Tampilkan postingan dengan label Renungan Januari 2011. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Januari 2011. Tampilkan semua postingan

Renungan 4 Januari 2011

Batas
Baca: Yosua 15:1-12
Ayat Mas: Mazmur 119:59
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 10-12

Siapa yang tidak suka bermain? Sejak kecil kita akrab dengan kegiatan
bermain. Permainan fisik, misalnya olahraga. Permainan otak yang
mendidik. Atau, permainan yang membangun kebersamaan. Semua permainan
memiliki aturan main. Ada batas-batas yang mengendalikannya. Lapangan
badminton punya garis pembatas. Sepakbola punya batas waktu.
Langkah-langkah tertentu membatasi permainan di papan catur. Permainan
kelereng pun dibatasi cara bermain yang disepakati bersama. Melanggar
batas berarti mengacau permainan, dan akan kena sanksi.

Kitab Yosua sampai pasal 13 mengisahkan bagaimana Israel—dipimpin
Yosua—memasuki Kanaan. Bertempur di medan laga. Namun, memasuki pasal 14
dan seterusnya, suasana berubah. Mereka memasuki periode kehidupan yang
lain. Tahap yang baru. Saatnya menata kehidupan bersama. Maka, Tuhan
menuntun Yosua mengatur batas wilayah bagi masing-masing suku. Dari
kehidupan mengembara di padang liar tanpa batas, mereka belajar hidup
bersama dalam batas-batas yang harus dihormati di Tanah Perjanjian.
Batas-batas itu kelak menentukan hak, warisan, dan pusaka masing-masing.
Dan, agar tidak kacau, sejak semula batas-batas sudah ditegaskan dan
ditegakkan.

Tuhan mencipta kita dengan banyak aspek hidup yang masing-masing juga
ada batasnya. Kehidupan bersama akan berjalan baik hanya jika
batas-batas itu disadari, dihormati, dipelihara. Makan ada batasnya.
Berbicara ada batasnya, tak asal buka mulut. Bekerja mengenal batas
kemampuan, waktu, peraturan. Pergaulan sehat dibatasi kesopanan dan tata
susila. Hidup ini seperti sebuah permainan, semua harus bermain dalam
batas-batas aturan mainnya.

SUDAHKAH KITA MENYADARI, MENGHORMATI

DAN MEMELIHARA BATAS-BATAS DALAM KEHIDUPAN KITA?

Penulis: Pipi Agus Dhali

» Read more → Renungan 4 Januari 2011

Renungan 5 januari 2011

Rela Diganggu
Baca: Matius 14:13-16
Ayat Mas: Matius 14:14
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 13-15

LaShanda Calloway sedang berbelanja di sebuah pertokoan di Wichita,
Kansas, saat ia bertengkar dengan seseorang. Tiba-tiba sebuah pisau
menusuk tubuhnya. Ia terkapar sekarat di lorong pertokoan itu. Hasil
rekaman kamera pemantau menunjukkan, selama masa kritis, ada lima orang
yang melangkahi tubuhnya, lalu asyik melanjutkan belanja. Satu orang
berhenti sebentar, memotretnya dengan kamera telepon genggam, lalu
meninggalkannya. Pada jam sibuk itu, tak seorang pun tergerak menolong.
Akhirnya, Calloway mati.

Kesibukan kerap membuat kita tak sudi diganggu. Dengan alasan "jadwal
padat", kita menutup telinga terhadap jeritan sesama. Ini bertolak
belakang dengan sikap Yesus. Suatu hari Dia sangat lelah lahir dan
batin. Baru saja datang kabar duka: Yohanes Pembaptis dibunuh. Hati-Nya
gundah. Dia ingin "mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang
sunyi". Tak mau diganggu. Namun, orang banyak terus mengikuti-Nya. Yesus
tak bisa bersikap tidak peduli. Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan.
Rencana pun diubah total. Dia melayani mereka. Murid-murid-Nya pun
diajak bersikap demikian. Ketika mereka mengusulkan agar orang-orang itu
dipulangkan saja, Yesus menolak. Kata-Nya, "Kamu harus memberi mereka
makan."

Yesus rela diganggu. Apakah Anda juga begitu? Mudahkah hati Anda
tergerak oleh rasa belas kasihan, ketika melihat orang yang sangat
membutuhkan kehadiran dan perhatian Anda? Ataukah dengan alasan sibuk,
Anda jalan terus dengan rencana semula—tanpa rasa bersalah, seperti lima
orang yang melangkahi tubuh Calloway?

BERBAHAGIALAH ORANG YANG SIAP DIGANGGU

KARENA IA BISA MENYENTUH HIDUP SESAMA

Penulis: Juswantori Ichwan

» Read more → Renungan 5 januari 2011

Renungan 6 Januari 2011

Tidak Harus Spektakuler
Baca: 1 Raja-raja 19:9-13
Ayat Mas: 1 Raja-raja 19:12
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 16-18

Seorang teman saya berkata, "Hidup saya ini biasa-biasa saja. Saya tidak
pernah merasakan pengalaman rohani yang luar biasa; sesuatu yang
menakjubkan, yang bisa membuat saya atau orang lain yang tahu
tercengang. Karena itu, tidak ada yang bisa saya ceritakan sebagai
kesaksian." Bisa jadi banyak orang seperti teman saya itu, yang
menganggap pengalaman rohani, atau pengalaman dengan Tuhan, mesti dalam
wujud kejadian-kejadian yang luar biasa, hebat, di luar akal. Misalnya,
sembuh dari sakit parah, ketika sang dokter sendiri sudah angkat tangan,
setelah didoakan Pendeta Anu. Atau, selamat dari kecelakaan fatal
setelah menyerukan nama Tuhan Yesus berulang-ulang. Pokoknya kejadian
yang spektakuler.

Padahal, sebetulnya pengalaman dengan Tuhan juga bisa kita nikmati dalam
peristiwa biasa dan sehari-hari. Seperti yang digambarkan dalam bacaan
Alkitab hari ini. Elia sangat tertekan karena hidupnya terancam. Ia lalu
melarikan diri ke Gunung Horeb. Dikatakan, datanglah angin besar dan
kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecah bukit-bukit. Namun, tidak
ada Tuhan di sana (ayat 11). Begitu juga dalam gempa dan api, tidak ada
Tuhan di sana. Sampai kemudian datanglah angin sepoi-sepoi, dan Elia
merasakan kehadiran Tuhan (ayat 12,13).

Ya, melalui kejadian-kejadian keseharian kita pun dapat merasakan
pengalaman dengan Tuhan. Seperti ketika kita bangun dari tidur dan
menghirup udara segar, atau ketika melihat anak-anak yang tengah bermain
gembira. Masalahnya, maukah kita membuka mata hati kita untuk melihat
dan merasakan kehadiran Tuhan di sana?

KEHADIRAN TUHAN BISA KITA RASAKAN DAN ALAMI

DALAM KEJADIAN SEHARI-HARI

Penulis: Ayub Yahya

» Read more → Renungan 6 Januari 2011

Renungan 1 Januari 2011

Beban atau Harapan?
Baca: Keluaran 16:1-18
Ayat Mas: Ratapan 3:22,23
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 1-3

Memasuki tahun baru, apa yang ada dipikiran Anda? Bersyukur? Atau,
justru gentar menghadapi tantangan zaman yang kian berat? Ancaman global
warming, bencana alam, krisis ekonomi maupun politik, terus-menerus
melanda. Bagaimana kita sebagai anak Tuhan menyikapi
pergumulan-pergumulan pada tahun yang baru ini?

Keluaran 16 bercerita tentang bangsa Israel yang bersungut-sungut karena
kehabisan perbekalan setelah dua bulan berjalan di padang gurun (ayat
2). Mereka menuduh Musa dan Harun membawa mereka ke padang gurun hanya
untuk membunuh mereka dengan kelaparan (ayat 3). Tuhan mendengar keluhan
dan omelan mereka. Sejak itu, Dia mengirimkan manna untuk mereka setiap
pagi—kecuali pada hari Sabat—selama 40 tahun (ayat 35).

Ada dua hal yang bisa kita pelajari dari pengalaman bangsa Israel ini.
Pertama, ketika masalah datang, janganlah kita bersungut-sungut dan
menyalahkan orang lain. Itu tiada guna, bahkan mendukakan hati Tuhan.
Kedua, krisis yang terjadi di hidup manusia merupakan kesempatan bagi
Tuhan untuk menunjukkan pemeliharaan-Nya. Manna turun setelah perbekalan
orang Israel habis. Tuhan kerap kali mengizinkan krisis mengimpit kita
supaya kita lebih menyadari kasih dan kuasa-Nya. Tuhan melakukan itu
karena secara manusiawi, kita cenderung tidak mau berserah kepada-Nya
sebelum benar-benar terpojok.

Setiap pagi ketika kita bangun tidur dan pikiran akan beban-beban yang
ada di hadapan memasuki otak kita, ingatlah bahwa Tuhan memberikan hari
yang baru untuk sekali lagi Dia menyatakan kasih kepada kita lewat
segala yang Dia izinkan terjadi.


APA PUN MUNGKIN TERJADI DALAM HIDUP KITA

NAMUN TUHAN TIDAK MEMBIARKAN KITA BERJALAN SENDIRIAN

Penulis: Grace Suryani

» Read more → Renungan 1 Januari 2011

Renungan 2 januari 2011

Tidak Menghiraukan
Baca: Zakharia 1:1-6
Ayat Mas: Zakharia 1:4
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 4-6

Ada beberapa kata dalam bahasa Ibrani yang mewakili kata mendengar. Dua
di antaranya adalah qashab dan azan. Kedua kata ini memiliki pengertian
harfiah yang mirip, yakni "memberikan telinga" untuk mendengar dan
memperhatikan. Juga berhubungan dengan kata "taat dan mengambil
tindakan". Jadi, bukan sekadar mendengar, melainkan juga memperhatikan
dengan saksama dan menanggapinya dengan ketaatan dan tindakan.

Salah satu dosa nenek moyang bangsa Israel yang diungkapkan oleh
Zakharia adalah "tidak mendengar". Bahkan, tidak juga berarti "masuk
telinga kanan keluar telinga kiri", sebab itu pun masih termasuk
aktivitas mendengar walau tidak memperhatikan dan menaati. Dosa nenek
moyang Israel adalah tidak menghiraukan. Mereka tidak menggubris firman
Tuhan, mengabaikan dan menganggapnya tidak penting. Dan, itulah yang
membuat mereka tidak mau berbalik kepada Tuhan.

Ada tiga kelompok orang berkaitan dengan mendengar. Pertama, orang yang
mendengar dan memperhatikan lalu menanggapinya dengan ketaatan. Kedua,
orang yang mendengar, tetapi setelah itu lupa apa yang didengar. Ketiga,
orang yang sama sekali tidak menghiraukan. Termasuk kelompok manakah
Anda? Cara paling mudah untuk menilainya adalah tatkala kita sedang
mendengarkan firman Tuhan dalam ibadah. Apakah kita antusias
mendengarkan firman Tuhan karena membutuhkan petunjuk hidup baru? Atau,
kita hanya mendengar lalu lupa setelah keluar dari pintu gereja? Atau,
jangan-jangan kita lebih asyik bermain handphone atau membaca warta
jemaat tatkala firman Tuhan disampaikan? Silakan menguji diri sendiri

KITA TIDAK DAPAT MEMISAHKAN KORELASI

ANTARA MENDENGAR, MEMPERHATIKAN, MENTAATI, DAN BERTINDAK

Penulis: Riand Yovindra

» Read more → Renungan 2 januari 2011

Renungan 3 Januari 2010

Malas Bekerja
Baca: 2 Tesalonika 3:1-15
Ayat Mas: Amsal 18:9
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 7-9

Seorang pemuda mencatat kegiatannya sepanjang hari. Ini hasilnya: pukul
6.00 berbenah, berangkat kerja pukul 7.00. Tiba di kantor pukul 8.00,
membuka e-mail dan membaca berita. Pukul 9.00 berhenti untuk mengobrol
dan baru bekerja pukul 10.00. Pukul 10.30 menikmati kudapan dan kembali
bekerja pukul 11.30. Pukul 11.30 bersiap makan siang, keluar pukul 12.00
untuk makan, kemudian kembali bekerja pukul 13.00 sambil mengantuk atau
mengobrol. Pukul 15.00, kudapan lagi. Lalu 30 menit berikutnya bersiap
pulang. Pulang pukul 16.00. Sesampainya di rumah pada pukul 17.00, ia
gunakan untuk bersantai. Makan malam pukul 19.00, dilanjut bermain video
game atau menonton televisi. Baru berangkat tidur pukul 23.00. Jadi,
total ia bekerja hanya sekitar 3 jam setiap hari, belum dipotong waktu
mengantuk dan mengobrol.

Dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika, Paulus memperingatkan
orang-orang yang malas bekerja. Di sana, sebagian jemaat menjadi malas
bekerja karena "menantikan kedatangan Yesus kembali" (1 Tesalonika
2:1-12). Paulus tidak mengatakan bahwa pengharapan ini salah. Namun, ia
menasihati mereka agar tidak menjadikan hal itu alasan untuk malas
bekerja. Sebab, selama manusia masih diberi kesempatan hidup di dunia,
ia tetap harus bekerja agar layak untuk makan (ayat 10).

Secara seimbang, Tuhan memerintahkan kita beristirahat dan menikmati
hasil pekerjaan kita. Namun, kita bertanggung jawab mengerjakan tugas
kita dengan setia di hadapan Tuhan. Kemalasan adalah pengingkaran
terhadap tanggung jawab tersebut. Selain itu, seperti kata penulis
Amsal, kemalasan itu merusak hidup kita

BEKERJA DENGAN RAJIN

ADALAH BAGIAN DARI IBADAH KITA

Penulis: Alison Subiantoro

» Read more → Renungan 3 Januari 2010