Baca: 1 Tawarikh 29:1-9
Ayat Mas: 1 Tawarikh 29:2
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 12-13; Lukas 16
Kartini pernah ditawari beasiswa untuk bersekolah di negeri Belanda,
tetapi batal demi menaati orangtuanya, yang menyuruhnya menikah dengan
Bupati Rembang. Ia bisa saja meratapi nasib malangnya, tetapi ia mencoba
melihat kepentingan yang lebih besar.
Ia pun mengusulkan agar beasiswa itu dialihkan kepada Agus Salim,
seorang pemuda Sumatra Barat. Sebuah pilihan menarik yang menunjukkan
bahwa ia tidak lagi berpikir dalam lingkup Jawa, tetapi sudah dalam
lingkup Indonesia. Ia memilih Agus Salim bukan berdasarkan latar
sukunya, melainkan karena melihat potensi menjanjikan dalam diri pemuda
itu. Dan, ia melakukannya jauh sebelum Boedi Oetomo berdiri!
Dalam konteks yang agak berbeda, sikap Kartini mirip dengan kebesaran
hati Daud. Ia rindu membangun Bait Allah, tetapi Tuhan tidak berkenan
karena tangannya telah menumpahkan darah. Anaknyalah yang akan membangun
bait itu. Daud juga bisa kecewa dan tidak lagi peduli pada pembangunan
Bait Allah. Namun, oleh kasihnya kepada Allah, ia memikirkan jalan untuk
mendukung pembangunan rumah Allah. Ia merancang bangunan Bait Allah itu
dan mempersiapkan sebanyak mungkin bahan-bahan yang diperlukan. Sikap
Daud ini mendorong bangsa Israel untuk turut memberikan persembahan
sukarela. Sumbangsih mereka tentu sangat meringankan beban Salomo dalam
memenuhi panggilannya.
Impian pribadi kita bisa jadi kandas. Apakah kita akan terpuruk berputus
asa? Ataukah kita tertantang untuk menemukan jalur alternatif guna tetap
memberkati keluarga, gereja, masyarakat, dan bahkan bangsa kita?
Sebuah pintu yang tertutup bukan berarti jalan buntu
Tetapi kesempatan untuk melihat pintu lain terbuka
Penulis: Arie Saptaji
Tidak ada komentar:
Posting Komentar