Tampilkan postingan dengan label Renungan Juli 2010. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Juli 2010. Tampilkan semua postingan

Renungan 25 Juli 2010

Hanya Hari Minggu
Baca: 1 Tesalonika 4:1-12
Ayat Mas: 1 Tesalonika 4:1
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 37-39; Kisah Para Rasul 26

Seorang pendeta mengibaratkan banyak orang kristiani seperti majalah
Time, yang membagi hidup mereka menjadi banyak "rubrik", dengan "rubrik"
religius hanya setengah halaman—itu pun di bagian belakang. Yakni orang
kristiani yang menjalankan kehidupan kristianinya hanya pada hari
Minggu, sementara pada hari-hari lain mereka jauh dari cara hidup
kristiani. Ironis memang, tetapi ini kenyataan. Pada hari Minggu, orang
kristiani berbondong-bondong memadati gereja. Namun, pada hari Senin
sampai Sabtu, orang begitu terfokus pada pekerjaan yang menumpuk dan
jadwal yang padat, hingga tak terpikir untuk menyertakan Tuhan.

Paulus mengingatkan kita supaya lebih sungguh-sungguh berusaha memiliki
hidup yang berkenan kepada Allah. Setiap hari, setiap saat, kita harus
melakukan kehendak Allah dengan hidup kudus, karena untuk itulah Allah
memanggil kita (ayat 3,7), bukan hanya pada hari Minggu atau hari
tertentu. Mungkin ada yang berpikir bahwa Minggu adalah harinya Tuhan,
maka harus beribadah dan hidup kudus. Namun, hari lain merupakan hari
mereka sendiri, hingga mereka bebas berbisnis dengan cara apa pun, dan
bebas mencari hiburan sesuka hati. Tak ada peraturan atau hukum religius
yang dapat membatasi, termasuk Tuhan. Padahal, andai Tuhan juga berlaku
demikian, menemui dan menolong kita hanya di hari Minggu, betapa
celakanya kita!

Hidup kudus seharusnya merupakan gaya hidup kita. Jadi, setiap hari kita
harus mengizinkan Tuhan memimpin hidup kita. Dengan menempatkan kehendak
Tuhan sebagai yang utama, sebenarnya kita sedang mendatangkan keuntungan
bagi hidup kita sendiri, sebab di situlah kita akan mendapati hidup yang
paling indah.

TUHAN MENYERTAI KITA SETIAP HARI

LAKUKAN KEHENDAK-NYA SETIAP HARI

Penulis: Petrus Kwik

» Read more → Renungan 25 Juli 2010

Renungan 26 Juli 2010

Memercayakan Diri
Baca: Ibrani 11:5,6
Ayat Mas: Kejadian 5:24
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 40-42; Kisah Para Rasul 27:1-26

Seorang bapak cemas. Pesta pernikahan anaknya akan digelar di alam
terbuka beberapa hari lagi. Padahal tiap hari turun hujan. Jika hujan
turun saat pesta berlangsung, semua acara bisa berantakan! Seorang teman
menawarkan solusi. "Pakailah pawang hujan," ujarnya, "Serahkan saja
kepadanya, semua pasti beres!" Sebagai orang beriman, sang bapak
menolak. Ia merenung: "Daripada memercayakan diri pada pawang, lebih
baik aku memercayakan diri kepada Yesus, Raja alam raya." Ia pun
bertelut. Berserah. Hatinya menjadi tenang. Saat pesta berlangsung,
cuaca ternyata cerah!

Beriman berarti memercayakan diri kepada Tuhan dan kuasa-Nya. Orang yang
beriman harus yakin bahwa Allah ada dan sanggup memberi upah kepada
mereka yang sungguh-sungguh mencari-Nya. Sikap iman seperti ini
ditunjukkan oleh Henokh. Kitab Kejadian mencatatnya sebagai orang yang
"hidup bergaul dengan Allah" (Kejadian 5:24). Dalam terjemahan lain:
"berjalan bersama Allah". Henokh melangkah sambil berserah. Ia
percayakan hidup dan masa depannya kepada Allah, sehingga damai
sejahtera mengiringi langkahnya. Akhir hidupnya pun diatur Tuhan begitu
indah. Henokh tidak mengalami sakit atau kematian. Allah mengangkatnya.

Hanya dengan memercayakan diri, kita memperoleh ketenangan. Mengapa Anda
tidak khawatir menyimpan uang di bank? Karena Anda memercayakan diri
pada nama baik bank itu. Mengapa Anda tidak khawatir melepas anak-anak
di sekolah? Karena Anda memercayakan mereka kepada para guru. Dengan
cara yang sama, percayakanlah diri Anda pada Tuhan! Berjalanlah
dengan-Nya, maka hati Anda pun tenang.

KITA BISA MELANGKAH MANTAP BUKAN KARENA PERCAYA DIRI

MELAINKAN KARENA MEMERCAYAKAN DIRI

Penulis: Juswantori Ichwan

» Read more → Renungan 26 Juli 2010

Renungan 11 Juli 2010

Berbahagia Karena Berbuat
Baca: Yakobus 1:21-25
Ayat Mas: Yakobus 1:25
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 1-3; Kisah Para Rasul 17:1-15

Suatu pagi, seseorang yang mengidentifikasi dirinya sebagai sirtom93
menulis pesan di sebuah situs internet. Ia mengancam akan membakar
sekolahnya di Norfolk, Inggris, pada pukul 11.30. Banyak orang di
seluruh dunia membaca pesan itu, tetapi tidak berbuat apa-apa. J.P.
Neufeld berbeda. Ia membaca pesan itu pada pukul 10.47. Dari internet,
ia melacak identitas sirtom93. Juga mencari nomor telepon kantor polisi
Norfolk di Inggris yang berjarak 5.000 kilometer dari rumahnya di
Kanada. Berkat laporannya, polisi berhasil membekuk sirtom93 sesaat
sebelum ia beraksi. Tindakan J.P. berhasil mencegah pembunuhan massal.

Dengan membaca kita hanya menerima informasi, tetapi tidak bisa mengubah
situasi. Membaca Alkitab pun demikian; hanya sibuk meneliti kebenaran
Alkitab tidak bisa mengubah apa pun. Tidak menghasilkan perubahan atau
pertumbuhan rohani. Baru ketika orang berjuang mewujudkannya, ia "akan
berbahagia oleh perbuatannya" (ayat 25). Ketika firman Tuhan
diwujudnyatakan, kuasa Tuhan bekerja. Kita bisa melakukan perbuatan yang
baik dan benar bagi diri sendiri maupun sesama. Dari situ kita
bertumbuh. Memang tidak selalu kita berhasil melakukan firman, tetapi
yang penting bertekun. Sekalipun gagal, orang yang terus berusaha
melakukan firman akan berbahagia karena mendapat pengalaman iman.

Banyak orang suka membaca Alkitab, tetapi enggan memberlakukannya. "Ini
bukan saat yang tepat," kita berdalih. "Nanti akan saya lakukan!" Ini
bentuk penipuan diri. Dengan menunda melakukan firman, kita kehilangan
kesempatan untuk menjadi agen perubahan. Kebahagiaan pun menjauh.
Sungguh sayang!

BAGI MEREKA YANG TEKUN MEMBERLAKUKAN FIRMAN-NYA

KEGAGALAN HANYALAH KESUKSESAN YANG TERTUNDA

Penulis: Juswantori Ichwan

» Read more → Renungan 11 Juli 2010

Renungan 12 Juli 2010

Yang Terpilih
Baca: Keluaran 31:1-11
Ayat Mas: Keluaran 36:1
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 4-6; Kisah Para Rasul 17:16-34

Saya mengenal seorang petugas keamanan yang baik. Ia selalu menyapa tamu
dengan ramah dan menjaga kantor dengan siaga. Ia pun selalu berdoa untuk
kantor tempatnya bekerja agar setiap orang yang datang ke kantor itu
dapat merasakan kehadiran Tuhan. Ia juga berdoa untuk pemimpin dan
karyawan agar percaya dan mengasihi Tuhan.

Acap kali kita berpikir bahwa orang yang dipilih dan dipakai Tuhan untuk
melakukan pekerjaan-Nya hanyalah para rohaniwan. Pada kenyataannya,
orang-orang yang bukan rohaniwan juga dapat dipilih dan dipakai Tuhan
untuk melayani-Nya. Bezaleel dan Aholiab bukanlah "rohaniwan". Mereka
bukan berasal dari suku Lewi yang dikhususkan menjadi pelayan mezbah
Tuhan. Akan tetapi, mereka adalah para ahli di bidangnya; dan mereka
dipilih Tuhan secara khusus untuk melakukan pekerjaan membangun Kemah
Suci. Tuhanlah yang memberikan keahlian itu dan mereka pun
menggunakannya untuk melayani Tuhan, tepat seperti yang diperintahkan Tuhan.

Demikian juga dengan kita. Bagi kita masing-masing, Tuhan telah menaruh
keahlian khusus secara tepat dalam diri kita untuk dapat kita pakai
melayani Tuhan, membangun tubuh Kristus. Di hadapan Tuhan, tidak ada
satu pun profesi yang rendah, sebab semua profesi pasti memiliki peran
dan arti yang penting. Untuk itu, apa pun yang menjadi keahlian kita
atau apa pun pekerjaan yang kita tekuni, marilah kita selalu
mempersembahkannya untuk kemuliaan Tuhan. Lakukan senantiasa dengan
kualitas yang terbaik, sehingga melalui semuanya itu orang lain dapat
mengenal dan memuliakan Tuhan.

SETIAP ORANG DIPILIH DAN DIPERLENGKAPI SECARA KHUSUS

UNTUK MEMPERLUAS KERAJAAN-NYA

Penulis: Vonny Thay

» Read more → Renungan 12 Juli 2010

Renungan 13 Juli 2010

Cermin yang Pecah
Baca: Yosua 2:1-7, Yosua 6:21-25
Ayat Mas: Ibrani 11:31
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 7-9; Kisah Para Rasul 18

Robert Schuller dalam buku Kisah Kasih Allah bercerita tentang sebuah
karya mozaik di istana kerajaan Teheran. Karya mozaik itu adalah salah
satu karya terindah di dunia. Namun, siapa menduga bahwa mozaik itu
terbuat dari sebuah cermin pecah. Mulanya, seorang arsitek memesan
cermin dari Paris untuk dipasang di tembok istana. Ketika pesanan itu
datang, alangkah kecewanya mereka karena cermin itu sudah pecah. Sang
kontraktor bermaksud membuang pecahan cermin itu, tetapi si arsitek
justru menggunakan pecahan-pecahan cermin itu untuk membuat mozaik indah
yang terdiri dari serpihan kaca yang berwarna perak, berkilau, dan
memendarkan cahaya.

Kisah Rahab juga serupa mozaik indah. Ia adalah perempuan kafir dan
seorang pelacur. Namun, karena imannya kepada Tuhan dan tindakannya yang
berani menyelamatkan para pengintai, Rahab diselamatkan. Ketika itu
seluruh Yerikho dicekam rasa takut terhadap Israel (ayat 9-11), tetapi
Rahab tidak membiarkan ketakutan maupun masa lalunya yang kelam
menghambatnya. Ia berpaling kepada Tuhan. Tuhan pun menghargai iman
Rahab. Ia dan seisi keluarganya tidak hanya terhindar dari pemusnahan
(Yosua 6:25); ia menjadi leluhur dari Raja Daud dan bahkan masuk ke
dalam silsilah Yesus dalam Matius 1.

Setiap kita pernah membuat kesalahan pada masa lalu. Bahkan mungkin,
kita punya masa lalu yang begitu kelam. Mungkin kita merasa hidup kita
sudah hancur. Namun, kisah Rahab mengingatkan kita; Tuhan sanggup
mengubah hidup yang hancur sekalipun, menjadi baru. Seperti apa pun
hidup kita, jika dibawa ke hadapan-Nya, akan diubah menjadi karya seni
yang indah dan berharga

Di tangan Yesus, kerikil bisa menjadi mutiara

Penulis: Grace Suryani

» Read more → Renungan 13 Juli 2010

Renungan 9 Juli 2010

Jangan Larut
Baca: 2 Samuel 12:15-23
Ayat Mas: 2 Samuel 12:23
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 38-40:19; Kisah Para Rasul 16:1-21

Seorang anak kecil menangis keras. "Mengapa kamu menangis?" tanya
ibunya. "Uang seribu rupiah yang dikasih Ayah kemarin hilang," jawab
anak itu. "Ya, sudah, Ibu ganti. Jangan menangis lagi, ya," kata sang
ibu sambil menyodorkan uang seribu. Anak itu menerima dengan gembira,
tetapi sejenak kemudian ia menangis lagi lebih keras. "Lo, mengapa kamu
malah menangis lagi?" tanya ibunya pula. "Kalau uang dari Ayah kemarin
tidak hilang, saya punya dua ribu rupiah, Bu."

Itu hanya cerita humor. Namun, sebetulnya sikap si anak itu mencerminkan
sikap kita dalam keseharian. Kita kerap lebih berfokus pada apa yang
hilang, dan mengabaikan apa yang ada. Kita begitu sedih karena sesuatu
yang "diambil" dari kita, sehingga lalu kita lalai untuk mensyukuri
sesuatu yang "diberikan" kepada kita. Perhatian kita hanya tertuju pada
yang sudah tidak ada.

Daud pun mengalami kehilangan sangat besar. Anaknya dari Batsyeba
meninggal dunia. Padahal ia sudah begitu kuat berupaya, memohon belas
kasihan Tuhan (ayat 16). Namun, Tuhan berkehendak lain. Patah arangkah
Daud? Tidak. Kepada para pegawainya ia berkata "Selagi anak itu hidup,
aku berpuasa dan menangis … Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku
harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi?" (ayat 22,23). Daud
seolah mau berkata. "Anak itu sudah tiada. Aku sangat sedih. Tetapi toh
hidup harus tetap berjalan."

Saat ini kita mungkin tengah mengalami kehilangan besar. Tidak ada
salahnya kita bersedih. Yang salah kalau karena begitu larutnya dalam
kesedihan, kita lalu lupa pada kehidupan yang masih harus kita jalani.

Hidup tidak surut ke belakang

maka jalani dengan menatap ke depan

Penulis: Ayub Yahya

» Read more → Renungan 9 Juli 2010

Renungan 1 Juli 2010

Kebetulan
Baca: Kisah Para Rasul 9:38-43, 10:30-32
Ayat Mas: Mazmur 37:23
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 20,21; Kisah Para Rasul 10:24-48

Seorang kenalan menceritakan pengalamannya mencari rumah kontrakan.
Sudah berminggu-minggu mencari, ia belum juga mendapatkannya. Padahal
kebutuhan itu mendesak dan sudah menjadi prioritas doanya. Suatu saat,
seorang kawan meminta bantuannya mengantarkan barang ke sebuah alamat.
Ketika mengantar barang ke alamat yang dituju, ia melihat tanda
"DIKONTRAKKAN" pada rumah di sebelah rumah tersebut. Begitulah ceritanya
ia mengontrak rumah yang dihuninya sekarang. Sebuah kebetulan?

Bahasa Inggris menyebut "kebetulan" sebagai "coincidence". Kata ini
berasal dari dua kata: "co" (kerja sama) dan "incidence" (kejadian).
Jadi, kurang lebih berarti ada dua atau lebih kejadian yang "bekerja
sama" demi mencapai sebuah tujuan. Dalam bahasa sehari-hari kita
menyebutnya "kebetulan". Lida, Yope, dan Kaisarea letaknya berdekatan.
Di masing-masing kota itu ada kejadian yang melibatkan Petrus.
Kejadian-kejadian itu berurutan hingga sampai ke tujuan yang Tuhan
rencanakan, yaitu pertemuan Petrus dengan Kornelius. Pertemuan itu
adalah persiapan bagi pekabaran Injil kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi,
oleh Paulus. Jadi, dalam pengaturan Tuhan, kejadian demi kejadian itu
bekerja sama menggenapi rencana-Nya.

Tuhan adalah Perencana Agung. Setiap kejadian, baik atau buruk, ada
dalam kendali-Nya. Semua bisa dipakai untuk melayani rencana-Nya yang
mulia. Sebenarnya arti "kebetulan" bukan kejadian-kejadian yang tanpa
sengaja bertemu, melainkan justru dengan sengaja dipertemukan agar
"bekerja sama" demi melayani tujuan lebih besar yang Tuhan kehendaki.
Demikian hendaknya kita memandang segala kejadian sehari-hari dengan iman.

APA YANG KITA KIRA SEBAGAI "KEBETULAN" TAK BERSENGAJA

ADALAH PENGATURAN TUHAN YANG BERSENGAJA

Penulis: Pipi Agus Dhali

» Read more → Renungan 1 Juli 2010

Renungan 2 juli 2010

Pengaruh Lingkungan
Baca: 1 Raja-Raja 12:1-15
Ayat Mas: 1 Raja-Raja 12:8
Bacaan Alkitab Setahun: Efesus 1-3

Atta adalah seorang arsitek dari Mesir yang sangat cerdas. Karena
kecerdasannya ini, ia dapat melanjutkan pendidikan di Jerman dan
kemudian bekerja di sana. Namun dalam perkembangannya, ia bergabung ke
dalam suatu kelompok kepercayaan garis keras. Di situ ia berubah dari
seorang arsitek yang penuh potensi menjadi orang yang ekstrem dan bahkan
kemudian menjadi salah seorang dalang dari tragedi 11 Septem-ber 2001 di
Amerika Serikat.Sebagai makhluk sosial, lingkungan di mana kita berada
pasti akan memengaruhi kita. Seperti yang terjadi pada Atta, dan juga
pada Rehabeam. Saat itu, Rehabeam harus menanggapi rakyatnya yang
meminta keringanan atas pekerjaan yang diberikan oleh pendahulunya (ayat
4). Sebenarnya, Rehabeam bisa mendapat nasihat bijak dari para tua-tua
yang dulu mendampingi ayahnya, Salomo (ayat 6,7), yakni untuk memberi
tanggapan baik supaya rakyat itu menjadi hamba-hambanya yang setia.
Namun sayang, Rehabeam dikelilingi oleh teman-teman yang tidak
bijaksana, dan ia terpengaruh untuk mengikuti nasihat mereka yang buruk.
Karena itulah Rehabeam tercatat sebagai orang yang mengakibatkan
kerajaan Israel terpecah. Siapa saja teman-teman terdekat kita dan
sejauh mana mereka memengaruhi kita? Apakah mereka membawa kita lebih
dekat dengan Tuhan? Jika ya, mari kita terus menjaga persekutuan dengan
mereka agar kita semakin bertumbuh. Namun jika sebaliknya, malah memberi
pengaruh buruk atas kita, jangan sungkan keluar dan men-cari lingkungan
pergaulan yang sehat yang bisa mendorong kita untuk hidup sesuai
identitas kita sebagai umat-Nya
Perilaku dan cara pandang kita sangat dipengaruhi oleh perilaku dan cara
pandang orang-orang terdekat kita

Penulis: Alison Subiantoro

» Read more → Renungan 2 juli 2010

Renungan 3 Juli 2010

Belenggu Kemalasan
Baca: Amsal 6:4-11
Ayat Mas: Pengkhotbah 10:18
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 25-27; Kisah Para Rasul 12

Si Didi ingin latihan angkat beban. Remaja ini memang kegemukan. Ketika
ia bersama ayahnya melewati toko perlengkapan olahraga, Didi minta
dibelikan barbel seberat sepuluh kilogram. Ayahnya tahu anaknya pemalas,
maka ia bertanya, "Kalau Ayah belikan, apa kamu nanti akan memakainya
tiap hari?" Didi menjawab, "O, tentu! Aku janji deh." Sang ayah lalu
membayar di kasir dan menyuruh Didi membawa barbel itu ke mobil. Baru
beberapa detik, si Didi sudah mengeluh, "Tolong bawakan dong, Yah! Ini
berat sekali!"

Kemalasan adalah rasa segan untuk bekerja atau berjuang. Para pemalas
tidak mau bersusah payah mengeluarkan tenaga maupun pikiran. Jika
diperhadapkan dengan perkara sulit, ia suka menunda-nunda. "Besok saja!
Nanti saja!" Seorang pemalas bisa saja bercita-cita tinggi, tetapi ia
ingin mencapainya dengan cara yang mudah, nyaman, dan tanpa memeras
keringat. Tentu saja ini mustahil! Kemalasan yang dibiarkan akan
menggiring orang masuk ke jalan kemiskinan dan kekurangan (ayat 11).
Bagaimana caranya keluar dari belenggu kemalasan? "Lepaskanlah dirimu
dari jerat!" (ayat 5). Kita harus mendisiplin diri sendiri; berinisiatif
untuk menuntaskan setiap tugas dan pekerjaan tanpa menunda-nunda.

Periksalah agenda hidup Anda. Adakah target-target yang tak tercapai
karena Anda dibelenggu kemalasan? Apakah Anda terus menunda waktu untuk
menghubungi seseorang, membaca buku, merapikan rumah, berolahraga,
memeriksakan diri ke dokter, membuat rencana masa depan, atau lainnya?
Hari ini juga, lepaskanlah diri Anda dari belenggu kemalasan!

KEMALASAN ADALAH KEBIASAAN UNTUK BERISTIRAHAT

SEBELUM ANDA BENAR-BENAR MERASA PENAT

Penulis: Juswantori Ichwan

» Read more → Renungan 3 Juli 2010