Baca: 2 Samuel 12:15-23
Ayat Mas: 2 Samuel 12:23
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 38-40:19; Kisah Para Rasul 16:1-21
Seorang anak kecil menangis keras. "Mengapa kamu menangis?" tanya
ibunya. "Uang seribu rupiah yang dikasih Ayah kemarin hilang," jawab
anak itu. "Ya, sudah, Ibu ganti. Jangan menangis lagi, ya," kata sang
ibu sambil menyodorkan uang seribu. Anak itu menerima dengan gembira,
tetapi sejenak kemudian ia menangis lagi lebih keras. "Lo, mengapa kamu
malah menangis lagi?" tanya ibunya pula. "Kalau uang dari Ayah kemarin
tidak hilang, saya punya dua ribu rupiah, Bu."
Itu hanya cerita humor. Namun, sebetulnya sikap si anak itu mencerminkan
sikap kita dalam keseharian. Kita kerap lebih berfokus pada apa yang
hilang, dan mengabaikan apa yang ada. Kita begitu sedih karena sesuatu
yang "diambil" dari kita, sehingga lalu kita lalai untuk mensyukuri
sesuatu yang "diberikan" kepada kita. Perhatian kita hanya tertuju pada
yang sudah tidak ada.
Daud pun mengalami kehilangan sangat besar. Anaknya dari Batsyeba
meninggal dunia. Padahal ia sudah begitu kuat berupaya, memohon belas
kasihan Tuhan (ayat 16). Namun, Tuhan berkehendak lain. Patah arangkah
Daud? Tidak. Kepada para pegawainya ia berkata "Selagi anak itu hidup,
aku berpuasa dan menangis … Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku
harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi?" (ayat 22,23). Daud
seolah mau berkata. "Anak itu sudah tiada. Aku sangat sedih. Tetapi toh
hidup harus tetap berjalan."
Saat ini kita mungkin tengah mengalami kehilangan besar. Tidak ada
salahnya kita bersedih. Yang salah kalau karena begitu larutnya dalam
kesedihan, kita lalu lupa pada kehidupan yang masih harus kita jalani.
Hidup tidak surut ke belakang
maka jalani dengan menatap ke depan
Penulis: Ayub Yahya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar