Renungan 16 September 2010

Ban Serep
Baca: Efesus 6:10-20
Ayat Mas: Efesus 6:18
Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 25-26; 2 Korintus 9

Diana adalah wanita karier. Setiap hari hidupnya lekat dengan setir
kemudi. Ia biasa menyetir sendiri mobil sedannya ke mana-mana. Suatu
hari ban mobilnya bocor di jalan tol. Segera ia menelepon teman untuk
minta bantuan. "Di mobilmu pasti ada ban serep," seru temannya, "Tahukah
kamu cara memasangnya?" Diana menjawab: "Jangankan memasangnya, di mana
letak ban serep itu saja aku tidak tahu!" Ban serep memang jarang
diperhatikan. Ia baru diingat dan dicari saat kondisi sedang darurat.

Sama halnya dengan doa. Orang sering memandang doa sebagai ban serep.
Mereka tekun berdoa saat hidup sudah terasa tidak karuan. Begitu jalan
hidup kembali lapang, doa pun menghilang. Sikap ini bertentangan dengan
pandangan Rasul Paulus. Ia memandang doa sebagai "senjata Allah". Doa
harus terus dikenakan agar orang beriman dapat bertahan dalam godaan. Ia
harus dinaikkan "setiap waktu" (ayat 18). Kata "waktu" di sini memakai
istilah kairos yang berarti kesempatan. Jadi, berdoalah pada setiap
kesempatan yang muncul. Berdoa setiap waktu bukan berarti 24 jam kita
harus melipat tangan dan menutup mata, melainkan terus hidup dalam
kontak batin dengan Tuhan. Menyadari kehadiran-Nya. Doa harus dijadikan
setir kemudi. Sesuatu yang utama, penting, dan mengendalikan sepak
terjang kita. Dengan hidup dalam suasana doa, Tuhan bisa memimpin kita
berkata dan bertindak sesuai kehendak-Nya. Kita bisa terus sehati
sepikir dengan-Nya (ayat 19,20).

Cobalah periksa kehidupan doa Anda akhir-akhir ini. Bagi Anda, apakah
doa menjadi sekadar ban serep, atau menjadi setir kemudi yang
mengendalikan arah hidup Anda?

BERDOA SETIAP WAKTU

MENGHINDARKAN KITA DARI MASALAH YANG TIDAK PERLU

Penulis: Juswantori Ichwan

Tidak ada komentar: