Baca: Roma 14:1-12
Ayat Mas: Roma 15:7
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 23-24; Lukas 19:1-27
Seorang raja berjalan kaki melihat keadaan negerinya. Di jalan, kakinya
terluka karena terantuk batu. "Jalanan di negeriku amat buruk. Aku harus
memperbaikinya," begitu pikirnya. Maka, ia memerintahkan agar seluruh
jalan di negerinya dilapisi dengan kulit sapi yang terbaik. Persiapan
mengumpulkan sapi-sapi di seluruh negeri dilakukan. Di tengah kesibukan
luar biasa itu, seorang pertapa menghadap raja dan berkata, "Wahai
Paduka, mengapa Paduka mengorbankan sekian banyak kulit sapi untuk
melapisi jalan-jalan negeri ini, padahal yang Paduka perlukan hanya dua
potong kulit sapi untuk melapisi telapak kaki Paduka?" Konon sejak itu
orang menemukan kulit pelapis telapak kaki, yaitu sandal.
Jemaat di kota Roma heboh, karena pertikaian antarkelompok yang beradu
tuntutan. Pihak yang satu menuntut yang lain "jangan menyantap makanan
yang dipersembahkan kepada berhala" sambil menghakimi para pelanggarnya.
Pihak yang lain balas menuntut lawannya agar bersikap lebih dewasa
sambil menghinanya sebagai "si lemah iman". Paulus menasihati mereka
agar membalikkan arah tuntutan itu, dari pihak lain menuju ke diri
sendiri. Alih-alih menuntut orang lain, kita mesti mengubah persepsi
kita sendiri. Yaitu, menerima sesama sebagaimana Tuhan sudah menerima
mereka.
Manusia cenderung punya pengharapan yang berlebihan terhadap orang lain.
Pengharapan itu bisa menjadi tuntutan, bahkan tuntutan yang tidak wajar
lagi. Akibatnya, pertikaian heboh pun terjadi. Entah di rumah, di
kantor, atau di gereja. Kita mau mengubah dunia, padahal yang kita
perlukan adalah mengubah persepsi kita tentang dunia.
Menyelesaikan persoalan kerap kali bukan dengan menuding pihak lain
melainkan dengan memperbaiki persepsi kita sendiri
Penulis: Pipi Agus Dhali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar