Renungan 31 Agustus 2010

Terlalu Betah
Baca: Filipi 3:17-4:1
Ayat Mas: Filipi 3:20
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 132-134; I Korintus 11:17-34

Merhan Karimi Nasseri, warga Iran, dicabut kewarganegaraannya ketika
menaiki pesawat terbang menuju Paris. Pas­pornya diambil. Tanpa bukti
kewarga­nega­raan, setiba di Paris ia tidak diizinkan meninggalkan
bandara. Selama sebelas ta­hun ia tinggal di Terminal 1; mandi di
toi­let bandara, dan hidup dari bantuan staf bandara. Pada 1999,
pemerintah Pran­­­cis akhirnya memberinya izin untuk ting­gal dan
bekerja. Sekarang ia bebas pergi ke­mana pun. Anehnya, ia memilih tetap
ting­gal di ban­dara—sudah telanjur betah. Se­telah di­bujuk beberapa
hari, baru ia mau pergi.

Sebuah bandara, sebesar dan seba­gus apa pun, bukan rumah. Begitu juga
du­nia ini bukan rumah sejati kita. Rasul Paulus mengingatkan, kita
adalah warga surga. Kita tinggal di dunia hanya sementara. Maka, jangan
sampai terlalu lekat dengan daya tarik dan kenikmatannya. Paulus
prihatin melihat orang kristiani yang hidup "sebagai seteru salib
Kristus" (ayat 18). Gaya hidupnya masih mementingkan perkara duniawi.
Yang dikejar melulu soal ma­kanan, kenikmatan, kemewahan, kehormatan,
dan keuntungan. Se­ba­gai warga surga, cara hidup kristiani seharusnya
berbeda—me­ngejar hal yang bernilai kekal, seperti kasih, keadilan, dan
kebenaran.

Orang yang terlalu lekat pada dunia akan takut meninggalkan dunia ini
apabila saatnya tiba. Segala hal yang telah telanjur digeng­gam erat
biasanya sangat sulit dilepaskan. Maka, bersyukurlah jika terkadang
Tuhan mengizinkan kita mengalami kehilangan, baik benda, kuasa, maupun
kekasih tercinta. Semuanya menyadarkan bahwa dunia bukan rumah kita.
Semuanya fana dan akan lenyap.

SAAT HATI TERPIKAT OLEH SILAUNYA DUNIA

SURGA TIDAK LAGI TAMPAK MEMESONA

Penulis: Juswantori Ichwan

Tidak ada komentar: