Tampilkan postingan dengan label Renungan Desember 2010. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Desember 2010. Tampilkan semua postingan

Renungan 26 Desember 2010

Membuka Pintu Kesempatan
Baca: 2 Timotius 2:23-26
Ayat Mas: 2 Timotius 2:24,25
Bacaan Alkitab Setahun: Hagai 1-2; Wahyu 17

Kita sadar ia sudah berdosa karena menikah dengan pasangan yang tidak
seiman. Setahun sudah ia meninggalkan gereja, tidak beribadah sama
sekali. Pada malam Natal, hatinya rindu untuk kembali mengikuti ibadah
Natal. Ia pun pergi ke gereja. Sesampainya di sana, teman-teman yang
mengenalnya justru menyambutnya dengan tatapan dingin, curiga, bahkan
sinis. "Tumben datang ke gereja," sapa seorang rekan dengan nada tak
ramah. "Ada konsumsi, sih," bisik teman lainnya menyindir. Nita merasa
malu dan terpukul. Sejak itu ia tidak mau datang ke gereja lagi.

Dalam hidup bergereja, kita perlu bersabar menghadapi orang yang sedang
undur atau melawan kehendak Tuhan. Inilah pesan Paulus kepada Timotius,
yang sekaligus juga ditujukan kepada kita. Selama seseorang masih diberi
kesempatan oleh Tuhan untuk bertobat, kita pun perlu menerimanya dengan
kasih. Penghakiman yang kita tunjukkan hanya akan menyudutkan, bahkan
menghalangi kuasa Tuhan bekerja. Menutup kesempatan baginya. Sebaliknya,
keramahan dan kasih yang tulus membuka ruang dan peluang bagi pertobatan.

Adakah orang yang selama ini Anda anggap sesat, terhilang, atau
memberontak pada Tuhan? Sudahkah Anda menunjukkan kesabaran dan
keramahan? Ataukah, Anda bersikap dingin dan menghakimi? Tuhan Yesus
sengaja turun ke dunia agar manusia berdosa punya peluang bertobat. Dia
membuka pintu kesempatan. Itulah inti berita natal. Pada masa natal ini,
tunjukkanlah kesabaran dan keramahan agar pintu-pintu kesempatan
terbuka. Natal kita pun akan penuh makna

PENGHAKIMAN AKAN MENJERAT DAN MELUMPUHKAN

PENERIMAAN AKAN MEMBUKA PINTU KESEMPATAN

Penulis: Juswantori Ichwan

» Read more → Renungan 26 Desember 2010

Renungan 27 Desember 2010

Ikuti Bintang-Nya
Baca: Matius 2:1-12
Ayat Mas: Matius 2:10
Bacaan Alkitab Setahun: Zakharia 1-4; Wahyu 18

Banyak anak dan orang dewasa yang masih buta aksara di daerah-daerah
pedalaman, tetapi hanya ada sedikit guru yang mau datang mengajar.
Banyak juga orang yang menderita gizi buruk atau sakit menahun—bahkan
HIV dan AIDS, tetapi hanya sedikit dokter yang mau merawat mereka.
Banyak korban kekerasan di berbagai daerah, tetapi hanya sedikit yang
mau menyuarakan dan memperjuangkan hak mereka.

Bukan karena hampir tidak ada orang yang memiliki kemampuan untuk itu,
tetapi setelah berjerih lelah menyelesaikan pendidikan di universitas,
banyak anak muda potensial merasa bahwa mereka layak mendapatkan karier
terbaik di perusahaan-perusahaan terbaik di kota-kota terbaik. Akan
tetapi, bagaimana jika Tuhan menghendaki sebaliknya?

Setelah mempelajari dengan seksama segala sesuatunya, orang-orang majus
dari Timur datang ke Yerusalem hendak menyembah Sang Raja. Tujuannya
jelas: istana! Namun, ternyata Sang Raja yang baru lahir itu tidak ada
di istana. Bintang itu menuntun mereka ke sebuah rumah sederhana di kota
kecil bernama Betlehem. Sang Raja hanya lahir di sebuah kandang, tetapi
itu tidak mengurungkan atau mengecilkan niat mereka untuk menyembah-Nya.
Mereka tetap bersukacita.

Bintang-Nya juga dapat menuntun kita untuk menyembah-Nya. Mungkin kita
akan diarahkan ke istana, tetapi mungkin juga ke perkampungan kumuh;
mungkin ke kota metropolitan, tetapi mungkin juga ke pelosok desa. Di
mana pun kita dituntun untuk memberikan persembahan kita yang terbaik
kepada-Nya, pergilah dan tetaplah bersukacita!

TIDAK ADA TUJUAN YANG PALING LAYAK UNTUK ANDA

SELAIN YANG DITUNJUKKAN TUHAN

Penulis: G. Sicillia Leiwakabessy

» Read more → Renungan 27 Desember 2010

Renungan 29 Desember 2010

Hanya
Baca: Bilangan 20:7-13
Ayat Mas: Ulangan 32:51
Bacaan Alkitab Setahun: Zakharia 9-12; Wahyu 20

Saat sedang menunggu diwawancara untuk melamar pekerjaan, seorang lelaki
memungut kertas-kertas berceceran di lantai lalu memasukkannya ke dalam
tong sampah; sementara calon-calon yang lain hanya membiarkannya. Hal
itu sengaja diperhatikan oleh si pewawancara. Dan ternyata, karena
itulah lamarannya diterima. Memang kelihatannya di satu sisi hanya
sebuah tindakan sederhana dan di sisi lain hanya sekadar membiarkannya,
tetapi dampaknya amat besar. Tak bisa lagi disebut "hanya".

Memikirkan alasan kenapa Musa tidak diizinkan masuk ke Kanaan, sungguh
mengherankan. Hanya karena di Meriba ia memukul bukit batu dengan
tongkatnya, padahal Tuhan menyuruhnya berkata-kata pada bukit batu itu
supaya memancarkan air? Cuma itukah alasannya? Hanya karena ia tak kuasa
menahan emosi yang disulut oleh protes umat yang terus-menerus? Ya,
hanya karena itu! Namun, apa yang bagi kita "hanya" itu, bagi Tuhan
bermakna serius. Bagi Tuhan, Musa telah bertindak sesuatu yang tidak
menghormati kekudusan-Nya di depan mata orang Israel. Sebuah pelajaran
mahal dari Tuhan.

Apa yang kita sangka "hanya" ternyata tak boleh disepelekan.
Kelihatannya hal remeh atau sederhana. Perkara kecil saja. Namun, belum
tentu dampaknya tidak besar. Kemarahan kecil bisa menyulut keributan
besar. Keteledoran kecil dapat berakibat kecelakaan fatal. Kemalasan
yang serba meremehkan berpotensi menciptakan kegagalan serius.
Sebaliknya, sedikit menahan diri bisa mencegah huru-hara. Datang sedikit
lebih awal dapat menciptakan ketenangan yang positif. Kerja sedikit
lebih keras memberi nilai lebih yang signifikan. Sungguh, semua itu
bukan "hanya"!

SESUATU YANG BESAR KERAP KALI DITENTUKAN

"HANYA" OLEH SEDIKIT TINDAKAN KECIL

Penulis: Pipi Agus Dhali

» Read more → Renungan 29 Desember 2010

Renungan 28 Desember 2010

Mengapa Ini Terjadi?
Baca: Mazmur 42:1-6
Ayat Mas: Mazmur 42:6
Bacaan Alkitab Setahun: Zakharia 5-8; Wahyu 19

Sungguh tak terperi duka dan derita yang dirasakan Sardiyanto, pria
paruh baya yang berasal dari Jawa Tengah itu. Ia selalu meneteskan air
mata ketika mengenang peristiwa tragis yang terjadi tiga tahun silam.
Bagaimana tidak, ia harus kehilangan lima anggota keluarganya sekaligus
dalam peristiwa nahas tragedi hilangnya pesawat komersial nasional
jurusan Surabaya-Manado pada tanggal 1 Januari 2007. Sardiyanto tidak
sendirian, ada banyak keluarga lain yang juga turut kehilangan
orang-orang dalam kecelakaan tersebut.

Ketika kita mengalami peristiwa menyedihkan, kerap timbul pertanyaan di
hati, "Mengapa ini terjadi? Mengapa saya harus mengalami ini?" Dan, kita
tidak menemukan jawabnya. Ya, dalam hidup ini ada banyak peristiwa yang
terjadi tanpa alasan atau jawaban yang memuaskan. Bencana alam yang
meluluhlantakkan dan meninggalkan luka begitu dalam; penyakit berat yang
tiba-tiba datang mendera tubuh; kegagalan demi kegagalan; dan persoalan
yang seolah-olah tidak berujung.

Begitulah, banyak hal dalam hidup ini yang terjadi begitu saja. Maka,
baiklah kita meresponsnya bukan dengan gugatan atau pun protes,
melainkan dengan hati yang berserah dan tetap bersyukur. Seperti
pemazmur yang dalam segala duka dan derita, tekanan jiwa dan
kegelisahannya yang dialami, ia berharap kepada Allah dan tetap
bersyukur kepada-Nya (ayat 6). Maka, marilah kita berhenti mencari jawaban.

Jalani saja hidup ini dengan rela. Mungkin itu tidak serta merta akan
menyelesaikan masalah, tetapi minimal tidak akan menimbulkan masalah
baru atau menambah berat masalah yang sudah ada

BERDAMAI DENGAN KENYATAAN

KERAP MERUPAKAN JAWABAN DARI BANYAK PERTANYAAN

Penulis: Ayub Yahya

» Read more → Renungan 28 Desember 2010

Renungan 30 Desember 2010

Tulus dan Benar
Baca: Mazmur 7:1-15
Ayat Mas: Mazmur 7:9
Bacaan Alkitab Setahun: Zakharia 13-14; Wahyu 21

Almarhum penyair W.S. Rendra pernah menulis kalimat tajam yang berbunyi,
"Kalian boleh saja berjaya dalam kehidupan, namun apakah kalian tidak
takut menghadapi kematian kalau batinmu te­lah sering tak kau hormati".
Sebuah pernyataan yang menempelak kita, orang-orang yang kerap tidak
peduli pada hati yang semestinya dijaga tetap bersih—menjalankan
nilai-nilai kebenaran dan integritas dalam kehidupan sesehari.

Demikian juga dengan pemazmur. Ia adalah orang yang berusaha hidup benar
dan tulus. Ia menjaganya sedemikian rupa, sehingga ia berani diperiksa
oleh Tuhan sendiri:" Hakimilah aku, Tuhan, apakah aku benar, dan apakah
aku tulus ikhlas" (ayat 9). Ini bukan merupakan bentuk kesombongan
rohani. Bagi sang penulis mazmur, ungkapannya itu adalah bentuk
keterbukaan sekaligus kesediaannya untuk diselidiki sungguh-sungguh oleh
Tuhan. Mengapa ia begitu berani? Sebab ia mengimani Tuhan sebagai Allah
yang adil dan dalam keadilan-Nya itulah, Dia akan menguji hati seseorang
(ayat 10). Dan, ketika Tuhan tengah menyelidiki hati seseorang, siapa
pun tak dapat berdalih macam-macam, beralasan beribu rupa, atau
melakukan tipu muslihat. Tidak! Sebagaimana pemazmur, yang mesti kita
lakukan adalah menjaga hati tetap tulus dan bertindak benar (ayat 9,11).

Suatu saat, hidup kita pasti akan berakhir. Akan tetapi, selagi masih
ada waktu, biarlah dalam hidup ini kita selalu bekerja dan bertindak
dengan ketulusan dan kebenaran—dalam hal apa pun. Supaya jika tiba
saatnya kematian kelak menjemput, kita tak takut

HIDUP TULUS DAN BENAR, BISA DIANGGAP MERUGIKAN

NAMUN SUNGGUH MERUPAKAN SUMBER KETENANGAN

Penulis: Daniel K. Listijabudi

» Read more → Renungan 30 Desember 2010

Renungan 31 DEsember 2010

Menyeberang Bersama Tuhan
Baca: Ulangan 31:1-8
Ayat Mas: Ulangan 31:3
Bacaan Alkitab Setahun: Maleakhi 1-4; Wahyu 22

Zebra cross—awalnya berwana biru kuning—diperkenalkan di Inggris pada
1949. Tujuannya untuk membantu orang menyeberang jalan. Namun, karena
kecelakaan penyeberang jalan tetap tinggi, di beberapa negara setiap
zebra cross yang berada di depan sekolah biasanya ada penjaganya. Mereka
biasa disebut School Patrol atau Lollipop Men (karena biasanya membawa
sebuah papan berbentuk seperti permen loli), tugasnya menyeberangkan
anak-anak sekolah sampai di seberang jalan.

Empat puluh tahun berlalu sejak bangsa Israel meninggalkan Mesir,
berkelana di padang gurun menuju tanah perjanjian. Saat tujuan sudah di
depan mata, kegentaran melanda hati mereka. Dapat dipahami, mereka akan
memasuki suatu kehidupan baru setelah sebelumnya melalui banyak
rintangan. Lagipula Musa, pemimpin mereka sejak dari awal, ternyata
tidak akan ikut serta menyeberang ke tanah perjanjian. Namun, Musa tahu
kegelisahan mereka, ia membangkitkan semangat mereka dengan
mengingatkan, bahwa Tuhan akan menyeberang di depan mereka (ayat 3).

Memasuki tahun baru wajar juga jika ada kegentaran. Kita tidak tahu apa
yang akan terjadi esok lusa. Apakah langit akan cerah ataukah hujan
turun mengguyur? Tetapi satu yang pasti, kita akan menyeberang menuju
tahun yang baru dengan Tuhan berjalan di depan kita. Tantangan pasti
akan ada, tetapi seperti kata Musa, "Sebab Tuhan, Dia sendiri akan
berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan
membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut
dan janganlah patah hati" (ayat 8). Selamat menyeberang menuju tahun
yang baru!

SEBERAT APA PUN JALAN DI HADAPAN KITA KELAK

BERSAMA TUHAN KITA AKAN AMAN SAMPAI KE SEBERANG

Penulis: Ayub Yahya

» Read more → Renungan 31 DEsember 2010

Renungan 23 Desember 2010

Karena Organ Rusak
Baca: Markus 2:1-12
Ayat Mas: Markus 2:4
Bacaan Alkitab Setahun: Nahum 1-3; Wahyu 14

Kabar buruk itu muncul menjelang malam Natal 1818. Joseph Mohr, seorang
pendeta Austria, diberi tahu bahwa organ di gerejanya rusak dan
perbaikannya memakan waktu lama, sehingga organ itu tidak akan dapat
dipakai untuk mengiringi ibadah malam Natal. Ia kebingungan. Natal tanpa
iringan musik? Ia pun duduk menggubah lagu yang dapat dinyanyikan oleh
paduan suara dengan iringan gitar. Ia menulis tiga bait yang bersahaja,
tetapi dengan melodi yang kuat. Malam itu, jemaat di gereja kecil itu
menyanyikan "Stille Nacht" (Malam Kudus) untuk pertama kalinya. Karena
organ yang rusak, kita mewarisi lagu Natal yang populer sepanjang masa.

Sesungguhnya, masalah tidak akan menghentikan orang yang beriman. Empat
pembawa orang lumpuh itu tidak mau menyerah ketika pintu rumah tempat
Yesus berada tertutup oleh kerumunan orang. Pada zaman itu, rumah-rumah
terbuat dari batu dan mempunyai atap rata dari campuran lumpur dan
jerami. Di luar, ada tangga menuju atap. Keempat orang itu membawa
temannya ke atap, membongkar atap itu secukupnya, dan menurunkan si
lumpuh sampai di depan Yesus. Menyaksikan iman mereka, Yesus memuji
mereka dan menyembuhkan orang lumpuh itu. Iman mereka sukses menembus
kebuntuan!

Apakah ada rencana Anda yang tertunda? Apakah Anda terpaksa mengubah
haluan karena adanya suatu rintangan? Selama tujuan Anda benar, jangan
biarkan hambatan menghentikan langkah Anda. Tuhan mungkin sedang
mengarahkan Anda untuk menempuh jalur lain, jalur alternatif yang
hasilnya akan jauh lebih baik daripada apabila Anda bertahan di jalur
yang semula

HAMBATAN BUKANLAH JALAN BUNTU

MELAINKAN TANTANGAN UNTUK MENGUJI KREATIVITAS

Penulis: Arie Saptaji

» Read more → Renungan 23 Desember 2010

Renungan 24 Desember 2010

Gedhe-gedhening Sumber
Baca: Lukas 2:8-20
Ayat Mas: Lukas 2:20
Bacaan Alkitab Setahun: Habakuk 1-3; Wahyu 15

Dalam pandangan orang Jawa, kata "Desember" merupakan akronim dari
ungkapan gedhe-gedhening sumber. Artinya, "sumber atau berkat yang
dicurahkan secara besar-besaran". Berkat dalam ungkapan tersebut juga
lekat hubungannya dengan hujan. Pada bulan Desember, Indonesia umumnya
mengalami musim hujan. Dan, bagi kebanyakan orang, hujan lebat di
sepanjang Desember mendatangkan berkat besar.

Pada setiap Desember, kita pun—sebagai umat kristiani—memaknainya
sebagai bulan gedhe-gedhening sumber; sebab penuh dengan berita dan
kesukaan besar. Bulan peringatan kelahiran Yesus, yang telah dinubuatkan
para nabi ratusan tahun sebelumnya. "Sesungguhnya, seorang perempuan
muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan
menamakan Dia Imanuel" (Yesaya 7:14).

Dan, nubuat itu menjadi nyata bagi dunia ketika untuk pertama kalinya
Lukas menuliskan berkumandangnya kabar itu di antara para gembala di
padang. Beberapa sumber mengatakan bahwa para gembala masa itu merupakan
kaum miskin dan susah. Kepada mereka, bala malaikat berkata: "… aku
memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini
telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud"
(Lukas 2:10,11). Mereka pun bergegas ke Betlehem. Dan, semua yang mereka
dengar itu benar; sesuai dengan apa yang dikatakan kepada mereka (ayat 20).

Natal merupakan momen berbagi sukacita; kepada siapa saja di sekeliling
kita—rekan sekerja, sopir taksi yang kita temui, orang-orang yang
terbaring di rumah sakit, anak-anak jalanan, orang-orang tua yang tak
punya siapa-siapa. Sudikah Anda berbagi?

NATAL BUKAN MASA PESTA BESAR-BESARAN

NATAL ADALAH MASA BERBAGI SUKACITA BESAR-BESARAN

Penulis: Sunandar Sirait

» Read more → Renungan 24 Desember 2010

Renungan 25 Desember 2010

Sejauh Langit dari Bumi
Baca: Mazmur 103:10-14
Ayat Mas: Mazmur 103:11
Bacaan Alkitab Setahun: Zefanya 1-3; Wahyu 16

Sejauh langit dari bumi/begitu besarnya kasih-Mu/penuhi hati kami yang
rindu/menyembah-Mu, Yesus/Sejauh langit dari bumi/begitu besarnya
kasih-Mu/Kaulah Tuhan, kekuatanku, sukacitaku ...". Sebenarnya sudah
kerap saya menyanyikan pujian ini, tetapi suatu kali hati saya sungguh
tersentak ketika melantunkannya.

Ya, kasih-Nya kepada kita begitu panjang, begitu lebar, begitu dalam,
begitu tinggi. Bahkan, meski jarak dan keberadaan manusia dengan Tuhan
begitu jauh dan begitu berbeda, Dia bersedia menembus semuanya itu,
bersedia turun begitu rendah, dengan menjelma menjadi manusia yang kecil
dan lemah. Sejauh langit dari bumi Dia tempuh, Dia seberangi, demi
menyelamatkan seluruh anak-Nya yang tak tahu jalan ke surga, jika bukan
Tuhan sendiri yang menghampiri.

Sungguh kasih yang sukar untuk digambarkan. Kasih yang begitu besar
hingga menutupi begitu banyaknya kesalahan kita. Kasih-Nya membalas
dengan tak setimpal pemberontakan kita (ayat 10). Bahkan,
disingkirkan-Nya jauh-jauh pelanggaran kita (ayat 12). Sungguh,
kasih-Nya adalah kasih Bapa yang terbaik dari segala bapa yang pernah
ada, bagi orang-orang yang takut akan Dia. Benar, bagi "orang-orang yang
takut akan Dia" (ayat 11,13).

Natal merupakan pengingat yang kuat bagi kita, bahwa semua jarak dan
penghalang yang memisahkan manusia dengan Allah, telah Kristus lewati
dan seberangi demi menjangkau kita. Dia telah lebih dulu menghampiri
kita, maka mari hampiri Dia. Dia telah lebih dulu mengasihi kita, karena
itu mari kasihi Dia. Dia telah lebih dulu melayani kita, maka mari
layani Dia. Selamat Natal!

KASIH TUHAN SUNGGUH TAK MASUK NALAR

SUPAYA HARGA PENEBUSAN JIWA KITA DAPAT TERBAYAR

Penulis: Agustina Wijayani

» Read more → Renungan 25 Desember 2010

Renungan 20 desember 2010

Kuasa dalam Pujian
Baca: Kisah Para Rasul 16:19-31
Ayat Mas: Efesus 5:19
Bacaan Alkitab Setahun: Hosea 1-4; Wahyu 1

Ketika saya mendampingi Ayah menjalani operasi atas kanker yang
dideritanya, lalu menjalani perawatan selama lebih dari dua bulan di
rumah sakit, rasa khawatir serta putus asa sering menyergap. Membuat
saya sangat takut dan tidak berdaya. Untuk mengurangi kegelisahan di
hati, setiap malam saya melantunkan kidung pujian sembari mendampingi
Ayah yang mengalami insomnia. Awalnya, saya melakukannya hanya untuk
kepentingan pribadi dan menyanyi dengan sangat lirih karena takut
mengganggu kenyamanan pasien lain. Namun, ternyata pasien yang lain
serta keluarga—yang seruangan dengan Ayah—tidak keberatan saya menyanyi,
malah meminta saya menyanyi untuk semua, sebab kata mereka, nyanyian
yang saya naikkan menenteramkan hati mereka juga.

Saya teringat kepada Rasul Paulus dan Silas yang tetap memuji Tuhan
dalam masa sulit. Tubuh mereka tentu tersiksa karena hukuman dera yang
dijatuhkan, dan terkurung di penjara yang sangat tidak nyaman (ayat
23,24). Namun, mereka tidak mengeluh dan berputus asa. Sebaliknya mereka
justru berdoa dan menyanyikan pujian kepada Allah. Tidak dengan ragu,
malu, apalagi takut. Mereka memuji Tuhan dengan suara lantang hingga
seluruh penghuni penjara turut mendengarkan (ayat 25). Dan, mukjizat pun
terjadi! (ayat 26).

Biarlah bibir kita suka menaikkan nyanyian pujian kepada Tuhan.
Khususnya pada masa yang sulit dan berat. Sebab, ada kuasa dalam setiap
pujian yang dinaikkan dengan segenap hati. Kuasa yang membangkitkan iman
kita sendiri, yang menguatkan orang lain di sekitar kita, yang
mengagungkan kebesaran Tuhan, Sang Pengendali segala peristiwa

ALLAH BEKERJA MELALUI SETIAP PUJIAN

YANG KITA HANTARKAN

Penulis: Santhi Ratnaningsih

» Read more → Renungan 20 desember 2010

Renungan 21 Desember 2010

Kasih Versi Natal
Baca: 1 Korintus 13:1-8
Ayat Mas: 1 Korintus 13:2
Bacaan Alkitab Setahun: Mikha 4-5; Wahyu 12

Seorang penulis memarafrasekan 1 Korintus 13 untuk menjelang momen
Natal, demikian: "Jika saya menghias rumah begitu sempurna, dengan
rangkaian lampu dan bola-bola, tetapi tidak menunjukkan kasih, maka saya
hanya pendekor ruangan. Jika saya bersusah payah membuat kue Natal,
menyiapkan hidangan Natal istimewa, tetapi tidak menunjukkan kasih, maka
saya ini sekadar koki yang bekerja keras. Jika saya menyanyi di
panti-panti dan memberi sumbangan Natal, tetapi tidak melakukannya
dengan kasih, maka itu tak ada gunanya sama sekali.

"Kasih membuat seseorang berhenti memasak, agar ia dapat memeluk
anaknya. Kasih mengesampingkan pekerjaan mendekor rumah agar ia dapat
mencium suaminya. Kasih tetap sabar, meski seseorang sedang sibuk dan
lelah. Kasih tidak cemburu kepada tetangga yang telah menata keramik dan
taplak bertema Natal. Kasih tidak menghardik anak-anak agar tidak ribut,
tetapi justru mensyukuri keberadaan mereka. Kasih tidak hanya memberi
kepada mereka yang dapat membalas, tetapi justru bersukacita memberi
kepada mereka yang tak mampu membalas. Kasih menanggung segala sesuatu,
percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, menahan segala
sesuatu. Kasih tak pernah gagal. Video games akan berlalu, kalung
mutiara akan hilang, klub olahraga akan berakhir, tetapi kasih tak
berkesudahan."

Masa Natal adalah puncak kegembiraan, sekaligus puncak kesibukan bagi
hampir setiap umat kristiani. Namun, jangan sampai kita kehilangan
kasih, agar dengannya kita mampu bersikap benar dan turut menghadirkan
damai di bumi

SEMPURNAKAN KEINDAHAN NATAL DENGAN MEMBUBUHKAN KASIH

PADA SETIAP KESIBUKAN DAN PERAYAAN

Penulis: Agustina Wijayani

» Read more → Renungan 21 Desember 2010

Renungan 22 Desember 2010

Kasih Ibu
Baca: 2 Raja-raja 4:8-37
Ayat Mas: 2 Raja-raja 4:21,22
Bacaan Alkitab Setahun: Mikha 6-7; Wahyu 13

Sewaktu kecil, saya sering sakit. Bersyukur, ibu saya selalu sigap
merawat. Jika panas tubuh saya tidak turun dalam sehari, Ibu pasti
segera membawa saya ke rumah sakit. Tidak mau membuang-buang waktu.
Beliau tidak mau saya terlambat mendapat pertolongan medis. Walau sedang
repot, atau tidak punya biaya untuk pengobatan di rumah sakit, Ibu tidak
putus asa. Apa pun akan ia lakukan demi anak yang ia kasihi. Sampai
setelah saya berkeluarga, Ibu masih menjadi orang nomor satu yang datang
ke rumah jika mendengar saya sakit.

Seperti wanita di Sunem yang mendapat berkat anak laki-laki setelah lama
menanti keturunan. Ketika sang anak semakin besar, si anak tiba-tiba
sakit hingga meninggal. Namun demikian, sang ibu tidak menyerah. Bahkan,
ketika sang suami mencegahnya menemui Nabi Elisa untuk meminta
pertolongan (ayat 23), sang ibu tidak goyah dan tetap pergi (ayat 24).
Apa pun akan ia lakukan supaya anaknya hidup. Dengan kegigihan dan iman,
sang ibu berhasil mendapatkan pertolongan Nabi Elisa; anaknya kembali hidup.

Terkadang, sebagai anak, kita menyepelekan atau melupakan kasih ibu.
Padahal, kasih ibu adalah kehidupan bagi anaknya. Tanpa ibu yang memberi
diri untuk mengasuh dan mendidik, kita tidak akan ada seperti saat ini.
Kita memang mungkin tak dapat membalas kasih ibu kita, tetapi kita tentu
dapat melakukan hal-hal yang menyejukkan hatinya. Lewat perhatian,
sapaan, kunjungan, yang ten­tu melegakan hatinya. Gunakan momen khusus
di hari ini untuk mengingat segala jasa Ibu dan menunjukkan penghargaan
kita atas segala kasih yang sudah diberikannya selama kita hidup. Dan,
jangan tunda lagi!

KASIH IBU TIDAK DAPAT DIBATASI OLEH APA PUN

DAN AKAN SELALU MENGALIR UNTUK ANAK-ANAKNYA HINGGA KAPAN PUN

Penulis: G. Dyah Paramita P.K.

» Read more → Renungan 22 Desember 2010

Renungan 16 Desember 2010

Murid yang Dikasihi
Baca: Yohanes 21:20-25
Ayat Mas: Yohanes 21:20
Bacaan Alkitab Setahun: Amos 4-6; Wahyu 7

Waktu remaja, tatkala membaca Injil Yohanes, saya merasa heran dengan
kata "murid yang dikasihi Yesus". Lama kemudian baru saya mengerti bahwa
itu merupakan pembahasaan saja. Sebab, istilah itu merujuk pada Yohanes
sendiri sebagai penulis.

Jika belum dipahami benar, pernyataan itu seolah-olah bisa membentuk
pengertian bahwa Yesus paling mengasihi Yohanes, lebih daripada
murid-murid yang lain. Bahwa Yesus memiliki "lingkaran dalam", berisi
orang-orang yang lebih Dia perhatikan, setelah itu baru meluas ke
"lingkaran luar". Lebih parah lagi jika kemudian muncul pemikiran bahwa
Yesus itu pilih kasih; bahwa Yesus lebih mengasihi mereka yang kaya,
tampan, terkenal di gereja, yang suka menyanyi di panggung gereja, dan
sebagainya. Bahwa para pengkhotbah terkenal, pendeta hebat, mereka yang
mengundang mukjizat, adalah anak-anak emas yang lebih dikasihi Tuhan
Yesus. Itu salah!

Pengertian baru yang saya peroleh adalah bahwa Yohanes tidak pernah
menulis bahwa Yesus mengasihinya lebih dari yang lain. Namun, ketika
menulis tentang dirinya sendiri, ia sungguh merasa sebagai "pribadi yang
dikasihi" (the beloved). Yohanes menyatakan bahwa ia begitu tenggelam
dalam kasih karunia Tuhan. Dan, itu terbawa dalam detak napasnya, dalam
ingatannya, bahkan dalam gerakan penanya, bahwa ia dikasihi, ia
dikasihi, ia dikasihi. Itu mengubah seluruh cara pandang saya. Bahwa
Tuhan tidak membedakan kasih-Nya. Dan, saya pun melihat bahwa saya
dikasihi, saya dikasihi, saya dikasihi. Sayalah murid yang dikasihi Yesus

ANDA—DENGAN SEGALA KEBERADAAN ANDA SAAT INI

ADALAH MURID YANG SANGAT YESUS KASIHI

Penulis: Henry Sujaya Lie

» Read more → Renungan 16 Desember 2010

Renungan 17 Desember 2010

Prasangka Buruk
Baca: Matius 5:13-16
Ayat Mas: Matius 5:16
Bacaan Alkitab Setahun: Amos 7-9; Wahyu 8

Ketika Pendeta Clark akan memasuki ruang kebaktian, seorang pengurus
gereja melapor: "Pak, ada seorang pria aneh duduk di bangku tengah.
Kostumnya mirip penyihir. Ia memakai anting-anting besar. Berwajah
seram. Bagaimana jika ia mengacau ibadah? Apa yang harus kita lakukan?"
Sang Pendeta berkata: "Sambutlah dia. Tunjukkan bahwa kita mengasihinya.
Jangan berprasangka buruk. Belum tentu ia ingin mengacau." Pagi itu
Clark mengajak jemaat bersalaman dengannya. Bahkan seusai ibadah, ia
mengajak si pria aneh minum kopi bersama. Ternyata ia banyak bertanya
tentang Injil. Merasa diterima, ia terus datang lagi, sampai akhirnya
dibaptiskan!

Kristus meminta kita menjadi orang yang membawa pengaruh dalam hidup
sesama. Bagai garam yang memberi rasa. Bagai terang yang membuat orang
bisa melihat seperti apa Yesus itu. Namun, terang dalam diri kita bisa
pudar jika hati kita dipenuhi prasangka buruk. Prasangka menciptakan
ketakutan. Rasa takut membuat kita menutup diri. Membangun tembok.
Itulah yang membuat terang kita tak dapat bercahaya di depan orang.
Akibatnya, mereka tak bisa melihat perbuatan kita yang baik dan
memuliakan Bapa di surga.

Apakah Anda sering berprasangka buruk terhadap orang lain? Di sekitar
kita banyak "orang aneh": yakni mereka yang berbeda dengan kita. Belum
tentu mereka seburuk yang Anda bayangkan. Justru sebenarnya banyak dari
mereka membutuhkan sentuhan kasih dari kita. Jadi, belajarlah
berprasangka baik! Bangunlah jembatan, bukan tembok. Anda akan mampu
menjadi garam dan terang

PRASANGKA BAIK MEMAMPUKAN ANDA MENJANGKAU SESAMA

PRASANGKA BURUK MEMENJARAKAN ANDA DARI MEREKA

Penulis: Juswantori Ichwan

» Read more → Renungan 17 Desember 2010

Renungan 18 Desember 2010

Hidup Benar
Baca: Mazmur 20:1-10
Ayat Mas: Mazmur 20:7
Bacaan Alkitab Setahun: Obaja; Wahyu 9

Harold Kushner, seorang penulis ternama, pernah mengemukakan sebuah
hukum yang berbunyi: "Anything that should be set right sooner or later
will", artinya: Apa pun yang dikerjakan dengan benar, cepat atau lambat
akan terbukti benar". Ketika saya mencoba menghayatinya dalam relasi
saya dengan Tuhan, maka hukum ini dapat diungkap kembali sebagai
berikut: tak ada yang dapat menghalangi Allah untuk mengerjakan kebaikan
bagi mereka yang dikasihi-Nya.

Hidup dan perjuangan manusia memang bisa jadi penuh lika-liku dan sarat
onak duri. Namun suatu saat, semuanya akan jelas dan bermakna. Semuanya
akan mengarahkan mata orang beriman untuk melihat kebaikan Tuhan. Di
ayat 7, Daud berefleksi demikian: "Sekarang aku tahu …". Ini
mengisyaratkan bahwa sebelumnya Daud pernah merasa tidak tahu, pernah
bingung melihat "peta hidup" yang ia jalani. Namun, akhirnya ia tahu
sesuatu dan memahami apa yang Tuhan kerjakan di hidupnya. Apakah itu?
"Bahwa Tuhan memberikan kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya".
Itulah pengalaman iman Daud dalam lika-liku hidupnya—dari sebagai
seorang gembala, menjadi seorang pejuang, dan akhirnya menjadi raja.

Apakah hidup Anda sedang mengalami kesukaran dan perjuangan yang berat?
Saking beratnya, Anda tidak mengerti apa maksud Tuhan di balik semua
peristiwa yang dialami. Jika demikian, jangan tawar hati dan putus asa.
Tetapkan hati dan yakinlah pada janji Tuhan yang akan memberi
kemenangan. Asal Anda hidup dengan benar. Melakukan apa yang berkenan
kepada-Nya. Maka, hidup benar itu akan Tuhan ganjar

TUHAN HANYA MEMINTA KITA UNTUK HIDUP BENAR

MAKA DIA AKAN MENGUBAH MASALAH MENJADI JALAN KELUAR

Penulis: Daniel K. Listijabudi

» Read more → Renungan 18 Desember 2010

Renungan 19 Desember 2010

Motivasi
Baca: 1 Timotius 1:12-17
Ayat Mas: 1 Timotius 1:12
Bacaan Alkitab Setahun: Yunus 1-4; Wahyu 10

Untuk menyelenggarakan sebuah acara besar, panitia acara merekrut
sejumlah sukarelawan untuk membantu. Namun, tidak lama kemudian para
relawan mulai mengeluh. Baik soal makanan yang kurang enak, tempat
istirahat yang kurang nyaman, jam tugas yang panjang, dan lain-lain.
Setelah diselidiki, ternyata banyak dari para sukarelawan yang bergabung
karena paksaan. Sebagian lagi bergabung karena mencari fasilitas. Dengan
motivasi demikian, tak heran kalau mereka mudah mengeluh ketika bekerja.
Motivasi memang sangat menentukan sikap kita dalam mengerjakan sesuatu.
Jika motivasi kita benar, kita pasti bekerja dengan serius, setia, dan
tidak mudah mengeluh.

Motivasi yang benar pulalah yang membuat Paulus sangat setia dalam
pelayanannya. Padahal kalau kita melihat segala kesusahan yang pernah ia
alami, sangat manusiawi kalau ia memutuskan untuk mundur saja. Atau,
setidaknya mengeluh kepada Tuhan. Akan tetapi, ia tidak melakukannya.
Sebab, ia melayani Tuhan dengan kesadaran bahwa kebaikan Tuhan begitu
besar baginya. Ia yang berdosa, telah diselamatkan Yesus. Ia yang dulu
adalah musuh-Nya, kini dipercaya untuk mengerjakan pelayanan bagi-Nya.

Ketika waktu berjalan, motivasi bisa berubah. Sebab itu, penting bagi
kita untuk memeriksa lagi motivasi kita, khususnya dalam melayani Tuhan.
Sudahkah kita melandasinya dengan rasa cinta, syukur, dan pengabdian
kepada Tuhan dan umat-Nya? Atau, masih karena terpaksa, ingin dikenal
orang, hendak mencari pasangan hidup, atau alasan lain? Kiranya setiap
pelayanan kita selalu berkenan di hadapan Tuhan dan sungguh menjadi
berkat bagi orang lain

LAYANILAH TUHAN DENGAN MOTIVASI BENAR

AGAR BUAH PELAYANAN KITA TAK TERASA HAMBAR

Penulis: Alison Subiantoro

» Read more → Renungan 19 Desember 2010

Renungan 15 Desember 2010

Tuhan Segalanya
Baca: Mazmur 124
Ayat Mas: Mazmur 124:8
Bacaan Alkitab Setahun: Amos 1-3; Wahyu 6

"Semasa penderitaan melanda, kita akan mendapat pengalaman termanis
tentang kasih Allah," demikian kata John Bunyan. Nasihat yang benar,
walau tak mudah dijalani dengan sabar. Kerap terjadi, masalah yang
datang di hidup ini membuat kita terpuruk. Masalah itu tampak begitu
besar hingga menutupi pandangan kita dari segala sesuatu yang lain.
Menjadi "segalanya" bagi kita. Hingga hidup menjadi tampak begitu berat
dan nyaris membuat putus asa.

Saya pernah merasa sangat susah karena suatu masalah yang menimpa.
Masalah itu menyelubungi mata hati saya, hingga sukacita dan damai
sejahtera saya terenggut. Sampai kemudian sebuah teguran membuka mata
rohani saya, bahwa Tuhan-lah segalanya dalam hidup ini. Bukan masalah
saya yang layak menjadi segalanya di hidup saya. Hanya Tuhan-lah yang
layak menjadi segalanya bagi saya. Segala sesuatu di luar itu,
masing-masing sesungguhnya adalah "sebagian" saja dari hidup ini. Dan,
jika Tuhan yang menjadi segalanya di hidup kita, maka pasti masih ada
kekuatan yang cukup untuk mengatasinya.

Hidup selalu menyimpan banyak cerita. Dan, tak pernah berhenti merangkai
peristiwa menyenangkan dan peristiwa menyedihkan secara bergantian.
Kiranya kita berpihak kepada-Nya saja (ayat 1,2), serta memohon kekuatan
untuk mampu menghadapi segala hal yang akan terjadi. Jadikan Dia
segala-galanya di hidup kita, jangan izinkan satu masalah pun menjadi
segalanya bagi kita. Sebab, hanya ketika Dia menjadi Tuhan yang
mengendalikan segalanya, kita dimampukan untuk menang atas segala
masalah yang akan datang!

JANGAN BIARKAN DIRI KITA BERPIHAK PADA MASALAH

SEBAB KEMENANGAN TERSEDIA KETIKA KITA BERPIHAK PADA ALLAH

Penulis: Agustina Wijayani

» Read more → Renungan 15 Desember 2010

Renungan 14 Desember 2010

Uang Alkitabiah
Baca: Amsal 23:4-5
Ayat Mas: Amsal 23:4
Bacaan Alkitab Setahun: Yoel 1-3; Wahyu 5

Seorang rekan, secara bercanda, pernah memberi tahu saya bahwa uang
Indonesia itu sangat alkitabiah—seperti yang dinyatakan Amsal 23:5.
Mengapa? Karena pada setiap pecahan uang Indonesia selalu ada gambar
garuda yang sedang mengembangkan sayap. Maksudnya, secara humor ia
hendak mengatakan bahwa "sayap" pada uang rupiah itu bisa dengan cepat
dan mudah "membawanya terbang" entah ke mana.

Ketika Salomo menuliskan amsal ini, tentu ia tidak sedang berangan-angan
untuk menjadi orang kaya. Sebab, ia sendiri adalah orang yang sudah
sangat kaya, sehingga ia tahu bagaimana rasanya menjadi kaya dan sangat
tahu bahwa kekayaan tidak dapat menjadi andalan hidup karena bisa cepat
datang, bisa juga cepat hilang. Itu sebabnya ia memberi nasihat agar
manusia jangan bersusah payah menjadi kaya.

Bukan berarti kita tidak perlu bekerja dan tidak boleh kaya. Menjadi
kaya itu sah saja, tetapi jangan habiskan hidup hanya untuk mengejar
kekayaan. Apalagi menempuh jalan-jalan yang curang demi menumpuk
kekayaan. Kekayaan bukan hal yang utama dalam hidup dan tidak memiliki
nilai kekal. Ada banyak hal yang lebih penting dan utama di hidup ini;
seperti keluarga dan relasi dengan sesama. Dan yang terutama adalah
keselamatan jiwa kita. Periksalah prioritas dari segala kesibukan dan
aktivitas kita.

Apakah sebagian besar waktu kita adalah untuk mengejar dan mengumpulkan
harta dunia—yang sementara; atau harta surgawi—relasi yang erat dengan
Tuhan, kasih, kepedulian, integritas, dan nilai-nilai utama lainnya?

MENJADI KAYA TIDAK SALAH

ASAL JANGAN SEKALI-KALI BERGANTUNG HIDUP PADA KEKAYAAN

Penulis: Riand Yovindra

» Read more → Renungan 14 Desember 2010

Renungan 10 desember 2010

Kuasa dalam Pujian
Baca: Kisah Para Rasul 16:19-31
Ayat Mas: Efesus 5:19
Bacaan Alkitab Setahun: Hosea 1-4; Wahyu 1

Ketika saya mendampingi Ayah menjalani operasi atas kanker yang
dideritanya, lalu menjalani perawatan selama lebih dari dua bulan di
rumah sakit, rasa khawatir serta putus asa sering menyergap. Membuat
saya sangat takut dan tidak berdaya. Untuk mengurangi kegelisahan di
hati, setiap malam saya melantunkan kidung pujian sembari mendampingi
Ayah yang mengalami insomnia. Awalnya, saya melakukannya hanya untuk
kepentingan pribadi dan menyanyi dengan sangat lirih karena takut
mengganggu kenyamanan pasien lain. Namun, ternyata pasien yang lain
serta keluarga—yang seruangan dengan Ayah—tidak keberatan saya menyanyi,
malah meminta saya menyanyi untuk semua, sebab kata mereka, nyanyian
yang saya naikkan menenteramkan hati mereka juga.

Saya teringat kepada Rasul Paulus dan Silas yang tetap memuji Tuhan
dalam masa sulit. Tubuh mereka tentu tersiksa karena hukuman dera yang
dijatuhkan, dan terkurung di penjara yang sangat tidak nyaman (ayat
23,24). Namun, mereka tidak mengeluh dan berputus asa. Sebaliknya mereka
justru berdoa dan menyanyikan pujian kepada Allah. Tidak dengan ragu,
malu, apalagi takut. Mereka memuji Tuhan dengan suara lantang hingga
seluruh penghuni penjara turut mendengarkan (ayat 25). Dan, mukjizat pun
terjadi! (ayat 26).

Biarlah bibir kita suka menaikkan nyanyian pujian kepada Tuhan.
Khususnya pada masa yang sulit dan berat. Sebab, ada kuasa dalam setiap
pujian yang dinaikkan dengan segenap hati. Kuasa yang membangkitkan iman
kita sendiri, yang menguatkan orang lain di sekitar kita, yang
mengagungkan kebesaran Tuhan, Sang Pengendali segala peristiwa

ALLAH BEKERJA MELALUI SETIAP PUJIAN

YANG KITA HANTARKAN

Penulis: Santhi Ratnaningsih

» Read more → Renungan 10 desember 2010

Renungan 11 Desember 2010

Dihibur untuk Menghibur
Baca: 2 Korintus 1:1-10
Ayat Mas: 2 Korintus 1:3,4
Bacaan Alkitab Setahun: Hosea 5-8; Wahyu 2

Dua belas tahun yang lalu, saya bergabung dengan sekelompok relawan yang
menolong para korban kerusuhan Mei 1998. Sejarah mencatat lembaran gelap
ketika kerusuhan itu menyebabkan banyak rumah dibakar, banyak orang
kehilangan anggota keluarga, dan banyak kaum wanita yang juga dinista.

Di tengah interaksi dengan para korban, seorang rohaniwan dalam kelompok
kami terus mendorong para korban agar tidak terus menutup diri dalam
ketakutan, keputusasaan, dan kekhawatiran. Sebaliknya, ia meminta mereka
untuk bangkit, ikut menolong korban yang lain, ikut menyaksikan suara
kebenaran, dan dengan demikian menunjukkan kekuatan mereka. Sebab jika
tidak, mereka hanya akan terus terpuruk dan tenggelam dalam sikap
mengasihani diri sendiri.

Surat Paulus kepada jemaat Korintus memberi contoh sikap positif kepada
jemaat di tengah situasi yang sangat negatif. Dalam pelayanannya, Paulus
telah mengalami banyak penderitaan (2 Korintus 11:24-27). Apakah
kemudian Paulus mengeluh dan menjadi lemah karenanya? Tidak. Ia terus
berharap kepada Tuhan dan meminta penghiburan dari Allah sendiri. Ia pun
bangkit untuk tidak mengasihani diri, bahkan dikuatkan Tuhan untuk dapat
menghibur orang lain.

Apabila kita ada dalam masalah, janganlah kita larut dan semakin
terpuruk dalam masalah. Baiklah kita tidak mengeluh. Bahkan, alangkah
baik jika kita pun membuka diri terhadap masalah yang dialami orang
lain. Dan, meminta Tuhan memampukan kita untuk dapat pula menolong orang
lain yang tengah berada dalam masalah

WALAU KITA TERJEPIT DAN TERPURUK

PENGHIBURAN ALLAH MEMAMPUKAN KITA MENGHIBUR ORANG LAIN

Penulis: Henry Sujaya Lie

» Read more → Renungan 11 Desember 2010