Baca: Lukas 16:19-31
Ayat Mas: Mazmur 41:2
Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 45-46; 1 Yohanes 2
Film garapan James Cameron, Titanic, melukiskan tragedi tenggelamnya
kapal pesiar raksasa yang memakan korban ribuan jiwa pada malam dingin
di tengah Samudra Atlantik. Di hari tuanya, seorang saksi hidup, Rose
Calvert, mengenang tragedi itu dan berkomentar dalam sinisme pedih:
"Malam itu ada 1.500 orang tewas bersama tenggelamnya kapal. Hanya 6
jiwa yang berhasil diselamatkan, termasuk aku. Padahal ada 20 kapal
sekoci di dekat kami, yang sebenarnya masih bisa menampung penumpang,
tetapi mereka diam dan menunggu. Menunggu pertolongan lain datang dan
menunggu satu per satu jiwa melayang …."
Tragedi selalu ada. Namun, ada tragedi yang sebetulnya tak perlu
terjadi. Paling tidak, tak perlu separah itu, asal ada orang yang mau
berbuat sesuatu. Kematian tragis Lazarus dalam perumpamaan Yesus ini
adalah contohnya. Mati karena sakit dan lapar, sementara di dekatnya ada
orang kaya yang punya segala kesempatan dan potensi untuk menolong.
Namun, ternyata ia tidak berbuat apa-apa, sampai terjadi tragedi itu.
"Kemudian matilah orang miskin itu …" (ayat 22).
Mengapa ia tidak berbuat sesuatu? Adegan di alam maut menjawabnya. Ia
tak pernah tahu rasanya kesakitan. Baru di situ ia tahu rasa! Tahu benar
perihnya kulit terbakar dan keringnya kerongkongan karena dahaga (ayat
24). Sayang, sudah terlambat. Andai waktu masih hidup ia tahu sakitnya
penderitaan Lazarus, mau peduli dan berempati, ceritanya akan lain.
Belum terlambat bagi kita untuk berempati dan peduli. Masih banyak
"Lazarus" yang menanti seseorang berbuat sesuatu. Daripada menunggu,
lebih baik berbuat sesuatu
JANGAN BIARKAN TRAGEDI TERJADI
HANYA KARENA KITA TIDAK MAU BEREMPATI DAN PEDULI
Penulis: Agus Santosa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar