Baca: Filipi 3:17-4:1
Ayat Mas: Filipi 3:20
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 132-134; I Korintus 11:17-34
Merhan Karimi Nasseri, warga Iran, dicabut kewarganegaraannya ketika
menaiki pesawat terbang menuju Paris. Paspornya diambil. Tanpa bukti
kewarganegaraan, setiba di Paris ia tidak diizinkan meninggalkan
bandara. Selama sebelas tahun ia tinggal di Terminal 1; mandi di
toilet bandara, dan hidup dari bantuan staf bandara. Pada 1999,
pemerintah Prancis akhirnya memberinya izin untuk tinggal dan
bekerja. Sekarang ia bebas pergi kemana pun. Anehnya, ia memilih tetap
tinggal di bandara—sudah telanjur betah. Setelah dibujuk beberapa
hari, baru ia mau pergi.
Sebuah bandara, sebesar dan sebagus apa pun, bukan rumah. Begitu juga
dunia ini bukan rumah sejati kita. Rasul Paulus mengingatkan, kita
adalah warga surga. Kita tinggal di dunia hanya sementara. Maka, jangan
sampai terlalu lekat dengan daya tarik dan kenikmatannya. Paulus
prihatin melihat orang kristiani yang hidup "sebagai seteru salib
Kristus" (ayat 18). Gaya hidupnya masih mementingkan perkara duniawi.
Yang dikejar melulu soal makanan, kenikmatan, kemewahan, kehormatan,
dan keuntungan. Sebagai warga surga, cara hidup kristiani seharusnya
berbeda—mengejar hal yang bernilai kekal, seperti kasih, keadilan, dan
kebenaran.
Orang yang terlalu lekat pada dunia akan takut meninggalkan dunia ini
apabila saatnya tiba. Segala hal yang telah telanjur digenggam erat
biasanya sangat sulit dilepaskan. Maka, bersyukurlah jika terkadang
Tuhan mengizinkan kita mengalami kehilangan, baik benda, kuasa, maupun
kekasih tercinta. Semuanya menyadarkan bahwa dunia bukan rumah kita.
Semuanya fana dan akan lenyap.
SAAT HATI TERPIKAT OLEH SILAUNYA DUNIA
SURGA TIDAK LAGI TAMPAK MEMESONA
Penulis: Juswantori Ichwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar