Tampilkan postingan dengan label Renungan Juni 2010. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Juni 2010. Tampilkan semua postingan

Renngan 28 Juni 2010

Terjun Bebas
Baca: Ratapan 3:19-27
Ayat Mas: Ratapan 3:22,23
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 11-13; Kisah Para Rasul 9:1-21

Selama 45 tahun, hidup Ken Karpman nyaris sempurna. Ia lulus dari salah
satu universitas terbaik di Amerika dan menikah dengan gadis impiannya.
Kariernya sebagai pialang saham terus menanjak dan memberinya
penghasilan hingga Rp8,8 miliar per tahun. Lalu tibalah saat itu. Tahun
2008 resesi menghantam perekonomian Amerika. Hidup Karpman pun "terjun
bebas" dalam sekejap. Ia kehilangan pekerjaan, tabungan, dan hartanya.

Guna menghidupi keluarga, Karpman mengambil langkah drastis. Ia melamar
pekerjaan sebagai pengantar piza dengan penghasilan yang amat pas-pasan,
bahkan untuk orang kebanyakan. Kehidupannya pun berubah 180 derajat,
tetapi ia tidak menyesalinya, "Ini hanya sebuah proses. Saya mensyukuri
tiap sen yang saya dapat. Ada pelajaran berharga dari setiap potong piza
yang saya antar, yaitu kerendahan hati."

Yeremia juga pernah merasakan perubahan drastis ketika bangsa Israel
ditaklukkan Babel. Yerusalem hancur. Semua berubah dalam sekejap. Dari
bangsa merdeka, menjadi bangsa terjajah. Patah arangkah Yeremia? Tidak.
Ia sungguh percaya Tuhan tidak pernah meninggalkan bangsanya. Karena itu
ia tetap bisa melihat karya Tuhan, "Tak berkesudahan kasih Tuhan, tak
habis-habisnya rahmat-Nya," begitu ia berkata.

Hidup di dunia ini memang serba tidak pasti. Apa yang ada kini, bisa
tiba-tiba hilang tak berbekas. Hari ini kita berhasil, besok gagal.
Usaha yang semula maju mendadak bangkrut. Kita semula sehat, tiba-tiba
sakit. Namun, tak usah khawatir. Sejauh kita berjalan bersama Tuhan,
semua itu takkan "melumpuhkan" kita. Bersama Tuhan, kita akan siap
menghadapi perubahan apa pun yang terjadi.

KETIKA MENGALAMI PERUBAHAN DRASTIS DALAM HIDUP

INGATLAH KASIH SETIA TUHAN TAK PERNAH BERUBAH

Penulis: Ayub Yahya

» Read more → Renngan 28 Juni 2010

Renungan 29 Juni 2010

Jika Sudah Normal?
Baca: Pengkhotbah 11:1-7
Ayat Mas: Pengkhotbah 11:4
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 14-16; Kisah Para Rasul 9:22-43

Sejak ditinggal mati suaminya, Desi kehilangan semangat hidup. Ia tidak
lagi tertarik untuk berolahraga atau merawat tubuh seperti dulu. Ia
selalu berpikir, "Nanti jika situasinya sudah kembali normal, aku akan
berolahraga lagi." Tiga tahun berlalu dan Desi merasa situasinya belum
berubah. Tiba-tiba ia tersadar, "Jika aku tidak mulai berusaha melakukan
apa yang masih bisa kulakukan, situasi tidak akan kembali menjadi
normal!" Ia pun memutuskan untuk kembali beraktivitas, lalu semua
menjadi normal lagi.

Pengkhotbah menyatakan bahwa situasi yang kita hadapi kerap tidak ideal.
Tidak normal. Investasi yang kita tanam belum tentu langsung membuahkan
hasil (ayat 1). Pemberian kita kepada orang lain belum tentu bisa
menolongnya keluar dari musibah (ayat 2). Cuaca dan arah angin hari ini
mungkin tidak ideal untuk menabur benih. Apa pun yang kita lakukan
selalu punya risiko untuk gagal. Namun, jauh lebih baik kita berusaha
berbuat sesuatu ketimbang terus menunggu situasi hingga menjadi ideal.
Jika kita selalu menanti "saat yang tepat" untuk bertindak, kita akan
menunggu selamanya tanpa hasil apa pun! Lebih baik kalah setelah
mencoba, daripada menyerah sebelum berusaha.

Apakah Anda merasa beban persoalan membuat hidup Anda menjadi "tidak
normal"? Jangan menunggu semuanya menjadi normal kembali. Bisa jadi Anda
tidak akan pernah bisa mengalami hidup seperti dulu. Pengalaman hidup
kerap mengubah diri dan lingkungan kita. Jadi, lebih baik lakukan saja
apa yang bisa Anda lakukan hari ini. Allah akan menolong dan memberi
"rasa normal" yang baru!

SITUASI HIDUP KITA SELALU NORMAL

SAAT KITA DIGANDENG OLEH LENGAN YANG KEKAL

Penulis: Juswantori Ichwan

» Read more → Renungan 29 Juni 2010

Renungan 30 Juni 2010

Oscar dan Razzie
Baca: 2 Korintus 12:1-10
Ayat Mas: 2 Korintus 12:7
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 17-19; Kisah Para Rasul 10:1-23

Di Hollywood, ada penghargaan bidang perfilman, yaitu Piala Oscar untuk
menghargai kinerja terbaik, ada pula piala Razzie untuk mengganjar
kinerja terburuk. Pada Maret 2010, Sandra Bullock menjadi aktris pertama
yang mendapatkan kedua piala itu pada tahun yang sama. Ia memperoleh
Razzie sebagai aktris terburuk karena penampilannya di film All About
Steve, lalu meraih Oscar sebagai aktris terbaik untuk perannya di The
Blind Side. Sandra memajang kedua piala itu di rak yang sama di
rumahnya. Ia menganggap piala Razzie sebagai penetral yang hebat. "Piala
itu mengingatkan saya agar tidak membusungkan dada menyombongkan diri."

Kehidupan iman Paulus melewati masa-masa cerah dan juga masa-masa suram.
Menurut sejumlah penafsir, "seseorang" yang disebut Paulus pada ayat 2–5
itu tidak lain adalah dirinya sendiri. Ia menjalani suatu pengalaman
rohani yang dahsyat, diangkat ke Firdaus, dan mendapatkan penyataan dan
penglihatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Namun, selain
pengalaman hebat itu, Tuhan juga memberinya pengalaman buruk. Tidak
jelas benar apa yang dimaksudkan Paulus dengan duri dalam dagingnya itu.
Yang jelas, duri itu suatu kelemahan yang mencegahnya agar tidak
menyombongkan diri, tetapi malah mendorongnya bersandar pada anugerah Allah.

Adakah "duri" yang terus mengganggu kita? Kita berusaha sekuat tenaga
untuk menyingkirkannya, tetapi tidak berhasil juga. Mungkin Tuhan
mengizinkannya untuk mengingatkan kita akan kemanusiaan dan kebutuhan
kita akan anugerah-Nya. Seperti Paulus, kita dapat belajar menerimanya
secara rela dan lapang dada.

DALAM KEMURAHAN ANUGERAH TUHAN

KELEMAHAN DAPAT BERUBAH MENJADI KEKUATAN

Penulis: Arie Saptaji

» Read more → Renungan 30 Juni 2010

Renungan 27 Juni 2010

Kristus Rumah Kita
Baca: Yohanes 15:1-8
Ayat Mas: Yohanes 15:4
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 8-10; Kisah Para Rasul 8:26-40

Dalam bahasa Inggris ada kata house dan home. Namun, kita hanya mengenal
kata "rumah" untuk menerjemahkan keduanya. House ialah bangunan fisik
tempat tinggal, adapun home mengacu pada hubungan yang penuh makna
antara manusia dan tempat huniannya. Home mewakili tempat yang paling
membuat kita kerasan di dunia ini.

Itulah kira-kira yang dimaksudkan Yesus tatkala Dia menghendaki agar
kita tinggal di dalam Dia. Dalam bahasa Yunani, kata tinggal itu
memiliki konteks yang luas. Berkaitan dengan tempat, tinggal berarti
menetap; berdiam; tidak meninggalkan; senantiasa hadir. Berkaitan dengan
waktu, tinggal berarti berlangsung terus-menerus; bertahan;
berjaga-jaga; tidak binasa; langgeng. Berkaitan dengan keadaan, tinggal
berarti tetap seperti semula; tidak berubah. Selain itu, tinggal juga
berarti menantikan seseorang. Dengan memadukan berbagai pengertian
tersebut, tinggal di dalam Kristus dapat dimaknai sebagai "menjadikan
Kristus sebagai rumah kita selama-lamanya".

Lalu, bagaimana kita tinggal di dalam Kristus? Kita dapat menemukan
jawabannya melalui makna rumah (home). Rumah ialah tempat hati kita
tertuju, tempat kita pulang tatkala rindu. Di rumah, kita rehat untuk
mendapatkan pemulihan dan penyegaran. Di rumah, kita merasa nyaman dan
leluasa menjadi diri sendiri. Di rumah, kita menemukan keamanan dan
ketenteraman. Di rumah pula, kita bersekutu dengan orang-orang yang kita
kasihi dan melakukan hal-hal yang kita senangi. Singkatnya, rumah
menjadi pusat aktivitas hidup kita. Nah, apakah kita menjadikan Kristus
sebagai "rumah" kita?

DI DALAM KRISTUS KITA TINGGAL SELAMA-LAMANYA:

BERAKAR, BERTUMBUH, DAN BERBUAH BAGI KEMULIAAN BAPA

Penulis: Arie Saptaji

» Read more → Renungan 27 Juni 2010