Baca: Keluaran 40:34-38
Ayat Mas: Amsal 3:5
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 9-11; Lukas 11-32
Pada 2006, saat menjadi ketua Komisi Pemuda, saya merasa kelelahan
dengan jadwal pelayanan yang begitu padat. Maka, saya hendak
menguranginya dengan mengundurkan diri dari paduan suara. Namun, niat
saya itu berkali-kali tertahan. Saya merasa Tuhan ingin saya bertahan di
paduan suara. Pada akhirnya saya mengerti mengapa Tuhan menginginkan
saya bertahan. Sebab, lewat pelayanan itulah Papa dan Mama mau ke gereja
setelah sepuluh tahun saya doakan. Untuk pertama kalinya, mereka datang
ke Kebaktian Natal hanya untuk melihat saya bernyanyi.
Ketika Tuhan memimpin langkah kita, kerap kali Tuhan tidak
memberitahukan kepada kita rencana-Nya dari awal sampai akhir. Tuhan
memimpin kita selangkah demi selangkah. Seperti halnya ketika Tuhan
memimpin bangsa Israel menuju tanah Kanaan. Tuhan memimpin mereka
melalui keberadaan tiang awan. Jika awan naik dari atas kemah suci,
bangsa Israel berangkat; sebaliknya, jika awan itu tidak naik, mereka
tidak berangkat (ayat 36,37). Tuhan sama sekali tidak menjelaskan,
mengapa mereka mesti berangkat pada saat itu dan mengapa mereka harus
menetap untuk beberapa waktu.
Rencana dan pemikiran Tuhan melampaui apa yang dapat kita pikirkan.
Karena itu, kita mesti percaya; percaya kepada Allah dan tidak bersandar
pada pengertian kita sendiri (Amsal 3:5). Jika Tuhan memimpin kita
melangkah ke tempat baru atau meminta kita bertahan pada situasi yang
tidak mengenakkan sekalipun, percayalah Tuhan punya rencana indah. Yang
Tuhan minta dari kita adalah ketaatan dan kepercayaan total akan
pimpinan-Nya.
Pimpinan Tuhan bagai pelita yang menerangi kegelapan
Jika kita mau melangkah, kelak kita akan sampai di tujuan
Penulis: Vonny Thay
Tidak ada komentar:
Posting Komentar