Baca: Lukas 19:1-10
Ayat Mas: Lukas 19:5
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 137-139; 1 Korintus 13
Ia kaya raya, tetapi badannya pendek. Yang lebih parah, ia pemungut
cukai. Artinya, ia bekerja pada orang asing; seorang antek penjajah;
seorang pengkhianat bangsa. Bangsanya sangat membencinya—begitu benci
sampai-sampai mereka tidak sudi mengucapkan namanya; mereka cukup
menyebutnya "orang berdosa" (ayat 7). Rumahnya boleh jadi besar dan
megah, tetapi orang tampaknya enggan menyambanginya. Tak heran, tak ada
orang yang memberinya jalan ketika ia berusaha melihat Yesus. Ia memutar
otak, dan menemukan salah satu cara paling unik untuk mendekati Sang
Guru: memanjat pohon.
Bisa jadi Yesus geli melihat orang pendek itu bertengger di pohon. Namun
yang tak terduga, Yesus menyapanya dengan menyebutkan namanya (ayat 5).
Mungkin sudah begitu lama telinga Zakheus (ya, itu dia namanya!) tidak
mendengar orang menyebutkan namanya dengan ramah. Bukan itu saja. Yesus
juga mau berkunjung ke rumahnya! Betapa melonjak hati Zakheus;
serbatakjub dan penuh sukacita. Tak heran, perjumpaan itu membekaskan
kesan yang sangat mendalam baginya; bahkan mengubahkan arah hidupnya.
Zakheus, si pendek pemungut cukai yang dibenci orang banyak, mengalami
keselamatan. Ia menjadi dermawan.
Maukah kita menyapa orang lain seperti yang Yesus lakukan? Orang itu
tidak mesti "musuh masyarakat" seperti Zakheus; bisa juga orang yang
tidak diperhitungkan di lingkungan kita. Sapalah ia. Kenalilah
pribadinya. Hargailah ia sebagai manusia. Hormatilah martabatnya. Dan,
berdoalah agar Tuhan menjamahnya dan mengubahkan arah hidupnya—seperti
yang terjadi pada Zakheus.
KASIH YANG TULUS ITU MENERIMA APA ADANYA
MENYENTUH HATI DAN MENGUBAHKAN HIDUP
Penulis: Arie Saptaji
Tidak ada komentar:
Posting Komentar