Tampilkan postingan dengan label Renungan Mei 2010. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Mei 2010. Tampilkan semua postingan

Renungan 10 Mei 2010

''Orang Lain''
Baca: Lukas 4:25-28
Ayat Mas: Matius 25:45
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 7-9; Yohanes 1:1-28

Saya pernah ditanya mengenai alasan saya memilih mengajar anak-anak dari
kelompok yang termarginalkan. Anak-anak itu kerap susah diatur. Mereka
mudah kehilangan motivasi belajar. Kemampuan akademis mereka pun
cenderung lebih rendah. Mengajari anak-anak ini kerap kali begitu
menguras energi dan melelahkan secara emosi. Lagi pula, sebagian besar
dari mereka bukan anak jemaat, bahkan bukan orang kristiani. Mereka
"orang lain"!

Sebagian jemaat menyarankan agar saya mulai lebih memperhatikan anak
jemaat. Jika dipikir-pikir, memang ada di antara anak jemaat yang
memerlukan bantuan, tetapi tentu itu bukan alasan tepat untuk serta
merta mengabaikan anak-anak lain, yang bukan anak jemaat. Apalagi,
banyak anak dari kelompok termarginalkan ini yang sering menjadi pelaku,
juga korban kekerasan. Mereka tumbuh tanpa memiliki pengalaman dicintai
dan dikasihi. Sayangnya, gereja cenderung memfokuskan pelayanan hanya
pada diri sendiri.

Sesungguhnya, perkataan Yesus sangat menohok. Yesus menyebutkan bahwa
Elia diutus Tuhan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, padahal pada
masa itu banyak perempuan janda di Israel yang bisa saja dipilih Tuhan
(ayat 25,26). Begitu juga Elisa dipakai Tuhan untuk mentahirkan Naaman
orang Siria, padahal begitu banyak orang kusta di Israel waktu itu yang
butuh ditahirkan (ayat 27). Jadi, Tuhan memakai hamba-Nya tidak selalu
untuk umat saja, tetapi kepada orang lain juga yang mungkin belum
mengenal Tuhan.

"Orang-orang lain" yang bukan jemaat, bahkan yang bukan orang kristiani,
juga perlu dikasihi, sebab mereka berharga di mata Tuhan. Mereka pun
perlu dilayani.

Jangan biarkan orang lain melihat cahaya Anda

tanpa dapat merasakan kehangatannya

Penulis: G. Sicillia Leiwakabessy

» Read more → Renungan 10 Mei 2010

Renungan 6 Mei 2010

Tidak Lupa Masa Lalu
Baca: 1 Timotius 1:12-17
Ayat Mas: 1 Timotius 1:14
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-raja 21-22; Lukas 23:26-56

Ada sebuah dongeng tentang Akhan, kepala istana kepercayaan Baginda
Raja, yang memiliki kebiasaan aneh. Setiap pagi sebelum memulai
pekerjaannya, ia pergi ke sebuah ruangan yang terletak di belakang
istana, dan beberapa saat lamanya berdiam diri di sana. Kebiasaannya itu
lama-lama diketahui Baginda Raja. Diam-diam Baginda Raja memeriksa
ruangan itu, dan didapati di sana beberapa benda asing: lemari kecil dan
kursi tua di pojok ruangan, lalu topi dan sandal petani, serta cangkul
di dekatnya.

Baginda Raja pun memanggil Akhan dan bertanya tentang benda-benda itu.
Akhan menjelaskan, "Saya adalah anak petani miskin ketika Baginda
membawa dan membesarkan saya di istana. Saya menjadi seperti sekarang
karena perkenan dan kebaikan Baginda. Setiap hari saya masuk ke ruangan
itu dan melihat benda-benda tersebut, untuk mengingatkan diri sendiri,
siapa saya dulu."

Paulus juga tidak pernah melupakan atau menutupi masa lalunya yang
kelam. Dan karena itu ia jadi selalu ingat akan kasih karunia Allah
dalam hidupnya. "Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang
penganiaya dan seorang ganas, tetapi telah dikasihi-Nya," begitu ia
menulis (ayat 13). Tidak heran kalau dalam kondisi apa pun Paulus tidak
pernah kekurangan sukacita dan rasa syukur kepada Tuhan.

Mari kita pun senantiasa mengingat kembali rahmat dan kebaikan Tuhan
dalam hidup kita pada masa lalu; supaya kalau sekarang sukses, kita
tidak menjadi sombong dan lupa diri. Sebaliknya kalau tengah dirundung
kesusahan, kita tidak menjadi kecil hati atau putus asa, tetap bisa
bersyukur dan bersukacita.

Bagaimana kita mengingat dan memaknai masa lalu

akan sangat menentukan langkah kita pada masa kini

Penulis: Ayub Yahya

» Read more → Renungan 6 Mei 2010

Renungan 7 Mei 2010

Kedaluwarsa
Baca: Mazmur 90
Ayat Mas: Mazmur 90:9
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 1-3; Lukas 24:1-35

Televisi tua Anda rusak? Komputer ngadat setelah bertahun-tahun dipakai
bekerja? Jangan heran! Sebagaimana obat dan makanan punya tanggal
kedaluwarsa, barang elektronik juga punya usia hidup (lifetime). Usia
hidup televisi LCD, misalnya, sekitar 20.000-30.000 jam. Ia akan rusak
setelah dipakai melewati batas waktu itu. Uniknya lagi, jika dipakai
tidak sesuai petunjuk pemakaian, usia hidupnya bisa berkurang banyak.
Kedaluwarsa sebelum waktunya!

Usia hidup manusia pun ada batasnya. Rata-rata 70-80 tahun saja, menurut
pemazmur (ayat 10). Singkat sekali jika dibanding "masa hidup" Tuhan
yang tak terbatas (ayat 1,2). Seandainya manusia bisa hidup 1.000 tahun
pun, waktu sepanjang itu di mata Tuhan hanya sependek "giliran jaga
malam" (ayat 4). Tragisnya, masa hidup kita yang sudah singkat ini bisa
berkurang pula. Kematian bisa menjemput kapan pun, saat Tuhan berkata
"Kembalilah!" (ayat 3). Atau kalaupun usia hidup kita panjang, hari-hari
indahnya sedikit. Minim. Lebih banyak waktu kita habiskan dalam keluhan,
kesukaran, dan penderitaan yang tidak perlu, karena dosa yang tak
diselesaikan (ayat 8-10).

Anda ingin memakai tiap hari dengan bijak? Kenalilah "kekuatan murka
Tuhan" (ayat 11). Artinya, sadarilah bahwa hidup dalam dosa itu
menghabiskan waktu! Akibat dosa, kita harus menanggung hukuman yang
membuat hari-hari indah berubah menjadi suram. Terbuang percuma. Sayang,
bukan? Mari gunakan setiap hari secara hati-hati, sesuai petunjuk firman
Tuhan. Jangan sampai dosa membuat hidup Anda kedaluwarsa sebelum waktunya.

Berbuat dosa itu gampang

Namun, akibatnya berbuntut panjang

Penulis: Juswantori Ichwan

» Read more → Renungan 7 Mei 2010

Renungan 8 Mei 2010

Bersemangat Sampai Lelah
Baca: Markus 6:30-32
Ayat Mas: Markus 6:31, TB
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 4-6; Lukas 24:36-53

Rekan saya, seorang penulis, kena batunya. Apabila sedang terdorong
menulis, ia mengunci diri di ruang belajar agar dapat berkonsentrasi
menyelesaikan karya. Ia tidak mau diganggu, bahkan oleh istrinya. Sering
ia sampai lupa makan dan tidur. Suatu saat ia jatuh sakit. Pencernaannya
terganggu; lambungnya berdarah. Bisa diduga, itu akibat ia sering telat
makan dan kurang istirahat. Pelajaran pahit itu mengubah kebiasaannya.
Kini, ia tidak menulis dengan mengunci pintu kamar agar istrinya dapat
mengantarkan makanan pada waktunya. Ia juga tidak sering-sering lagi
begadang.

Yesus memahami bahayanya semangat kerja yang tidak seimbang. Pada awal
pelayanan-Nya, Dia mengutus murid-murid untuk melayani. Mereka pun pergi
dan dengan penuh semangat menjalankan pelayanan pertama mereka.
Sekembalinya, mereka mengerumuni Yesus, bergairah untuk menceritakan
pengalaman mereka. Namun, Yesus tampaknya tidak berlama-lama menyimak
laporan mereka. Dia malah menyuruh mereka segera mencari tempat sunyi
untuk beristirahat. Dia tidak ingin mereka terlalu bersemangat sampai
akhirnya kelelahan. Sebaliknya, Dia ingin mengajari mereka perlunya
menjaga ritme yang sehat antara bekerja dan beristirahat, suatu pola
yang akan menunjang mereka untuk melayani secara berkelanjutan.

Apabila firman ini datang kepada kita hari ini, berarti kita diberi
kesempatan untuk menata kembali irama hidup kita. Bagaimana jadwal dan
agenda kita? Luangkanlah waktu untuk beristirahat di tengah kesibukan
kerja. Jangan sampai kita terpaksa beristirahat gara-gara jatuh sakit!

Beristirahat secara memadai

mendukung kita bekerja secara lebih efektif

Penulis: Arie Saptaji

» Read more → Renungan 8 Mei 2010

Renungan 3 Mei 2010

Itulah Kehidupan
Baca: Matius 28:11-15
Ayat Mas: Matius 28:15
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-raja 14-15; Lukas 22:21-46

Sesudah kebangkitan-Nya, terdapat banyak kisah tentang penampakan Yesus
kepada para murid. Semuanya bermaksud menegaskan sebuah kebenaran:
Kristus sudah bangkit! Semuanya adalah cerita yang membawa berita
kebenaran. Namun, di antara kisah-kisah penampakan di dalam Injil
tersebut, Matius mencatat satu kisah dusta. Satu saja! Mengapa? Mengapa
satu kisah dusta ini "menyelip" dan mengusik agungnya kesaksian tentang
Yesus yang bangkit?

Pertama, "selipan" ini mau mengatakan bahwa serentak dengan
berkumandangnya sebuah berita kebenaran, akan selalu ada suara yang
melawannya. Suara yang menganggapnya sebagai kebohongan. Suara yang
menentang dengan menciptakan dusta. Perkataan yang benar
diputarbalikkan. Orang benar difitnah. Tindakan yang benar
dipersalahkan. Apabila kita melihat atau mengalami hal demikian, tak
usah heran. Yesus pun diperlakukan demikian. Itulah kehidupan.

Kedua, "selipan" ini mau mengingatkan bahwa suara kebenaran harus
digemakan berulang kali hingga terserap sampai ke hati. Sebaliknya,
sebuah dusta cukup dinyatakan satu kali untuk menyelewengkan kebenaran.
Perlu empat puluh hari untuk menegaskan kebenaran kebangkitan Tuhan
lewat penampakan dan pengajaran (Kisah Para Rasul 1:3). Sebaliknya,
hanya perlu satu keputusan rapat Mahkamah Agama untuk menyiarkan
kebohongan pencurian jasad-Nya. Kebaikan harus diajarkan berulang-ulang,
sedangkan kejahatan cukup ditularkan sekali saja. Kebiasaan baik
dibangun bertahun-tahun; kebiasaan buruk mengancamnya runtuh dalam
sehari. Itulah kehidupan ini.

Kebenaran harus diiringi dengan pendidikan berulang kali

untuk menangkal racun kebohongan yang hanya sekali

Penulis: Pipi Agus Dhali

» Read more → Renungan 3 Mei 2010

Renungan 4 Mei 2010

Menerima Teguran
Baca: Galatia 2:11-14
Ayat Mas: Amsal 6:23
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-raja 16-18; Lukas 22:47-71

Menerima teguran, sekalipun jelas-jelas kita ini salah dan patut
ditegur, biasanya tetap saja menimbulkan perasaan tidak enak dalam hati.
Itulah sebabnya banyak orang yang tidak suka, bahkan marah kalau
ditegur. Mereka lebih senang menerima pujian, walau hanya basa-basi.
Sikap "anti teguran" ini keliru. Sebab bagaimana pun kita tidak selalu
benar. Ada saatnya kita berbuat salah, dan karenanya membutuhkan teguran
supaya bisa memperbaiki diri.

Randy Pausch, dalam bukunya yang sangat terkenal, The Last Lecture,
menulis demikian, "Kalau Anda melihat diri Anda melakukan sesuatu yang
buruk dan sudah tidak ada lagi orang yang mau repot-repot memberi tahu
Anda, maka tempat itu tidak baik untuk Anda. Anda mungkin tidak ingin
mendapat teguran, tetapi orang yang menegur Anda kerap kali adalah
satu-satunya orang yang memberi tahu bahwa ia masih mengasihi dan
memedulikan Anda, dan ingin melihat Anda menjadi lebih baik."

Paulus menegur Petrus karena telah bersikap plin plan (ayat 12). Teguran
Paulus ini tentu saja dilandasi dengan maksud baik. Sebab kalau mau aman
sebetulnya Paulus bisa saja memilih diam dan membiarkan Petrus dengan
kesalahannya itu. Lagi pula, tidak ada untung apa-apa bagi Paulus dengan
menegur Petrus. Malah mungkin bisa disalahartikan.

Jadi, kalau kita mendapat teguran dari siapa pun, jangan buru-buru
merespons dengan sikap antipati. Apalagi dengan marah. Sebab bisa jadi
teguran itu justru sangat berguna buat kita. Lihat itu sebagai sebentuk
cara seseorang peduli dan mengasihi kita

Teguran yang membangun itu tanda kasih

Penulis: Ayub Yahya

» Read more → Renungan 4 Mei 2010

Renungan 5 Mei 2010

Kapal Doulos
Baca: Matius 4:18-25
Ayat Mas: Yohanes 21:25
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-raja 19-20; Lukas 23:1-25

Kapal Doulos dibuat pada 1914. Pada 2009, kapal ini tercatat sebagai
kapal tertua yang masih aktif berlayar. Dalam sejarahnya, kapal ini
telah dipakai untuk berbagai fungsi. Untuk mengangkut barang dan
imigran, juga sebagai kapal pesiar. Namun sejak 1977, kapal ini
dikhususkan untuk melayani Tuhan dengan menyalurkan buku-buku dan ilmu
pengetahuan ke berbagai daerah di dunia. Melaluinya, banyak hidup yang
telah disentuh dan diubahkan. Tak heran, ketika kapal ini akhirnya
dipensiunkan pada akhir 2009 lalu, banyak kenangan indah yang bisa
diceritakan seputar kapal tersebut.

Sepanjang masa hidup-Nya di dunia, Yesus juga menyentuh dan mengubah
hidup banyak orang. Baik para rasul yang selalu mengikuti-Nya, juga
semua orang yang pernah bertemu dan dilayani-Nya. Melalui ucapan,
perbuatan, maupun mukjizat-Nya; hidup mereka diubahkan, pengharapan
mereka dikukuhkan, iman mereka dikuatkan. Sedemikian luar biasa hidup
Yesus, sampai-sampai ketika Rasul Yohanes mengenang-Nya, ia mengakui
tidak mampu mencatat semua karya-Nya itu.

Kenangan apa yang akan kita tinggalkan ketika kelak meninggalkan dunia
ini? Akan sangat indah kalau kenangan yang ada di benak orang-orang
adalah bahwa hidup kita telah menjadi berkat bagi orang lain. Bahwa
hidup kita telah menyentuh dan mengubah hidup banyak orang. Karena itu,
arahkan hidup kita ke sana. Segera! Sebelum terlambat. Jangan sampai
akhirnya kita menutup hidup ini dalam penyesalan, karena sadar bahwa
ternyata hidup kita tidak berdampak. Bahwa tidak ada orang yang pernah
kita sentuh dan ubah.

Kenangan apa yang akan orang ingat tentang hidup kita

Kelak sesudah kita meninggal?

Penulis: Alison Subiantoro

» Read more → Renungan 5 Mei 2010

Renungan 1 Mei 2010

Fotogenik
Baca: 1 Korintus 13:8-13
Ayat Mas: 1 Korintus 13:12
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-raja 10-11; Lukas 21:20-38

Apakah wajah Anda terlihat lebih cantik di foto daripada aslinya? Itu
tandanya Anda fotogenik! Sebaliknya, jika Anda tidak terlihat lebih baik
di foto, berarti Anda tidak fotogenik. Namun, sebenarnya foto memang
tidak dapat menampilkan citra wajah kita seutuhnya, sebab lensa kamera
hanya melihat wajah dari satu sudut. Padahal mata kita melihat seseorang
dari berbagai sudut yang berbeda. Hasilnya, apa yang dilihat mata jauh
lebih utuh dari yang dilihat kamera. Lagi pula lensa kamera tidak dapat
menangkap karisma yang terpancar dari wajah. Jadi, sebuah foto bisa menipu!

Gambaran kita terhadap Allah juga tidak sempurna. Bagai hasil jepretan
kamera. Menurut Paulus, kita melihat-Nya "bagai gambaran yang
samar-samar". Tidak utuh. Gambaran kita tentang kasih Allah bisa keliru.
Misalnya, orang yang sedang ditimpa musibah beruntun sering merasa Allah
tidak lagi mengasihinya. Seorang anak manja mengira Allah mengasihi
hanya ketika permohonannya dikabulkan. Tidak utuhnya gambaran kita
terhadap Allah kadang membuat kita sulit memahami jalan dan
kehendak-Nya. Supaya tidak salah paham, kita perlu meninggalkan "sifat
kekanak-kanakan". Berhentilah memandang Allah hanya berdasar perasaan.
Belajarlah mengenal Tuhan secara objektif, lewat apa yang tertulis
tentang Dia dalam firman-Nya.

Gambaran keliru tentang Allah bisa menipu; membuat kita kecewa
kepada-Nya. Di sinilah pentingnya iman dan harapan. Yakinlah bahwa Allah
selalu lebih indah dari yang Anda bayangkan. Kasih-Nya bagi Anda jauh
lebih luas dan dalam dari dugaan Anda. Seluas dan sedalam samudra!

FOTO TUHAN YANG SEBENARNYA

SELALU JAUH LEBIH INDAH DARI GAMBARAN KITA

Penulis: Juswantori Ichwan

» Read more → Renungan 1 Mei 2010

Renungan 2 Mei 2010

Teladan Hidup
Baca: Efesus 6:1-4
Ayat Mas: Efesus 6:4
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-raja 12-13; Lukas 22:1-20

Puisi yang ditulis Inayah Wahid membuat trenyuh umat yang hadir di acara
peringatan tujuh hari wafatnya Gus Dur. "Karena Ayahku", judulnya.
"Kalau aku jadi orang dermawan, itu karena ayahku yang mengajarkan.
Kalau aku jadi orang toleran, itu karena ayahku yang menjadi panutan.
Kalau aku jadi orang beriman, itu karena ayahku yang menjadi imam. Kalau
aku jadi orang yang rendah hati, itu karena ayahku yang menginspirasi.
Kalau aku jadi orang yang bercinta kasih, itu karena ayahku yang memberi
tanpa pamrih. Kalau aku membuat puisi ini, itu karena ayahku yang rendah
hati."

Ironisnya, pada hari yang sama, muncul berita lain yang bertentangan
dengan peristiwa mengharukan di atas. Seorang pria Italia meludahi
jenazah ibunya yang disemayamkan di Swiss, lantaran menyimpan dendam.
Rupanya, semasa kecil ia sering dipukuli ibunya. Andai perasaan pria itu
dituliskan pula dalam bentuk puisi, mungkin kira-kira begini bunyinya:
"Kalau aku jadi orang pendendam, keras, dan tak mampu mengontrol diri,
itu karena orangtuaku yang mengajarkan."

Karakter anak terbentuk dari kebiasaan hidup sehari-hari bersama
orangtua dan orang-orang di sekitarnya. Dan, faktor dominan yang
membentuk karakter mereka ialah apa saja yang mereka lihat, alami, dan
rasakan dari orangtua khususnya pada usia anak-anak. Firman Tuhan
menasihati dan mengajak orangtua—sebagai manusia baru—agar waspada: "Dan
kamu, Bapak-bapak, janganlah bangkitkan kemarahan di dalam hati
anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan."
Ya, semua yang ditabur orangtua dalam hidup anak-anak hari ini, kelak
pasti akan dituai.

SEPERTI BONSAI MENGIKUTI BENTUK YANG DIMAUI PEMILIKNYA

BEGITULAH KARAKTER ANAK MENGIKUTI DIDIKAN ORANGTUANYA

Penulis: Susanto, S.Th.

» Read more → Renungan 2 Mei 2010