Tampilkan postingan dengan label Renungan September 2010. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan September 2010. Tampilkan semua postingan

Renungan 2 September 2010

Menyapa Zakheus
Baca: Lukas 19:1-10
Ayat Mas: Lukas 19:5
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 137-139; 1 Korintus 13

Ia kaya raya, tetapi badannya pendek. Yang lebih parah, ia pemungut
cukai. Artinya, ia bekerja pada orang asing; seorang antek penjajah;
seorang pengkhianat bangsa. Bangsanya sangat membencinya—begitu benci
sampai-sampai mereka tidak sudi mengucapkan namanya; mereka cukup
menyebutnya "orang berdosa" (ayat 7). Rumahnya boleh jadi besar dan
megah, tetapi orang tampaknya enggan menyambanginya. Tak heran, tak ada
orang yang memberinya jalan ketika ia berusaha melihat Yesus. Ia memutar
otak, dan menemukan salah satu cara paling unik untuk mendekati Sang
Guru: memanjat pohon.

Bisa jadi Yesus geli melihat orang pendek itu bertengger di pohon. Namun
yang tak terduga, Yesus menyapanya dengan menyebutkan namanya (ayat 5).
Mungkin sudah begitu lama telinga Zakheus (ya, itu dia namanya!) tidak
mendengar orang menyebutkan namanya dengan ramah. Bukan itu saja. Yesus
juga mau berkunjung ke rumahnya! Betapa melonjak hati Zakheus;
serbatakjub dan penuh sukacita. Tak heran, perjumpaan itu membekaskan
kesan yang sangat mendalam baginya; bahkan mengubahkan arah hidupnya.
Zakheus, si pendek pemungut cukai yang dibenci orang banyak, mengalami
keselamatan. Ia menjadi dermawan.

Maukah kita menyapa orang lain seperti yang Yesus lakukan? Orang itu
tidak mesti "musuh masyarakat" seperti Zakheus; bisa juga orang yang
tidak diperhitungkan di lingkungan kita. Sapalah ia. Kenalilah
pribadinya. Hargailah ia sebagai manusia. Hormatilah martabatnya. Dan,
berdoalah agar Tuhan menjamahnya dan mengubahkan arah hidupnya—seperti
yang terjadi pada Zakheus.

KASIH YANG TULUS ITU MENERIMA APA ADANYA

MENYENTUH HATI DAN MENGUBAHKAN HIDUP

Penulis: Arie Saptaji

» Read more → Renungan 2 September 2010

Renungan 20 september 2010

Penjara Masa Lalu
Baca: Filipi 3:4-14
Ayat Mas: Filipi 3:13
Bacaan Alkitab Setahun: Pengkhotbah 4-6; 2 Korintus 12

Tidak sedikit orang yang secara fisik hidup pada masa sekarang, tetapi
hati dan pikirannya masih berada pada masa lalu. Seorang gadis yang
terus terkenang dengan pacar lamanya, sehingga ia tidak bisa bahagia
dengan pacarnya yang sekarang. Seorang pemuda yang terus dikejar
penyesalan karena pada masa lalu ia pernah melakukan tindakan sangat
tercela. Sungguh, betapa tidak nyamannya hidup dalam "penjara masa
lalu". Sangat menyesakkan.

Secara manusiawi, Rasul Paulus punya "alasan" untuk terus menyesali masa
lalunya. Ia pernah menjadi penganiaya orang kristiani (Kisah Para Rasul
9:1,2). Lalu ia bertobat dan menjadi seorang pekabar Injil yang gigih
dan teguh. Namun, apa yang ia alami kemudian? Tidak melulu kegembiraan
dan kemudahan, sebaliknya tidak sedikit bahaya dan penganiayaan (2
Korintus 11: 23-26).


Namun, Rasul Paulus tidak membiarkan dirinya terjebak dalam penjara masa
lalu. Ia melupakan segala kepahitan dan penyesalan akan masa lalunya.
Dan, mengarahkan diri kepada apa yang di hadapannya, kepada visi
hidupnya. Itulah sebabnya ia selalu tegar dan teguh; pun di tengah
tantangan dan hambatan yang menerpanya.

Betapa pun masa lalu yang telah kita alami—manis atau pahit—semuanya
sudah berlalu. Dan, hidup kita tidak pernah surut ke belakang. Masa lalu
baik untuk kita jadikan cermin, tetapi akan tidak baik kalau
terus-menerus kita "pegang". Sebuah ungkapan bijak: Kemarin adalah
kenangan, esok adalah misteri, hari ini adalah kenyataan.

JANGAN SIA-SIAKAN MASA KINI

HANYA UNTUK SEBUAH MASA LALU YANG SUDAH MATI

Penulis: Ayub Yahya

» Read more → Renungan 20 september 2010

Renungan 1 September 2010

Membawa Kebaikan
Baca: Kejadian 1:27-31
Ayat Mas: Kejadian 1:31
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 135-136; 1 Korintus 12

Dalam salah satu buku kumpulan khotbahnya, Menyembah dalam Roh dan
Kebenaran, Pdt. Eka Darmaputera menulis demikian, "Dari semua makhluk
ciptaan Tuhan, hanya manusia yang punya kecenderungan menyalahi dan
melanggar hukum alam." Lalu beliau mengutip sebuah sajak:

"Allah menciptakan matahari, matahari memberi sesuatu. Allah menciptakan
bulan, bulan memberi sesuatu. Allah menciptakan bintang-bintang,
bintang-bintang memberi sesuatu. Allah menciptakan awan-awan, awan-awan
memberi sesuatu. Allah menciptakan bumi, bumi memberi sesuatu. Allah
menciptakan pohon-pohon, pohon-pohon memberi sesuatu. Allah menciptakan
bunga, buah, binatang, mereka memberi sesuatu. Allah menciptakan Anda
dan saya, apa yang Anda dan saya beri?"

Ya, apa yang Anda dan saya beri bagi kehidupan ini? Konon, ada tiga
jenis orang di dunia ini. (1) Orang yang ada atau tidak ada sama saja,
tidak membuat orang lain sedih atau senang. (2) Orang yang lebih baik
tidak ada; orang lain justru senang kalau ia tidak ada. (3) Orang yang
kehadirannya membawa kebaikan, sehingga ketika ia tidak ada, orang lain
pun merasa sedih dan kehilangan.

Pertanyaan untuk kita renungkan, orang jenis manakah kita? Semoga bukan
jenis pertama, lebih-lebih bukan jenis kedua. Sebab kalau begitu kita
adanya, itu berarti kita tidak memenuhi tujuan Allah menciptakan kita di
dunia ini. Allah menciptakan kita—di mana pun kita berada, dan dalam
peran apa pun kita hidup—untuk membawa kebaikan; memuliakan Allah, dan
membuat orang lain merasa bersyukur

KITA DICIPTAKAN DENGAN TUJUAN LUHUR

SUDAHKAH KITA HIDUP SESUAI TUJUAN KITA DICIPTAKAN?

Penulis: Ayub Yahya

» Read more → Renungan 1 September 2010