Baca: 2 Samuel 9
Ayat Mas: 2 Samuel 5:8
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 1,2; Kisah Para Rasul 7:22-43
Pengalaman buruk tertentu bisa membuat orang sentimen setengah mati
kepada sesuatu atau seseorang. Sebagai contoh, karena pernah ditipu
orang dari suku tertentu, seseorang menjadi benci pada semua orang dari
suku itu; gusar pada segala hal yang berbau suku tersebut. Padahal itu
penyamarataan yang keliru.
Dulu, ketika hendak menyerang Yerusalem, Daud pernah dihina orang Yebus,
penduduk Yerusalem. Mereka menyebutnya pecundang; yang akan dikalahkan
orang-orang buta dan timpang. Daud pun merasa harga dirinya
diinjak-injak. Dan sejak itu, ia menjadi benci pada orang-orang timpang
dan buta (2 Samuel 5:8). Namun, di kemudian hari Tuhan mengizinkan
sesuatu yang aneh terjadi. Ketika ia bertekad memenuhi janji kepada
sahabatnya Yonatan yang telah meninggal, yaitu menunjukkan kasih kepada
keturunannya, dibawalah kepadanya anak Yonatan yang bernama
Mefiboset—yang timpang kakinya! Demi membuktikan tekadnya untuk
mengasihi, setiap hari Daud makan semeja dengannya. Lantas kita katakan:
Daud kena batunya.
Perasaan sentimen bisa jadi cukup akrab dengan kita. Padahal perasaan
itu menghalangi kita untuk bersikap adil dan mengasihi. Sentimen membuat
kita cenderung menyamaratakan; pukul rata saja. Akibatnya, mungkin ada
pihak tak bersalah yang jadi sasaran. Belum lagi jika perasaan sentimen
itu kita tularkan pada orang-orang di sekeliling kita. Semua jadi ikut
curiga, takut, dan tendensius akibat sebuah sentimen pribadi.
Mari bersikap lebih jujur dan adil dengan belajar mengatasi sentimen
pribadi. Tak perlu menunggu sampai Tuhan mengizinkan pengalaman serupa
Daud terjadi pada kita, bukan?
KASIH KERAP KALI PERLU DITUNJUKKAN DENGAN BUKTI
KHUSUSNYA PADA ORANG YANG KITA KECUALIKAN UNTUK DIKASIHI
Penulis: Pipi Agus Dhali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar