Renungan 3 April 2010

Telur Dadar Busuk
Baca: Roma 6:5-11
Ayat Mas: Roma 6:10
Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-hakim 19-21; Lukas 7:31-50

C.S. Lewis, penulis yang terkenal dengan karyanya, The Chronicles of
Narnia, suatu ketika didatangi seseorang yang ingin berkompromi dalam
kehidupan kristianinya. Ia merasa tidak bermasalah kalau sesekali
melakukan dosa dan pelanggaran kecil-kecilan. Tuhan pasti akan melupakan
dosa-dosa kecil itu sepanjang ia menjadi orang kristiani yang baik.
Tidak apa-apa kan berdosa sedikit, selama hal-hal yang lain baik-baik
saja? Begitu pikirnya. C.S. Lewis menjawab, "Kalau kita mencampurkan
telur yang segar dengan telur yang busuk, kita tidak akan dapat membuat
telur dadar yang enak."

Yesus Kristus mati untuk menebus dosa, satu kali dan untuk selamanya.
Dia menebus dosa seluruh umat manusia dari abad ke abad. Dia menebus
dosa—semua dosa, baik dosa yang kita anggap besar maupun dosa yang kita
anggap kecil.

Dalam konteks ini, pembedaan antara dosa besar dan dosa kecil menjadi
tidak relevan lagi. Tidak ada dosa yang remeh. Setiap dosa adalah "telur
busuk" yang merusakkan kehidupan manusia. Dan, Allah menghadapi dosa
secara sungguh-sungguh dan radikal. Dia mengatasi persoalan dosa dengan
harga yang sangat mahal: dengan menyerahkan nyawa Anak-Nya yang tunggal
sebagai tebusan.

Ketika kita tergoda untuk berkompromi melakukan perkara yang kita anggap
sebagai "hanya dosa kecil", ada baiknya kita berhenti sejenak dan
merenungkan kembali penebusan Kristus. Untuk dosa yang kecil sekalipun,
Dia harus menebusnya dengan meregang nyawa di kayu salib. Akankah kita
menganggap enteng pengurbanan-Nya itu dengan terus menyimpan "telur busuk"?

BAGI ORANG YANG MENGHARGAI PENEBUSAN KRISTUS

DOSA KECIL SAMA MENGERIKANNYA DENGAN DOSA BESAR

Penulis: Arie Saptaji

Tidak ada komentar: