Baca: Ibrani 1:1-4
Ayat Mas: 2 Korintus 3:3
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 17-18; Yohanes 3:19-36
Dalam keseharian hidup berlaku kebenaran: nama bukan sekadar nama,
melainkan ada "bobot" wibawanya. Para siswa yang sedang berkelahi akan
spontan berhenti ketika nama Pak Hadi, Kepala Sekolah, disebut-sebut
sedang mendekat ke arah mereka. Di bidang lain, konsumen juga lebih
percaya pada produk yang sudah punya nama. Nama artis yang sedang "naik
daun" identik dengan keuntungan besar di bisnis hiburan. Kebaktian
Kebangunan Rohani sesak pengunjung karena dilayani oleh pengkhotbah ternama.
Ketika Yesus naik ke surga, ketika karya penebusan-Nya selesai, Dia
menerima kembali apa yang semula menjadi milik-Nya, yaitu nama-Nya yang
setara dengan Allah. Nama yang mulia—kemuliaan yang rela
ditanggalkan-Nya demi menyerupai kita, untuk menggenapi karya penebusan.
Nama dengan wibawa tertinggi, penuh kuasa. Nama yang terindah. Yang
menggetarkan seluruh alam dan segenap makhluk. Menekuk setiap lutut
untuk menyembah dan mengakui kedaulatan-Nya. Nama di atas segala nama!
Sadarkah kita bahwa nama Tuhan sedahsyat dan semulia itu? Peringatan
kenaikan Tuhan membangkitkan kesadaran kita kembali. Kesadaran yang
membuat kita menyanyi memuliakan nama-Nya dengan lebih sungguh. Membuat
kita melayani dengan tidak menonjolkan nama dan diri sendiri. Membuat
kita tidak gentar akan nama-nama seram yang dekat dengan kuasa gelap.
Membuat kita tidak lupa bahwa sementara kita bekerja, bergaul, dan
berbicara, nama Yesus sedang kita pertaruhkan di depan semua orang.
Sebab, bukankah kita ini surat Kristus yang terbuka, yang terbaca oleh
orang-orang di sekitar kita?
TIDAK MUNGKIN MENGASIHI YESUS
TANPA MENGHORMATI DAN MEMULIAKAN NAMA-NYA
Penulis: Pipi Agus Dhali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar