Tampilkan postingan dengan label Renungan harian [ November 2009 ]. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan harian [ November 2009 ]. Tampilkan semua postingan

Renungan Harian 18 November 2009

Salam Kutukan
Baca: 1 Korintus 16:19-24
Ayat Mas: 1 Korintus 16:22
Bacaan Alkitab Setahun: Galatia 4-6

Berbeda dengan surat-surat Paulus yang lain, surat Paulus kepada jemaat di Korintus ditutup oleh salam yang bernada keras, “Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia.” Ada apa dengan Paulus dan jemaat di Korintus hingga ia menulis kata-kata yang keras dalam suratnya? Mari kita simak latar belakangnya sejenak.

Jemaat Korintus sesungguhnya adalah jemaat yang luar biasa. Mereka adalah jemaat yang pernah dilayani oleh hamba-hamba Tuhan yang luar biasa (1:12) dan juga jemaat yang anggotanya memiliki berbagai macam karunia rohani. Namun sayang, hal itu tidak membuat gereja ini bersatu padu dalam melayani Tuhan; malah menimbulkan perpecahan di dalam tubuh gereja. Perpecahan itu sangat tajam, sehingga masing-masing kelompok menganggap dirinya paling penting dan hebat. Bak seorang dokter yang mendiagnosis penyakit, Paulus menyatakan bahwa penyebab dari perpecahan jemaat di Korintus adalah hilangnya kasih akan Tuhan di tengah-tengah mereka. Mereka lebih mengasihi diri sendiri daripada Tuhan. Itulah Paulus. Menyatakan secara tegas nasihatnya. Ia mau supaya mereka lebih mengasihi Tuhan.

Mengasihi Tuhan seharusnya menjadi tujuan hidup manusia—termasuk ketika kita memakai segala kemampuan, bakat, atau karunia yang kita miliki. Ketika kita kehilangan tujuan ini, hasilnya adalah keangkuhan. Ketika ada keangkuhan dalam komunitas. hasilnya adalah perpecahan. Jadi, marilah kita kembalikan tujuan hidup kita kepada tujuan yang sebenarnya, yaitu mengasihi Tuhan!

DIA HARUS SEMAKIN BERTAMBAH, AKU HARUS SEMAKIN BERKURANG

Penulis: Riand Yovindra
» Read more → Renungan Harian 18 November 2009

Renungan Harian 19 November 2009

Anggapan yang Menyesatkan
Baca: Kejadian 20:1-14
Ayat Mas: Kejadian 20:11
Bacaan Alkitab Setahun: Kisah Para Rasul 15:1-18:11

Semua lelaki berhidung belang. Tak bisa dipercaya,” begitulah anggapan Rina selama ini. Setelah menikah, anggapan menyesatkan ini membuatnya jadi gampang curiga pada suaminya. Diam-diam ia suka memeriksa isi dompet suami, membaca semua SMS-nya, dan memeriksa baju yang baru dipakainya. Pada jam istirahat siang, sering Rina datang ke kantor suaminya untuk memantau apa yang sedang ia lakukan. Hatinya selalu bertanya, “Adakah tanda-tanda suamiku selingkuh?” Sikap janggalnya justru membuat mereka berdua sering bertengkar. Relasi keduanya pun makin terpuruk.

Anggapan menyesatkan bisa meracuni pikiran dan membuat kita salah bertindak. Lihatlah Abraham! Ketika memasuki daerah kekuasaan Abimelekh, Raja Gerar, ia menganggap raja ini orang jahat yang tidak takut akan Allah (ayat 11). Pikirnya, jika Raja tahu Sara itu istrinya, pasti ia akan dibunuh dan Sara akan diperistri. Anggapan keliru ini membuat Abraham dan istrinya salah bertindak. Mereka berbohong. Raja diberi tahu bahwa Sara bukan istri Abraham, melainkan saudaranya. Hasilnya? Kebohongan itu justru membuat Raja berniat memperisteri Sara, karena mengira ia belum bersuami! Anggapan mereka yang keliru membuat situasi jadi tambah runyam, padahal Raja ternyata tak sejahat yang mereka bayangkan. Syukur Allah campur tangan menyelesaikan masalah itu.

Apakah Anda suka berprasangka negatif terhadap orang lain? Berhati-hatilah! Anggapan menyesatkan bisa mendorong Anda berbuat salah, bahkan dosa. Lebih baik belajarlah berpikir positif terhadap sesama.

Prasangka negatif membutakan; membuat perbuatan baik orang tampak sebagai kejahatan

Penulis: Juswantori Ichwan
» Read more → Renungan Harian 19 November 2009

Renungan Harian 20 November 2009

Berani Terima Tantangan?
Baca: Yesaya 6:1-8
Ayat Mas: Yesaya 6:8
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tesalonika 1-5

Sekelompok remaja yang tengah mengadakan retret berdiskusi tentang komitmen mereka dalam menjadi saksi Kristus. Pada akhir diskusi, sang pemimpin diskusi membacakan Yesaya 6:8 sebagai tantangan kepada para remaja: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Ketika sang pemimpin hendak melanjutkan pembacaan, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara seorang remaja yang berteriak: “Ini aku, utuslah dia!” sambil menunjuk seorang teman di sampingnya. Suasana yang tadinya khidmat tiba-tiba berubah penuh gelak tawa.

Saat Nabi Yesaya mendapat penglihatan tentang Tuhan dan para serafim, ia merasa ketakutan. Takut karena ia merasa sebagai seorang yang berdosa; seorang yang najis bibir, yang tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir (ayat 5). Yesaya menyadari akan dosa-dosanya dan merasa tidak layak di hadapan Tuhan. Namun, ketika Tuhan menghapus kesalahannya dan mengampuni dosanya (ayat 6), ia merasa dilayakkan untuk melakukan pekerjaan-Nya. Maka, ketika Tuhan bertanya ”Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”, dengan lantang ia menjawab, ”Ini aku, utuslah aku!”

Menjawab panggilan Tuhan untuk melakukan tugas pelayanan memang bukan sesuatu yang mudah. Bahkan, memandang sebuah pekerjaan Tuhan yang besar dan sukar bisa membuat hati gentar. Jika boleh, jika ada, rasanya hati ini ingin agar orang lain saja yang mengerjakannya. Namun, Allah menantang kita secara pribadi hari ini. Yesaya sudah mendahului kita mengiyakan panggilan itu dengan segenap hati. Adakah kita juga?

SAAT KITA MENJAWAB PANGGILAN TUHAN, DIA AKAN MEMPERLENGKAPI KITA SESUAI DENGAN RENCANA-NYA

Penulis: Gloria Kamiharja

» Read more → Renungan Harian 20 November 2009