

TETAPI MINTALAH KESANGGUPAN DARI DIA SAAT KITA MELAYANI

Penulis: Pipi Agus Dhali

» Read more → Renungan 24 Agustus 2010

Renungan 25 Agustus 2010

Mabuk Lagi
Baca: Amsal 23:29-35
Ayat Mas: Amsal 23:31,32
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 119:1-88; 1 Korintus 7:20-40

Orang bisa punya bermacam alasan untuk mabuk anggur. Merayakan se­suatu,
menghilangkan stres, menambah keberanian, iseng, supaya kelihatan
jan­tan adalah beberapa alasan yang biasa d­i­­ke­mukakan. Namun, apa
pun alasannya, Al­ki­­tab sangat menentang hal tersebut.

Mengapa firman Tuhan menentang kemabukan? Ada beberapa alasan yang
diungkap oleh penulis Amsal. Pertama, anggur akan merusak tubuh kita,
seperti bisa ular yang memagut kita (ayat 32). Ke­dua, kemabukan membuat
pikiran kita ru­sak, sehingga mata kita melihat hal-hal yang aneh dan
tidak dapat mengendalikan kata-kata yang diucapkan (ayat 33). Keti­ga,
keseimbangan tubuh kita akan hilang. Keempat, kita akan kehilangan
sensitivitas terhadap rasa sakit, walaupun ada luka di tubuh kita.
Kelima, kita akan selalu ketagihan (ayat 35). Atas dasar lima alasan
yang se­muanya tidak baik ini, firman Tuhan melarang kita mabuk oleh
ang­gur atau minuman keras. Dan, itu ditulis untuk kebaikan dan
kese­hatan kita.

Sa­ya pernah bertemu dengan seseorang yang berpendapat bah­wa jika ia
tidak minum anggur, maka badannya gemetar, kepalanya pusing, dan tidak
dapat berkonsentrasi. Saya pun pernah mendengar ada orang-orang yang
sudah biasa merayakan sesuatu, termasuk Natal, dengan mabuk-mabukan.
"Ini kan sudah budaya dan kebiasa­an, mau apa lagi?" Memang kebiasaan
seperti ini sulit diubah, tetapi ingat bahwa firman Tuhan secara tegas
mengatakan "jangan". Ini tak bisa dibantah lagi. Dan, seharusnya sebagai
orang kristiani, ke­taat­an kita kepada firman Tuhan harus lebih besar
dibandingkan ke­bia­saan atau budaya yang kita miliki.

JANGAN IZINKAN KEBIASAAN MENGALAHKAN PERINTAH TUHAN

TETAPI IZINKAN PERINTAH TUHAN MENGALAHKAN KEBIASAAN

Penulis: Riand Yovindra

» Read more → Renungan 25 Agustus 2010

Renungan 26 Agustus 2010

Kisah Sup Batu
Baca: Mazmur 133
Ayat Mas: Mazmur 133:1
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 119:89-176; 1 Korintus 8

Alkisah ada tiga pengembara, yang dalam perjalanannya singgah di se­buah
kota. Warga kota itu tak pernah ber­gem­bira, sebab mereka hidup dengan
sa­ngat mementingkan diri sendiri. Mereka me­nger­jakan segala sesuatu
sendiri dan un­tuk dirinya sendiri. Selain itu, mereka su­ka mencurigai
semua orang. Termasuk kepa­da tiga pengembara kela­paran yang duduk di
tengah alun-alun kota mereka.

Tiga pengembara itu mem­buat api la­lu merebus sebuah batu. "Apa yang
kau­buat?" tanya seorang anak yang lewat. "Kami membuat sup batu yang
sangat enak," kata si pengembara, "tetapi akan ja­uh lebih enak jika
ditambah se­siung kecil bawang," lanjutnya. Anak itu pun berlari dan
mengambilkan bawang. Orang-orang kota itu mulai penasaran. Mereka
mengintip dan menengok satu per satu. "Sup ini akan jauh lebih enak jika
ditambah wortel dan tomat. Seiris kecil daging juga membuat rasanya jauh
lebih baik." Didorong oleh rasa ingin tahu yang kuat, mereka membawakan
satu per satu bahan yang disebut para pengembara. Alhasil, jadilah sup
yang enak (tentu setelah ba­tunya dibuang) dan penduduk kota ikut
menik­matinya. Untuk pertama kalinya penduduk kota itu meniadakan rasa
curiga dan mengalami indahnya hidup berbagi dalam kebersamaan.

Pemazmur menyebutkan betapa baiknya apabila kita hidup ber­sa­­ma dengan
rukun. Tidak cuma berarti tinggal bersama-sama, teta­pi saling menerima
dan saling berbagi dalam kasih. Hidup rukun tan­pa prasangka, yang
menghalangi interaksi dengan sesama. Hi­dup harmonis ini bukan saja
menda­tang­kan kebahagiaan bagi kita, melainkan juga bagi Allah.
Seperti kata pemazmur, "… sebab ke sa­na­lah Tuhan memerintahkan berkat
..."

ORANG YANG SELALU MENARUH CURIGA

MEMBATASI DIRINYA UNTUK BAHAGIA

Penulis: G. Sicillia Leiwakabessy

» Read more → Renungan 26 Agustus 2010

Renungan 21 Agustus 2010

Di Tengah Badai
Baca: Mazmur 121
Ayat Mas: Mazmur 121:5
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 106-108; 1 Korintus 4

Mungkin sekarang kita tengah berada di pusaran "badai kehidupan".
Persoal­an bertubi-tubi datang, kepahitan dan ke­susahan menghantam.
Kita pun seolah-olah berjalan di lorong gelap. Kita gentar menatap esok
dan bimbang memulai lang­kah. Dalam situasi demikian, marilah sejenak
kita berdiam diri dalam kehening­an. Lalu simak dan hayati lagu Ku
Berse­rah Kepada Allahku

(Nyanyikanlah Ki­dung Baru nomor 128).

Ku berserah kepada Allahku di darat pun di laut menderu

Tiap detik tak berhenti, Bapa Sur­ga­wi t'rus menjagaku

Ku tahu benar ku dipegang erat, di gu­nung tinggi dan samudera

Di taufan g'lap ku didekap, Bapa Sur­gawi t'rus menjagaku

Ya, Tuhan tidak pernah lalai menjaga kita. Bahkan dalam saat-saat
terberat dalam hidup ini, Dia "mendekap" kita. "Ia tidak akan membiarkan
kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap" (ayat 3). Kesadaran iman
ini akan sangat melegakan. Bisa saja persoalan kita tidak lantas selesai
dan badai hidup kita tidak lantas segera mereda. Namun satu hal yang
pasti, hati kita akan dimantapkan menjadi kuat dan teguh; pikiran kita
akan disegarkan menjadi tenang dan teduh. Sehingga, kita pun bisa tetap
berjalan dalam pengharapan akan hari esok yang lebih cerah.

Maka, pun dalam pahit dan susah, dalam gentar dan bimbang, tetaplah
berpegang pada Tuhan. Jangan jauh-jauh dari-Nya. Lebih-lebih, jangan
tergoda untuk mengambil jalan pintas. Berserah dan bersabar, dengan
tetap mengusahakan yang terbaik. Tuhan tidak akan mengecewakan.

KITA TIDAK PERNAH BERJALAN SENDIRIAN

KASIH DAN KUASA-NYA MENJAGA KITA

Penulis: Ayub Yahya

» Read more → Renungan 21 Agustus 2010

Renungan 22 Agustus 2010

Kasih yang Berbeda
Baca: 2 Timotius 2:23-26
Ayat Mas: 2 Timotius 2:25)
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 109-111; 1 Korintus 5

Suatu kali saya mendengar seorang anak perempuan berkata kepada ibu­nya
demikian, "Bu, kok guru Sekolah Ming­­gu tuh beda dengan guru di
sekolah, ya?" Ketika sang ibu memintanya mem­per­jelas maksudnya, ia
berkata, "Kalau ada anak bandel di sekolah, pasti akan dimarahi. Tapi
kalau di Sekolah Ming­gu, kok anak bandel justru dipeluk?" Saya jadi
terce­nung. Tentu saja tidak se­mua guru se­kolah bersikap begitu.
Namun, pengalam­an anak tersebut bisa meng­gam­barkan bahwa si­kap
"berbeda" dari guru Sekolah Minggu itu membuatnya tak takut atau malas
ber­ibadah. Sebab apa pun keada­annya, ia ta­hu guru-guru punya kasih
yang cukup be­sar untuk menerima­nya.

Kasih Tuhan bagi manusia juga "ber­beda". Tak biasa, bahkan tak masuk
akal. Bagaimana tidak? Manu­sia yang gagal menjalankan hukum-Nya, ma­lah
dijangkau dan di­peluk-Nya. Manusia yang sudah tidak diterima ma­nusia
lain, yang sudah dijauhi dan dikucilkan masyarakatnya, seperti Zakheus
(Lukas 19:1-10) dan wanita Samaria (Yohanes 4:4-19), malah di­ham­­piri
Tuhan. Dan, kasih-Nya yang besar itu, menye­lamatkan jiwa mereka.

Kasih Tuhan yang berbeda inilah yang mesti diteruskan anak-anak Tuhan
kepada orang-orang yang menjalani hidup dengan "na­kal, bandel", agar
mereka selamat. Anak Tuhan perlu menunjukkan kasih yang berbeda, lebih
dari yang biasa dilakukan kebanyakan orang. Yakni dengan bersikap lemah
lembut, dengan berbelas ka­sihan pada jiwa mereka, yang perlu
diselamatkan (2 Timotius 2:25). Bahkan orang yang sudah tidak diterima
di mana pun, harus dapat diterima oleh anak-anak Tuhan, dengan kekuatan
kasih Allah. Kasih itu dapat memenangkan jiwa mereka.

HATI SESEORANG BISA TERBUKA MENDENGAR INJIL DENGAN RELA

KETIKA KASIH MENJADI KUNCI PEMBUKANYA

Penulis: Agustina Wijayani

» Read more → Renungan 22 Agustus 2010

Renungan 19 Agustus 2010

Formalitas
Baca: Matius 12:1-14
Ayat Mas: Matius 12:11
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 102-103; 1 Korintus 2

Di sebuah daerah, di mana kebanyakan penduduknya tidak memiliki mo­bil,
gereja setempat memperbolehkan ang­gota jemaatnya meminjam mo­bil
gereja. Namun, tentu saja untuk menga­turnya, je­maat harus menulis
surat kepada majelis, yang kemudian akan mendis­ku­si­kannya dalam rapat
dan memutuskan un­tuk me­min­jamkan atau tidak. Suatu ma­lam, se­orang
anggota jemaat menele­pon majelis untuk meminjam mobil guna ke­per­luan
mendadak: mengantar anaknya ke rumah sakit. Karena menurut pada atur­an,
sang ma­je­lis terpaksa menolak per­mintaan itu dan meminta jemaat
ter­sebut untuk menu­lis surat terlebih dulu se­suai pro­sedur.

Kita mungkin tertawa membaca cu­plik­­an cerita di atas, tetapi banyak
hal se­ru­pa bisa terjadi dalam ke­hidupan bergereja. Aturan dan
for­malitas itu perlu, supaya or­gani­sasi bisa teratur, tetapi itu juga
bisa men­jebak dan membuat kita menjadi kaku dan dingin. Contohnya
adalah kisah ketika Tuhan Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat.
Bukannya bersukacita atas orang yang telah disembuhkan dan dilepaskan
dari pende­ri­taan­nya itu, orang-orang Farisi malah dengan gembira
menemukan alas­an untuk menghakimi Tuhan Yesus.

Formalitas yang terlalu kental juga cenderung membuat kita menjadi
sombong rohani. Kita dengan mudah merasa bangga kalau kita memenuhi
aturan A sampai Z, dan menggunakannya untuk me­nyalahkan orang lain.
Kerap kali saat kesombongan rohani itu mengua­sai kita, belas kasihan
kita malah makin mengering. For­malitas itu perlu untuk menjaga
keteraturan, tetapi biarlah kita ingat bahwa hanya kasih karunia dan
belas kasihan yang mesti jadi pen­dorong dari segala tindakan kita.

TUHAN MENCIPTAKAN ATURAN UNTUK MANUSIA

BUKAN MANUSIA UNTUK ATURAN

» Read more → Renungan 19 Agustus 2010

Renungan 20 Agustus 2010

Mazmur 104-105; 1 Korintus 3
Baca: 1 Samuel 13:5-14
Ayat Mas: 1 Samuel 13:11,12
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 104-105; 1 Korintus 3

Banyak orang Amerika mengalami kegemukan (obesitas). Lucunya, ada yang
menyalahkan restoran cepat saji se­ba­gai sumber masalah. Mereka
menuntut pihak restoran bertanggung jawab, bah­kan mengajukan masalah
ini ke pengadil­an. "Karena merekalah saya menjadi ge­muk, kena serangan
jantung, dan dia­be­tes!" seru Caesar Barber, salah satu pem­­ro­tes.
Begitu seringnya pihak restoran di­sa­lahkan, sampai-sampai pada 2004
keluar­lah Cheeseburger Bill—undang-undang yang melindungi industri
makan­an cepat sa­ji dari tuntutan hukum akibat ulah kon­sumen yang
kegemukan.

Kita cenderung menyalahkan orang lain atas kelalaian diri sendiri. Sama
se­perti Raja Saul. Sebelum berperang, ia sa­dar bahwa upacara
persembahan korban harus dilakukan oleh se­orang imam. Sang imam,
Samuel, sudah berjanji akan datang hari itu (1 Samuel 10:8). Namun, Saul
tidak sabar menunggu. Ia me­mimpin sendiri upacara itu. Dengan sengaja
ia melanggar aturan Tuhan. Samuel datang setelah upacara selesai.
Ditegurnya Saul. Apa jawab Saul? Pertama-tama ia menyalahkan situasi.
"Rakyat ber­serakan meninggalkan saya. Saya terpojok!" Kedua, ia
menyalahkan Samuel karena "tidak datang pada waktu yang ditentukan"
(ayat 11). Padahal Samuel datang pada hari yang ditetapkan! Dengan
menya­lah­kan orang lain dan situasi, Saul merasa diri benar, padahal
apa yang ia lakukan sudah ditolak Tuhan. Ia juga mengambinghitamkan
orang lain. Dosanya berlipat.

Jika Anda berbuat salah, jangan berkata: "Aku jadi begini gara-gara
kamu!" Stop menuding orang lain. Akui kesalahan Anda dan segeralah
memperbaiki diri. Itulah pertobatan sejati.

LEBIH BAIK MENCARI APA YANG SALAH

KETIMBANG MENCARI SIAPA YANG SALAH


Penulis: Juswantori Ichwan

» Read more → Renungan 20 Agustus 2010

Renungan 15 Agustus 2010

Diam di Gunung Tuhan
Baca: Mazmur 15
Ayat Mas: Mazmur 15:1
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 91-92; Roma 15:14-33

Pernahkah Anda merasa tak layak masuk dan beribadah di gereja?
Pernah­kah Anda merasa terlalu kotor untuk beri­badah di rumah Tuhan?
Atau, Anda mera­sa hidup Anda penuh keburukan, sehingga tak layak
menghadap Tuhan?

Pemazmur memang menunjukkan ke­pada kita bahwa ada syarat untuk dapat
"berdiam di gunung Tuhan". Tidak sem­ba­rang orang boleh datang ke sana.
Dalam ayat 2-5, ia mendaftar syarat-syarat itu de­ngan jelas. Intinya,
yang layak meng­ham­piri Tuhan adalah orang yang memiliki hi­dup yang
bersih, serta lurus dalam se­gala dimensi hidupnya. Lalu kita bertanya:
Bu­kankah setiap orang, bahkan yang ber­do­sa, boleh datang ke rumah
Tuhan dan meng­hampiri Tuhan?

Tentu! Namun, peng­­a­l­aman merasakan kekudusan Tuhan tentu tidak
diperuntukkan bagi orang yang hidup sembarangan atau orang yang
beribadah hanya untuk "memenuhi kewajiban" sebagai orang kristiani.
Harold Kushner dalam buku When All You've Ever Wanted isn't Enough
mengatakan: "Apabila orang hidup dalam kemanusiaan yang penuh, dengan
hati dan tangan yang bersih, maka orang itu dapat selalu merasakan
bagaimana rasanya berada di tempat yang kudus!"

Perasaan tak layak menghadap Tuhan sesungguhnya menyim­pan sesuatu yang
baik. Itu menjadikan kita sadar siapa kita; menja­di­­kan keberadaan
kita apa adanya sebagai persembahan bagi Tu­han; tidak angkuh di hadapan
Tuhan. Ketika kita beribadah dengan hidup yang sembarangan dijalani,
ibadah hanya membuang waktu. Kita sendiri tak mengalami apa-apa.
Sebaliknya, ibadah yang dilakukan dengan hati yang siap, akan membuat
kita menikmati ibadah yang meng­ubah­kan hidup.

HADIRAT TUHAN SELALU NYATA DAN ADA

BAGI SETIAP ORANG YANG MENGENAKAN JUBAH KEKUDUSAN

Penulis: Daniel K. Listijabudi

» Read more → Renungan 15 Agustus 2010

Renungan 16 Agustus 2010

Cinta Kepada Bangsa
Baca: Matius 27:3-5
Ayat Mas: (Matius 27:5
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 93-95; Roma 16

Benar atau salah, ini negaraku", adalah sepenggal ungkapan patriotik
yang dikutip dari kalimat Stephen Decatur (1779-1820). Secara lengkap
sebenarnya ia ber­ujar demikian, "Oh, negaraku! Dalam hu­bungannya
dengan negara-negara lain, se­­­moga ia selalu dalam posisi benar;
na­mun benar atau salah, ini negaraku!" Lalu bertahun-tahun setelahnya,
Carl Schurz (1829-1906) memperjelas lagi ungkap­­an ini dengan berkata,
"Benar atau sa­lah, ini ne­garaku; jika ia benar maka ia ha­rus di­jaga
tetap benar, jika salah, maka ia ha­­rus dibantu untuk menjadi benar."
Maka, ka­limat patriotik ini sesungguhnya tak bo­leh diambil sepenggal,
agar orang tak ke­mu­dian mencintai negaranya secara buta dan bisa
bertindak tanpa pertimbangan ma­tang.

Hal yang hampir sama terjadi pada Yudas. Kenapa Yudas meng­­­khianati
Tuhan Yesus? Pasti bukan karena uang. Sebab, kalau karena uang, kenapa
hanya tiga puluh keping perak? Dan, kenapa pula ia kemudian
mengembalikan uang itu? Salah satu tafsiran, ka­rena Yudas ingin
"memaksa" Gurunya bertindak menurut keingin­annya, yakni mengobarkan
gerakan revolusi membebaskan bangsa­nya dari penjajah Romawi. Jadi,
kesalahan Yudas yang ter­besar adalah, demi mewujudkan cintanya terhadap
bangsa dan negara­nya, ia mengabaikan kebenaran dan menghalalkan se­gala
cara.

Cinta kepada bangsa dan negara tentu saja baik—dan perlu. Na­­mun, rasa
cinta itu tetap harus diletakkan dalam koridor kebe­nar­an. Jangan
karena rasa cinta, lalu yang hitam menjadi putih dan yang putih menjadi
hitam. Sejarah sudah membuktikan, rasa cinta ter­hadap bangsa yang
diwujudkan dengan cara yang salah, pada akhir­nya akan berujung tragedi.

KEBENARAN TAK MENGENAL "WARNA"

ATAU PUN KEBANGSAAN

Penulis: Ayub Yahya

» Read more → Renungan 16 Agustus 2010

Renungan 17 Agustus 2010

eSurat Tahunan
Baca: Ulangan 8
Ayat Mas: Ulangan 8:2,18
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 96-98; 1 Korintus 1:1-17

Seorang ayah punya kebiasaan unik. Sejak putrinya lahir, ia
mengkhusus­kan sebuah laci untuk menyimpan catat­an-catatan berisi
kisah-kisah lucu, sedih, peristiwa-peristiwa penting, pengalaman bersama
keluarga, teman gereja, teman sekolah. Juga kerinduan dan harapan sang
ayah terhadap masa depan putrinya. Ber­sa­ma surat itu, juga ada
foto-foto, buku ra­­­por, dan berbagai benda ke­nangan lain. Ketika
ulang tahun putrinya men­je­lang, ia tinggal membuka laci itu. Maka,
ham­buran barang dan catatan i­tu me­no­longnya me­rang­kumkan kebaikan
Tuhan yang dialami putrinya sepan­jang ta­hun, dalam sebuah "surat
tahunan". Itulah kado utama­nya ba­gi putrinya di se­tiap ulang
tahun­nya, yang juga se­lalu sangat dinanti oleh anak­nya.

Sungguh indah apabila kita punya kesempatan khusus untuk meng­­ingat
segala berkat yang sudah diterima. Lebih lagi, mengingat Sang Sumber
Berkat sebagai yang berdaulat atas kehidupan yang berlang­sung. Seperti
ketika Musa meminta bangsa Israel mengingat lagi se­gala kebaikan Tuhan
dalam Ulangan 8. Dan, dari segala ingat­an baik atas pimpinan Tuhan,
membuat bangsa itu mampu men­syu­kuri se­gala hal yang dapat mereka
nikmati hingga saat itu.

Demikian pula di hari ulang tahun Indonesia ini, kita mau meng­ingat
segala berkat Tuhan pada Indonesia. Mengumpulkan segala per­kara baik,
prestasi, peningkatan kehidupan, dan segala kemajuan yang telah dicapai.
Dari situ kita akan mampu menaikkan syukur, yang menandakan penghormatan
kita kepada Allah yang berdaulat atas kehidupan bangsa ini. Dari situ
pula kita dijauhkan dari sikap ha­ti yang hanya mau menuntut, tanpa mau
bersumbangsih. Se­la­mat ulang tahun, Indonesia!

DIRGAHAYU INDONESIA, DI HARI JADIMU KAMI BERSYUKUR

SEBAB CINTA TUHAN BAGI INDONESIA, SUNGGUH TAK TERUKUR

Penulis: Agustina Wijayani

» Read more → Renungan 17 Agustus 2010

Renungan 18 Agustus 2010

Doa bagi Bangsa
Baca: Mazmur 20
Ayat Mas: Mazmur 20:10
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 99-101; 1 Korintus 1:18-31

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kita terkadang gamang menyaksikan
fenomena yang terjadi di negara ini. Ba­nyak pemimpin bangsa yang
seharusnya men­jadi teladan dan panutan rakyat, teta­pi satu demi satu
digiring ke penjara. Kita pun menjadi galau dengan masa depan bang­sa
ini. Akan mewarisi apa kelak anak cucu kita? Utangkah? Kemiskinankah?
Atau apa? Akan tetapi, kalau ditanya ba­lik, apa sumbangan positif kita
untuk bang­sa ini? Kita akan gagap menja­wab­nya. Malahan kita balik
bertanya, siapa­kah saya ini, sehingga dapat memberikan sesuatu yang
positif?

Apakah memang benar, kita tidak ber­daya dan tidak bisa berbuat apa-apa
un­tuk bangsa kita? Saya kira tidak. Sekecil apa pun, kita bisa berperan
dan memberikan sumbangan positif pa­da bangsa ini, asal mau. Mulailah
dengan berdoa, baik secara pri­ba­di, maupun menggalang rekan-rekan di
persekutuan. Namun, jangan asal berdoa. Bukankah doa "klasik" kita
setiap minggu di gereja, adalah berdoa agar Tuhan memberikan hikmat
kepada pe­mimpin negara agar bisa memimpin rakyat dengan bijaksana?

Mazmur ini merupakan doa umat agar Allah melindungi raja. Doa ini
disertai dengan pemberian persembahan dan korban bakaran sebelum
berperang. Tujuannya bukanlah untuk meminta pengam­pun­an dosa,
melainkan untuk mencari perkenan Allah. Ketika Allah merespons, Dia akan
menyatakan kehadiran dan perkenan-Nya dengan memberikan kemenangan
kepada raja. Di samping berdoa, kita juga harus menyumbangkan sesuatu
(sekecil apa pun) untuk bang­sa kita. Hal itu dapat kita lakukan dengan
memulai kontribusi dari kota tempat kita tinggal saat ini

DALAM KEADAAN KRITIS, MENGELUH TIADA HENTI

JUSTRU MEMBUAT KITA LETIH DAN TAK MAMPU MEMBERI ARTI

Penulis: Eddy Nugroho

» Read more → Renungan 18 Agustus 2010

Renungan 12 Agustus 2010

Kucing Menolak Ikan Asin
Baca: 1 Korintus 10:1-13
Ayat Mas: 1 Korintus 10:13
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 84-86; Roma 13

Mungkin kita pernah mendengar ungkapan: "Mana ada kucing yang me­nolak
ikan asin?" Itu benar. Taruh sepo­tong ikan asin di depan kucing, maka
tak perlu tunggu lama, ia pasti segera me­nyam­barnya. Demikian juga
dengan dosa. Iblis sangat tahu apa yang "menggiurkan" bagi masing-masing
pribadi. Itu sebabnya godaan dosa tak pernah menawarkan se­suatu yang
tak enak. Dan kala dosa itu meng­goda, ia mampu membuat manusia sangat
ingin menikmatinya. Maka tak he­ran, tatkala jatuh dalam dosa, orang
kerap mengatakan "khilaf" atau "abis enggak ta­han, sih."

Di dalam suratnya, Rasul Paulus mem­­­peringatkan tentang godaan dosa
ini ke­pa­da jemaat Korintus. Dan Paulus mem­peri­ngat­kan hal ini bukan
hanya karena godaannya yang menggiurkan, melainkan karena beratnya
akibat dosa yang mungkin terjadi. Contoh yang ia pakai adalah bangsa
Israel. Karena tergiur untuk me­lakukan "dengan nikmat" segala dosa
penyembahan ber­hala, percabulan, sungut-sungut, maka Allah menghukum
mati sebagian besar dari mereka (ayat 7-10). Allah tidak dapat
dipermain­kan. In­tinya, Paulus mengingatkan supaya kita tidak lupa
bahwa di balik dosa yang menggiurkan, ada akibat yang mengerikan, yakni
murka Allah.

Selanjutnya Paulus menasihati bahwa setiap godaan atau pen­cobaan dosa
yang menghampiri, sesungguhnya tidak pernah me­lampaui kekuatan kita
(ayat 13). Yakin saja bahwa setiap godaan itu adalah godaan biasa. Ia
tidak luar biasa. Artinya, kita pasti sanggup mengatasinya asal kita mau
menolaknya. Apalagi Tuhan berjanji akan memberikan jalan keluar. Maka,
kita pasti menang!

MENGHINDARI DOSA TAK DITENTUKAN OLEH KESANGGUPAN KITA

TETAPI OLEH KEMAUAN KITA

Penulis: Riand Yovindra

» Read more → Renungan 12 Agustus 2010

Renungan 13 Agustus 2010

Grusa-grusu
Baca: Kejadian 25:29-34, 28:6-9
Ayat Mas: Kejadian 25:32
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 87-88; Roma 14

Grusa-grusu adalah sebuah istilah yang dipakai untuk menjelaskan si­kap
seseorang yang serba terburu-buru dan tidak berpikir panjang dalam
menyi­kapi sesuatu. Akibatnya, orang yang demi­kian kerap kali mengambil
keputusan yang tidak bijaksana. Dan akhirnya, ia harus me­­nuai masalah
di kemudian hari karena ke­putusan tersebut.

Esau adalah seorang tokoh di Alkitab yang tercatat kerap bertindak
grusa-grusu. Dalam dua bagian bacaan hari ini, kita te­mukan setidaknya
dua tindakannya yang demikian. Pertama, tindakannya men­jual hak
kesulungan demi roti dan masakan kacang merah karena ia sangat lapar.
Ke­dua, tindakannya yang grusa-grusu meng­ambil istri—perempuan yang
tidak diper­kenan orangtuanya. Akibatnya, Esau menghadapi banyak masalah
dengan orangtuanya; ia meremehkan dan mencampakkan arti pentingnya
berkat Allah atas hak kesulungan. Dan, bangsa Edom, keturunannya, juga
terkena dampaknya.

Ada banyak sebab seseorang bertindak grusa-grusu. Bisa ka­rena dikuasai
nafsu seperti Esau, panik, percaya diri secara ber­lebihan, dan
sebagainya. Adalah penting untuk tetap menjaga diri tidak bertindak
ceroboh dalam situasi-situasi tersebut. Caranya bisa dengan menahan diri
untuk tidak segera mengambil keputusan. Sebaliknya, berusaha mencari
pendapat dari orang lain terlebih da­hulu, terutama orang yang bersikap
kritis terhadap kehidupan kita—orang-orang yang tidak segan menegur atau
menasihati kita. Sebab masukan mereka sangat menolong kita melihat
aspek-aspek yang sebelumnya tidak bisa kita lihat. Dengan perspektif
baru ini kita dapat mengambil keputusan untuk bertindak lebih bijaksana.

AMBILLAH SETIAP KEPUTUSAN TIDAK DENGAN GRUSA-GRUSU

TETAPI DENGAN PENUH PERTIMBANGAN MATANG

Penulis: Alison Subiantoro

» Read more → Renungan 13 Agustus 2010

Renungan 14 Agustus 2010

Sukacita Pelayanan
Baca: Filipi 1:1-8
Ayat Mas: 1 Korintus 15:58
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 89-90; Roma 15:1-13

Saya teringat saat pertama kali saya belajar memasak. Saat itu mama
sa­ya spontan mengeluh, "Aduh, jadi repot!" Namun, Mama tetap mengajari
saya me­masak nasi goreng dengan sukacita. Saat itu, saya hanya diminta
mengaduk nasi­nya dan Mama memberitahukan semua pro­­sesnya sambil
memasukkan semua bum­­­bunya. Dan, jadilah nasi goreng per­ta­ma buatan
saya. Waktu Papa menga­ta­kan "Hm, lumayan enak!" rasanya hati senang
sekali. Walaupun saya tahu, itu bu­kan nasi goreng saya, tetapi nasi
go­reng Mama yang saya aduk.

Seperti itulah pelayanan kita. Sesung­guhnya Tuhan bisa saja mengerjakan
se­muanya sendiri. Jika melayani Tuhan, ter­ka­dang kita malah membuat
Tuhan "re­pot" karena perilaku kita. Namun, itulah kasih Tuhan yang mau
men­jadikan kita sebagai rekan sekerja-Nya. Dan, sukacita kita adalah
ketika kita dapat melihat karya Tuhan melalui tangan kita. Itulah yang
dirasakan oleh Rasul Paulus. Saat Paulus menulis kitab Filipi, ia sedang
berada di penjara. Namun, ketika ia mengingat perse­kutuan jemaat Filipi
di dalam Injil, Paulus bersukacita. Paulus tahu jika jemaat Filipi dapat
sehati dan bahkan bersekutu dalam pende­ri­taan, itu pun karya dan
pemeliharaan Tuhan, bukan sekadar hasil pe­layanan Paulus.

Melayani Tuhan memang tidak mudah. Terkadang kita menga­lami hal yang
tidak mengenakkan seperti halnya Paulus yang dipen­jarakan karena
memberitakan Injil. Namun, inilah hak istimewa kita, yaitu turut
merasakan sukacita Tuhan saat melihat orang-orang yang kita layani
bertobat dan bertumbuh di dalam Tuhan. Oleh karena itu, tetaplah giat
melayani Tuhan.

TUHAN ADALAH KAPTEN DARI TIM IMPIAN YANG SELALU MENANG

MAKA BETAPA ISTIMEWA apaBILA KITA PUN MENJADI ANGGOTA TIM-NYA!

Penulis: Vonny Thay

» Read more → Renungan 14 Agustus 2010