Tampilkan postingan dengan label Renungan April 2010. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan April 2010. Tampilkan semua postingan

Renungan 25 April 2010

Kehadiran Tuhan
Baca: Mazmur 11: 1-7
Ayat Mas: Mazmur 11:4
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 21-22; Lukas 18:24-43

Seorang pembimbing Komisi Remaja di gereja asal saya, selalu memulai
doanya dengan khas. Awalan doa itu sudah belasan tahun lalu saya dengar
dan masih sama sampai sekarang. Demikian bunyinya: "Bapa kami yang ada
di surga, tetapi yang sekarang juga hadir di antara kami …." Sebuah
awalan doa yang penuh makna, bukan? Allah hadir di sana dan hadir di
sini, sekaligus.

Pemazmur mengawali pujiannya dengan sebuah pernyataan iman bahwa pada
Tuhanlah ia berlindung (ayat 1). Namun, bagaimana bisa Tuhan melindungi
jika Dia ada di surga atau di bait-Nya yang kudus (ayat 4), sementara
peristiwa kehidupan manusia ada di bumi atau di luar Bait Tuhan; di
tempat yang tidak selalu dianggap kudus? Karena "mata-Nya
mengamat-amati, sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia"(ayat 4).
Dengan kata lain, walaupun Tuhan memang di surga dan berada di bait yang
kudus, tetapi surga dan bait-Nya yang kudus tidak memenjara Tuhan. Dari
base camp-Nya Tuhan bisa melihat dan menguji orang yang hidup di dunia
ini dengan segala tingkah lakunya, serta melakukan pembelaan-Nya (ayat
5,6). Pemahaman inilah yang membuat pemazmur mantap menjadikan Tuhan
sebagai tempat perlindungannya.

Terkadang kita menganggap enteng macam-macam hal sebab kita juga
menganggap enteng hal kehadiran Tuhan yang tak tampak mata. Keterbatasan
mata indrawi kerap menjadi sebab kesembronoan hidup. Mata kita di dunia
inilah yang tak dapat menembus surga, sementara mata Tuhan di surga
melihat kita di dunia dengan terang benderang tiada tara

Mata Tuhan melihat yang tak kita duga

Penulis: Daniel K. Listijabudi

» Read more → Renungan 25 April 2010

Renungan 26 April 2010

Cukup Memakai Sandal
Baca: Roma 14:1-12
Ayat Mas: Roma 15:7
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 23-24; Lukas 19:1-27

Seorang raja berjalan kaki melihat keadaan negerinya. Di jalan, kakinya
terluka karena terantuk batu. "Jalanan di negeriku amat buruk. Aku harus
memperbaikinya," begitu pikirnya. Maka, ia memerintahkan agar seluruh
jalan di negerinya dilapisi dengan kulit sapi yang terbaik. Persiapan
mengumpulkan sapi-sapi di seluruh negeri dilakukan. Di tengah kesibukan
luar biasa itu, seorang pertapa menghadap raja dan berkata, "Wahai
Paduka, mengapa Paduka mengorbankan sekian banyak kulit sapi untuk
melapisi jalan-jalan negeri ini, padahal yang Paduka perlukan hanya dua
potong kulit sapi untuk melapisi telapak kaki Paduka?" Konon sejak itu
orang menemukan kulit pelapis telapak kaki, yaitu sandal.

Jemaat di kota Roma heboh, karena pertikaian antarkelompok yang beradu
tuntutan. Pihak yang satu menuntut yang lain "jangan menyantap makanan
yang dipersembahkan kepada berhala" sambil menghakimi para pelanggarnya.
Pihak yang lain balas menuntut lawannya agar bersikap lebih dewasa
sambil menghinanya sebagai "si lemah iman". Paulus menasihati mereka
agar membalikkan arah tuntutan itu, dari pihak lain menuju ke diri
sendiri. Alih-alih menuntut orang lain, kita mesti mengubah persepsi
kita sendiri. Yaitu, menerima sesama sebagaimana Tuhan sudah menerima
mereka.

Manusia cenderung punya pengharapan yang berlebihan terhadap orang lain.
Pengharapan itu bisa menjadi tuntutan, bahkan tuntutan yang tidak wajar
lagi. Akibatnya, pertikaian heboh pun terjadi. Entah di rumah, di
kantor, atau di gereja. Kita mau mengubah dunia, padahal yang kita
perlukan adalah mengubah persepsi kita tentang dunia.

Menyelesaikan persoalan kerap kali bukan dengan menuding pihak lain

melainkan dengan memperbaiki persepsi kita sendiri

Penulis: Pipi Agus Dhali

» Read more → Renungan 26 April 2010