Tampilkan postingan dengan label Renungan harian [ Maret 2009 ]. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan harian [ Maret 2009 ]. Tampilkan semua postingan

[ Renungan harian ] 31 Maret 2009

Si Pencuri Kesempatan
Baca : Lukas 22:3-6
Ayat Mas: Lukas 4:13
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 17-20

Kita tahu bahwa Iblis itu jahat; si pendusta; si pencuri. Itu semua memang sifat dan julukannya. Namun, bagaimana jika dikatakan bahwa Iblis itu sabar? Mana ada Iblis sabar? Namun, menurut injil Lukas memang demikian. Iblis itu sabar—sabar menunggu. Menunggu kesempatan yang baik.

Sejak kegagalannya mencobai Yesus, Iblis memang mundur dari gelanggang sambil disebutkan “menunggu saat yang baik” (Lukas 4:13). Kapankah kesempatan itu tiba? Rupanya saat itu baru tiba menjelang kisah kesengsaraan Yesus. Ia menemukan peluang yang tepat untuk bertindak lagi, yaitu dengan “memakai” salah seorang dari ke-12 murid yang bernama Yudas Iskariot (22:3). Di dalam diri Yudas, Iblis “mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus” (22:6). Itu memang merupakan strategi Iblis sejak dahulu: menunggu dengan sabar dan mencari kesempatan untuk memakai siapa yang lengah bagi pemenuhan rencana jahatnya.

Rasul Paulus mengingatkan kita, “... janganlah beri kesempatan kepada Iblis” (Efesus 4:27). Sesungguhnya banyak dosa tidak dilakukan tiba-tiba—serba mendadak, seperti kata orang “setan lewat”. Tidak! Dosa terjadi karena kita lengah dan sengaja memberi kesempatan kepada Iblis untuk mengendalikan nafsu dan perbuatan kita. Oleh sebab itu, tidak ada cara lain untuk melawan siasat si jahat ini, kecuali senantiasa bermawas diri. Selalu sadar, berdoa, dan berjaga-jaga (Ma¬tius 26:40,41; 1 Petrus 5:8). Selain untuk mengenang penderitaan Tuhan Yesus, masa menjelang Paskah adalah masa untuk meningkatkan mawas diri kita selaku anak-anak Tuhan.

IBLIS ITU PENCURI KESEMPATAN YANG LIHAI MAKA BERSIAGALAH DI DALAM TUHAN PADA SEGALA KESEMPATAN

Penulis: Pipi Agus Dhali
» Read more → [ Renungan harian ] 31 Maret 2009

[ Renungan Harian ] 30 Maret 2009

Mengampuni = Membebaskan
Baca : Roma 12:19-21
Ayat Mas: Roma 12:21
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 14-16

Amy Biehl, 26 tahun, tewas mengenaskan di tangan empat pemuda kulit hitam saat melakukan pekerjaan kemanusiaan di Afrika Selatan. Peter dan Linda Biehl, orangtua Amy, berkunjung ke Afrika Selatan untuk melihat tempat di mana Amy terbunuh. Mereka pun tiba di Guguletu, daerah kumuh tempat para pemuda pembunuh Amy tinggal dan dibesarkan. Melihat kondisi daerah itu, mereka memahami mengapa para pemuda itu tumbuh menjadi pelaku kriminal.

Mereka kemudian mendirikan Yayasan Amy Biehl. Yayasan ini didirikan agar mereka dapat memberikan pelatihan bagi para pemuda Guguletu. Tidak hanya itu, tahun 1998, Peter dan Linda juga menerima Easy Nofomela dan Ntebecko Penny, dua dari empat pembunuh Amy, ke dalam program pelatihan mereka. “Dengan mengampuni, kami telah membebaskan diri kami sendiri,” begitu Peter Biehl berkata kepada wartawan yang mewawancarainya.

Ya, pengampunan itu membebaskan. Bukan hanya membebaskan si pelaku dari rasa bersalah, tetapi juga membebaskan kita dari rasa benci, dendam, dan akar pahit. Tidak heran kalau pengampunan menjadi salah satu tema penting dalam Alkitab. Bukan berarti kita tidak boleh marah atau kesal terhadap orang yang telah berbuat tidak baik terhadap kita. Marah tentu boleh saja, asal jangan sampai menjadi dendam. Kesal juga tidak salah, asal tidak sampai membuat kita terbakar kebencian dan berkeinginan untuk membalas. Sebab, bagaimanapun pembalasan itu bukan hak kita (ayat 19). Tugas kita ada¬lah melakukan kebaikan kepada siapa pun, termasuk kepada orang yang telah menyakiti.

KETIKA KITA BISA MENGAMPUNI SESEORANG PIHAK PERTAMA YANG MENDAPAT MANFAAT ADALAH DIRI KITA SENDIRI

Penulis: Ayub Yahya

» Read more → [ Renungan Harian ] 30 Maret 2009

[ Renungan Harian ] 24 Maret 2009

Melompat ke Bulan
Baca : Roma 3:21-26
Ayat Mas: Roma 3:23
Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-hakim 19-21

Dalam olahraga lompat tinggi, atlet yang berhasil melompat setinggi 6 meter dapat merasa lebih baik daripada mereka yang hanya bisa melompat setinggi 5 meter. Namun, betapa bodoh kalau ia lalu berpikir ia lebih mampu untuk melompat ke bulan daripada orang lain! Namun, bagaimana kalau diadakan lomba melompat ke bulan tanpa menggunakan alat? Ada yang lebih baik daripada orang lain? Tidak ada! Dalam hal dosa, kita cenderung membandingkan diri dengan orang lain seperti dalam olahraga lompat tinggi. Kita menggunakan standar penilaian kurva normal. “Orang kudus” dan “orang ja¬hat” itu sama-sama minoritas, mayoritas adalah “orang baik-baik”—dan kita merasa aman tergolong dalam mayoritas itu.

Sungguh keliru! Alkitab menyatakan semua orang sudah berdosa (ayat 23). Tolok ukurnya bukan taraf kebaikan kita masing-masing—manusia tidak sedang bertanding lompat tinggi dengan sesamanya. Standarnya adalah kemuliaan Allah Yang Mahakudus dan Sempurna—itu seperti lomba melompat ke bulan! Di hadapan standar ini, tidak ada satu orang pun yang memenuhi syarat. Semuanya gagal. Hanya oleh anugerah Allah—”pesawat ruang angkasa rohani”, kita mampu mengatasi gravitasi dosa dan terbang ke bulan.

Masa prapaskah menyediakan kesempatan khusus untuk merenungkan kembali kebenaran tersebut. Gereja Ortodoks menggambarkannya sebagai perpaduan antara dukacita dan sukacita. Kita berdukacita dengan berintrospeksi dan bertobat, merendahkan diri di hadapan Allah, menyadari keberdosaan dan keterbatasan kita. Selanjutnya kita mengucap syukur dan bersukacita karena anugerah yang telah disediakan-Nya melalui karya penebusan Kristus.

KITA BERDOSA BUKAN KARENA KITA TELAH BERBUAT DOSA TETAPI KITA BERBUAT DOSA KARENA KITA ORANG BERDOSA—R.C. Sproul

Penulis: Arie Saptaji
» Read more → [ Renungan Harian ] 24 Maret 2009

[ Renungan harian ] 22 Maret 2009

Kobaran Hati
Baca : Lukas 24:13-35
Ayat Mas: Lukas 24:32
Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-hakim 13-15

Banyak dari kita mengenal lagu rohani klasik Abide with me (Tinggal Sertaku, Hari T’lah Senja). Lagu lembut ini diangkat dari kisah perjumpaan yang justru penuh perasaan berkobar dalam kisah perjalanan ke Emaus. Michael Goulder, seorang ahli Perjanjian Baru, bahkan mengatakan “kisah Emaus adalah kisah paling menggetarkan emosi di antara semua kisah di Alkitab”.

Kleopas, seorang pengikut Yesus, menjadi tokoh kisah hebat ini. Kleopas dan temannya pergi ke Emaus dengan muram, karena Yesus disalib. Di tengah jalan, seorang Tamu tak dikenal ikut berbincang dengan mereka. Tamu itu Yesus. Namun, karena sesuatu menghalangi mata Kleopas dan temannya, Tamu Agung itu tak mereka kenali. Lalu Tamu itu berganti peran, dari orang yang bertanya menjadi seorang yang mengajar tentang Mesias yang harus menderita dan bangkit. Namun, Kleopas dan temannya tetap tak menyadari siapa tamu ini. Bahkan, meskipun mereka sudah ditegur keras: “Hai orang bodoh, betapa lambannya hatimu” (ayat 25). Ketika sang tamu ikut makan, memecah roti, dan mengucap berkat, barulah mata Kleopas dan temannya terbuka. Namun, saat itu sang Tamu Agung segera menghilang! Hati Kleopas berkobar-kobar dalam perjumpaan sesaat itu. Ia berjumpa sesaat, tetapi dampaknya abadi. Begitulah pengalaman berjumpa Tuhan, ada getar batin yang hebat karena Allah hadir. Kleopas dan temannya menanggapi hal itu dengan “bangun dan kembali berjalan 11 kilometer ke Yerusalem untuk mengisahkan pertemuan mereka yang mengobarkan hati itu” (ayat 33,35).

Hari ini, sudahkah Tuhan mengobarkan hati kita? Sudahkah kita meneruskan kobaran hati itu kepada orang lain?

PERJUMPAAN DENGAN ALLAH YANG MENGOBARKAN HATI MENEGASKAN BAHWA ALLAH HIDUP DAN SELALU MENYERTAI

Penulis: Daniel K. Listijabudi
» Read more → [ Renungan harian ] 22 Maret 2009