Baca: Kisah Para Rasul 11:1-18
Ayat Mas: Matius 5:47
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 77-78; Roma 10
Apa yang Anda lakukan saat berada dalam lift yang penuh sesak? Anda akan
menunduk, menatap pintu, atau mengutak-ngatik telepon genggam. Anda
menghindari kontak mata, karena merasa tidak nyaman berdekatan dengan
orang asing. Ini bukti bahwa tiap orang memiliki boundary: tembok
pembatas tak terlihat di sekeliling tubuhnya. Jika seorang asing
mencoba mendekat, secara refleks tubuh akan resah dan bergerak menjauh
sampai ke "jarak aman". Tidak heran kita hanya merasa nyaman berada
dalam lingkungan keluarga dan teman. Lingkaran kasih kita sempit.
Jemaat mula-mula juga hidup dalam lingkaran kasih yang sempit. Sebagai
orang Yahudi, mereka enggan bergaul dengan orang non-Yahudi. Mereka
keberatan Petrus pergi ke rumah orang non-Yahudi dan melakukan
pembaptisan. Hal itu dianggap najis. Petrus lalu menjelaskan bahwa
pembedaan antara yang najis dan halal kini telah dihapuskan Tuhan (ayat
5-9). Kepada Petrus, Tuhan juga menunjukkan bahwa orang non-Yahudi pun
mendapat lawatan Roh yang sama seperti yang mereka alami (ayat 15-17).
Cara pandang Petrus berubah. Pengalaman ini memperluas lingkaran kasihnya.
Lingkaran kasih kita perlu diperluas dengan meruntuhkan tembok pembatas
yang membuat kita malas menjangkau orang asing. Ini tidak bisa terjadi
dengan sendirinya. Kita perlu berjuang mengatasi rasa tidak nyaman.
Lalu, membangun jembatan persahabatan dengan orang di sekitar yang
berbeda suku, agama, budaya, maupun status sosialnya. Jika kita tidak
mau keluar dari zona nyaman, bagaimana orang bisa mendengar berita
keselamatan?
KITA BISA MENJADI BERKAT
HANYA SELUAS LINGKARAN KASIH YANG KITA BUAT
Penulis: Juswantori Ichwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar