Renungan 26 September 2010

Kalau Butuh Baca: Yeremia 2:26-37
Ayat Mas: Yeremia 2:27
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 1-2; Galatia 5

Seorang pemuda yang sedang bersekolah di luar negeri sudah lama tidak
memedulikan orangtuanya. Bahkan, ketika ibunya sakit atau ketika ayahnya
stres berat, ia tidak menghubungi orangtuanya--meski saudara-saudaranya
sudah mengingatkannya. Hingga suatu hari, pemuda tersebut mengalami
masalah keuangan. Ia pun menelepon orangtuanya, merayu-rayu, kemudian
meminta uang.

Kita semua tentu tidak mau punya anak yang bersikap demikian. Demikian
juga Allah tidak mau umat-Nya bersikap demikian kepada-Nya. Dia sedih
ketika umat-Nya mendekat kepada-Nya hanya ketika sedang membutuhkan
pertolongan-Nya. Sementara ketika segala sesuatu berjalan baik, ketika
berkat-berkat-Nya tercurah dengan melimpah, mereka melupakan Dia (ayat
32); mereka sibuk dengan segala kesenangan pribadi. Lebih dari itu,
ketika akhirnya umat-Nya datang kepada Dia, mereka tidak mau mengakui
bahwa selama ini mereka telah mendurhakai-Nya (ayat 29).


Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga terbiasa mendekat kepada-Nya
hanya ketika kita memerlukan pertolongan-Nya? Ketika kita melupakan-Nya
saat hidup berlangsung nyaman; dan hanya datang kepada-Nya ketika kita
susah, sesungguhnya kita sedang melukai hati-Nya. Kita tidak bersikap
sebagai umat yang menghargai Tuhan yang berkuasa dan terlibat dalam
seluruh hidup kita. Kita tak menjadikan-Nya pusat hidup, di mana di luar
Dia kita tak dapat berbuat apa-apa.


Maka, penting sekali kita sadar bahwa apa pun kondisi kita—susah senang,
kita tetap melekat kepada-Nya; bersyukur atas setiap hal baik yang kita
terima; pasrah meski tengah menderita.

MENDEKATLAH KEPADA TUHAN SETIAP SAAT

BUKAN HANYA KETIKA KITA BUTUH DIA MEMBERI BERKAT

Penulis: Alison Subiantoro

Tidak ada komentar: