Renungan 26 Juli 2010

Memercayakan Diri
Baca: Ibrani 11:5,6
Ayat Mas: Kejadian 5:24
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 40-42; Kisah Para Rasul 27:1-26

Seorang bapak cemas. Pesta pernikahan anaknya akan digelar di alam
terbuka beberapa hari lagi. Padahal tiap hari turun hujan. Jika hujan
turun saat pesta berlangsung, semua acara bisa berantakan! Seorang teman
menawarkan solusi. "Pakailah pawang hujan," ujarnya, "Serahkan saja
kepadanya, semua pasti beres!" Sebagai orang beriman, sang bapak
menolak. Ia merenung: "Daripada memercayakan diri pada pawang, lebih
baik aku memercayakan diri kepada Yesus, Raja alam raya." Ia pun
bertelut. Berserah. Hatinya menjadi tenang. Saat pesta berlangsung,
cuaca ternyata cerah!

Beriman berarti memercayakan diri kepada Tuhan dan kuasa-Nya. Orang yang
beriman harus yakin bahwa Allah ada dan sanggup memberi upah kepada
mereka yang sungguh-sungguh mencari-Nya. Sikap iman seperti ini
ditunjukkan oleh Henokh. Kitab Kejadian mencatatnya sebagai orang yang
"hidup bergaul dengan Allah" (Kejadian 5:24). Dalam terjemahan lain:
"berjalan bersama Allah". Henokh melangkah sambil berserah. Ia
percayakan hidup dan masa depannya kepada Allah, sehingga damai
sejahtera mengiringi langkahnya. Akhir hidupnya pun diatur Tuhan begitu
indah. Henokh tidak mengalami sakit atau kematian. Allah mengangkatnya.

Hanya dengan memercayakan diri, kita memperoleh ketenangan. Mengapa Anda
tidak khawatir menyimpan uang di bank? Karena Anda memercayakan diri
pada nama baik bank itu. Mengapa Anda tidak khawatir melepas anak-anak
di sekolah? Karena Anda memercayakan mereka kepada para guru. Dengan
cara yang sama, percayakanlah diri Anda pada Tuhan! Berjalanlah
dengan-Nya, maka hati Anda pun tenang.

KITA BISA MELANGKAH MANTAP BUKAN KARENA PERCAYA DIRI

MELAINKAN KARENA MEMERCAYAKAN DIRI

Penulis: Juswantori Ichwan

Tidak ada komentar: