Renungan 13 April 2010

Ndendeng
Baca: Roma 1:18-23, Wahyu 9:13-21
Ayat Mas: Wahyu 9:20
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 22-24; Lukas 12:1-31

Ndendeng (kedua huruf "e" dibaca seperti pada kata "materai", bukan
"bebek") adalah istilah bahasa Jawa yang kira-kira artinya keras kepala,
tidak bisa diberi tahu. Kata ini kerap dipakai untuk menjuluki anak-anak
yang nakal dan tidak mau menuruti nasihat orangtua.

Namun, bukan cuma anak-anak yang bisa ndendeng. Banyak orang dewasa di
sepanjang zaman yang juga bersikap demikian terhadap Allah. Salah satu
contohnya digambarkan dalam bacaan Alkitab kita hari ini.

Dalam sejarah manusia, Tuhan berulang kali, dengan berbagai cara,
menyatakan diri-Nya, memanggil semua orang untuk bertobat. Dari cara
yang halus melalui ciptaan-Nya (Roma 1:19,20), firman-Nya (2 Raja-Raja
17:13,14), sampai pada cara yang teramat keras, yaitu dengan hukuman
yang dahsyat (Wahyu 9:13-19). Namun, banyak dari mereka yang bergeming.
Mereka tetap mengeraskan hati dan menolak panggilan-Nya.

Apakah kita termasuk orang yang demikian? Apakah kita juga adalah
orang-orang yang bersikap keras kepala di hadapan Allah, meski mengaku
sebagai umat-Nya? Secara spesifik mungkin dengan menyimpan suatu dosa
dalam hidup kita, yang Allah ingin agar kita tinggalkan. Dia sudah
menyatakannya dengan berbagai cara. Melalui hati nurani kita, firman-Nya
di dalam Alkitab, teguran orang, atau melalui peristiwa-peristiwa yang
kita alami. Suara-Nya sedemikian jelas, sehingga kita tahu benar apa
yang Dia mau. Akan tetapi, kita terus mengeraskan hati, tidak mau tunduk
kepada-Nya. Apabila demikian sikap kita, bertobatlah. Lunakkan hati dan
ikuti perintah-Nya. Jangan lagi menjadi seorang yang ndendeng kepada Allah.

Ndendeng kepada orangtua merepotkan

ndendeng kepada Allah mematikan

Penulis: Alison Subiantoro

Tidak ada komentar: