Baca: Efesus 6:1-4
Ayat Mas: Efesus 6:4
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-raja 12-13; Lukas 22:1-20
Puisi yang ditulis Inayah Wahid membuat trenyuh umat yang hadir di acara
peringatan tujuh hari wafatnya Gus Dur. "Karena Ayahku", judulnya.
"Kalau aku jadi orang dermawan, itu karena ayahku yang mengajarkan.
Kalau aku jadi orang toleran, itu karena ayahku yang menjadi panutan.
Kalau aku jadi orang beriman, itu karena ayahku yang menjadi imam. Kalau
aku jadi orang yang rendah hati, itu karena ayahku yang menginspirasi.
Kalau aku jadi orang yang bercinta kasih, itu karena ayahku yang memberi
tanpa pamrih. Kalau aku membuat puisi ini, itu karena ayahku yang rendah
hati."
Ironisnya, pada hari yang sama, muncul berita lain yang bertentangan
dengan peristiwa mengharukan di atas. Seorang pria Italia meludahi
jenazah ibunya yang disemayamkan di Swiss, lantaran menyimpan dendam.
Rupanya, semasa kecil ia sering dipukuli ibunya. Andai perasaan pria itu
dituliskan pula dalam bentuk puisi, mungkin kira-kira begini bunyinya:
"Kalau aku jadi orang pendendam, keras, dan tak mampu mengontrol diri,
itu karena orangtuaku yang mengajarkan."
Karakter anak terbentuk dari kebiasaan hidup sehari-hari bersama
orangtua dan orang-orang di sekitarnya. Dan, faktor dominan yang
membentuk karakter mereka ialah apa saja yang mereka lihat, alami, dan
rasakan dari orangtua khususnya pada usia anak-anak. Firman Tuhan
menasihati dan mengajak orangtua—sebagai manusia baru—agar waspada: "Dan
kamu, Bapak-bapak, janganlah bangkitkan kemarahan di dalam hati
anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan."
Ya, semua yang ditabur orangtua dalam hidup anak-anak hari ini, kelak
pasti akan dituai.
SEPERTI BONSAI MENGIKUTI BENTUK YANG DIMAUI PEMILIKNYA
BEGITULAH KARAKTER ANAK MENGIKUTI DIDIKAN ORANGTUANYA
Penulis: Susanto, S.Th.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar