Tampilkan postingan dengan label Renungan harian [ April 2009 ]. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan harian [ April 2009 ]. Tampilkan semua postingan

[ Renungan harian ] 27 April 2009

Buktikan Dulu Dong!
Baca : Yohanes 20:24-29
Ayat Mas: Yohanes 20:25
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 49-51

Ratu Victoria dari Inggris suka berjalan-jalan di pedesaan dengan menyamar sebagai orang biasa. Sementara berjalan, ia selalu diikuti oleh pelayannya dari jauh. Suatu kali ia bertemu dengan sekawanan domba yang digembalakan seorang anak kecil. Melihat sang ratu di tengah jalan, anak itu berteriak, “Hei, minggir kamu, dasar perempuan goblok!” Ratu Victoria hanya tersenyum, tidak berkata apa-apa. Ketika pelayannya muncul, ia menjelaskan pada anak itu bahwa perempuan yang diteriakinya tadi adalah ratu Inggris. “Ah, masa?” kata anak itu, “Harusnya ia pakai baju kayak ratu dong.”

Tomas tidak langsung percaya pada cerita murid-murid lain bahwa mereka sudah melihat Yesus yang bangkit. Meskipun ia mengenal mereka sebagai orang-orang yang jujur, ia tidak menerima begitu saja kesaksian mereka. Mirip dengan sikap bocah gembala tadi, ia menuntut Yesus membuktikan kebangkitan-Nya kepadanya. Yesus tidak meninggalkan Tomas dalam keraguannya. Dia mendatangi Tomas dan mengulurkan bukti yang dimintanya. Tidak diceritakan apakah Tomas benar-benar mencucukkan jarinya ke dalam bekas paku di tangan Yesus. Yang jelas, keyakinannya pulih. Ia berseru bahwa Yesus adalah “Tuhanku dan Allahku!” (ayat 28).

Ketika melewati lembah keraguan iman, kita dapat mengikuti jejak Tomas. Ia tetap setia kepada Tuhan dan tidak menjauh dari komunitas para murid. Ia tidak mengeraskan hati, tetapi menantikan jawaban atas keraguan itu. Dan Yesus tidak mengecewakan harapannya. Keraguan, dengan demikian, pada akhirnya malah dapat semakin menguatkan iman kita.

LAWAN DARI IMAN BUKANLAH KERAGUAN LAWAN DARI IMAN ADALAH KETAKUTAN

Penulis: Arie Saptaji
» Read more → [ Renungan harian ] 27 April 2009

[ Renungan harian ] 28 April 2009

Kematian yang Tragis
Baca : Lukas 13:1-9
Ayat Mas: Lukas 13:4
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 52-54

Sebuah pesawat terbang jatuh di laut dan menenggelamkan semua penumpangnya. Sebuah mobil berpenumpang terjun dari atas tempat parkir bertingkat di mal. Seorang pejalan kaki tewas tertimpa papan reklame. Yang lain mati tersambar petir. Ketika melihat orang meninggal dengan cara tragis, terkadang muncul pertanyaan: “Apa dosa mereka, hingga mesti mati dengan cara demikian?” Orang kerap menuduh hal itu terjadi karena ada “dosa besar” yang telah dilakukan sang korban.

Pandangan semacam itu sudah muncul sejak zaman Yesus. Suatu hari, delapan belas pekerja bangunan mati tertimpa me¬nara Siloam yang baru mereka bangun. Menara ini adalah proyek pemerintah Romawi, sang penjajah. Maka, orang pun berkata, “Itulah hukuman bagi mereka yang mau bekerja sama dengan penjajah!” Mereka mengira, jika Allah membiarkan seseorang mati secara tragis, pasti ada yang tidak beres dalam hidupnya. Ada “dosa serius”. Namun, Yesus membantah pandangan ini. “Dosa mereka tidak lebih besar dari dosamu,” kata-Nya. Kita tak boleh menilai layak tidaknya seseorang di mata Tuhan dari cara matinya, tetapi dari cara hidupnya. Sudahkah ada buah pertobatan? Orang yang matinya “terhormat” pun bisa kualat jika seumur hidup tidak bertobat.

Sudahkah kita memiliki buah pertobatan? Apakah tingkah laku kita saat ini sudah lebih baik dibanding dengan tahun-tahun lalu? Apakah kita sudah menjadi lebih sabar dan mampu menyangkal diri? Hidup beriman yang tidak menghasilkan perubahan adalah kehidupan yang tragis. Ini jauh lebih parah dan berbahaya daripada sebuah kematian yang tragis. Maka, hasilkanlah buah pertobatan.

YANG PENTING BUKAN CARA KITA MATI MELAINKAN CARA KITA HIDUP

Penulis: Juswantori Ichwan
» Read more → [ Renungan harian ] 28 April 2009

[ Renungan harian ] 29 April 2009

Investasi di Masa Depan
Baca : Maleakhi 4
Ayat Mas: Maleakhi 3:18
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 55-57

Suatu hari, tanpa sengaja saya mematahkan sebuah bangku milik sekolah. Lalu saya berinisiatif untuk melaporkan hal itu kepada seorang guru. Sebenarnya saya punya kesempatan untuk tidak melapor, karena tidak ada seorang pun yang tahu saat bangku itu patah. Namun, karena ingin berlaku jujur, saya secara sportif melaporkannya. Pada waktu saya melaporkan kejadian tersebut, terjadilah hal yang tidak saya harapkan. Saya terkena semprot kemarahan guru saya. Hati saya sangat dongkol saat itu. Berbuat jujur, tetapi malah tidak mujur. “Huh … percuma saya jujur, tahu gini mendingan tidak usah lapor.”

Kadang-kadang kita merasa bahwa berbuat baik itu tidak ada gunanya. Bahkan yang lebih menguntungkan justru jika kita berbuat hal yang tidak baik. Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa hal tersebut bisa saja terjadi dalam hidup kita. Kita bisa memandang bahwa menjadi orang fasik lebih enak dibandingkan menjadi orang yang takut akan Tuhan. Akan tetapi, semuanya akan benar-benar teruji pada hari ketika Tuhan mengadakan penghakiman. Nabi Maleakhi menyatakan bahwa pada hari tersebut orang-orang fasik yang tampak “beruntung” selama masa hidupnya akan seperti jerami yang habis terbakar dalam murka Allah. Sedangkan orang-orang yang takut akan Tuhan akan keluar dengan sorak-sorai dan kegirangan (ayat 1,2).

Ternyata berbuat hal yang baik di dalam Tuhan itu tidak akan percuma. Walaupun kelihatannya “rugi’, hal itu sesungguhnya adalah “investasi” kita untuk hari penghakiman kelak. Pada hari terakhir, semuanya akan terbukti.

JANGAN PERNAH MERASA “RUGI” BERBUAT BAIK KARENA ITU AKAN MENGUNTUNGKAN KITA PADA MASA MENDATANG

Penulis: Riand Yovindra
» Read more → [ Renungan harian ] 29 April 2009

[ Renungan harian ] 21 April 2009

Obat Mujarab
Baca : Matius 27:45-55
Ayat Mas: Matius 27:46
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 28-30

Apa persamaan dan perbedaan antara penyakit demam berdarah dan flu burung? Persamaannya adalah jika tidak segera diobati, keduanya dapat membawa kematian bagi si penderita. Perbedaannya, demam berdarah sudah ada obatnya, sedangkan flu burung belum ada obatnya. Berdasarkan perbedaan tersebut, maka orang cenderung merasa “lebih tenang” jika terserang demam berdarah dibanding jika terserang flu burung. Padahal dulu ketika obat demam berdarah belum ditemukan, di mana-mana orang sangat takut terhadap penyakit ini. Ya, demam berdarah tetaplah sebuah penyakit yang mematikan. Kenyataan ini tidak berubah. Hanya, pada zaman sekarang para ahli sudah menemukan obat untuk penyakit ini.

Demikian juga dengan dosa. Pada kenyataannya, dosa adalah penyakit rohani yang mematikan karena akan membawa si penderita masuk kepada hukuman kekal. Buktinya dapat dilihat pada waktu Tuhan Yesus menanggung dosa manusia di atas kayu salib. Dosa telah membuat Dia ditinggalkan oleh Allah Bapa (ayat 46). Dan, hukuman ini jauh lebih berat dibanding hukuman salib itu sendiri. Akan tetapi, syukur kepada Allah karena dari peristiwa salib itulah kita menemukan “obat paling manjur” yang dapat menghapuskan dosa kita.

Kedua, walaupun “obat” penghapus dosa sudah ditemukan di dalam Kristus, bukan berarti kita boleh tetap merasa tenang jika berbuat dosa. Sebab pada esensinya dosa tetaplah penyakit rohani yang serius di mata Allah. Penyakit rohani yang harus segera dibereskan sebelum terlambat. Kiranya setiap kita menikmati ampuhnya “obat” dari Kristus itu.

INGAT, UPAH DOSA ADALAH MAUT TETAPI DARAH KRISTUS ADALAH PENGHAPUSNYA

Penulis: Riand Yovindra
» Read more → [ Renungan harian ] 21 April 2009

[ Renungan harian ] 13 April 2009

Selangkah Lebih Maju Baca: Yohanes 20:19-22
Ayat Mas: Yohanes 20:22
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 7-9

Sebuah universitas di Surabaya memiliki semboyan “Selangkah Lebih Maju”. Maksudnya adalah berpikir dan bertindak melampaui apa yang ada sekarang. Berorientasi ke masa depan. Lebih dulu mengantisipasi dan mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan. Sebuah semboyan yang bagus, bukan?

Peristiwa Paskah yang kemarin kita peringati mengingatkan kita akan sosok Yesus Kristus yang juga senantiasa “selangkah lebih maju”. Sementara orang kebanyakan masih berkutat pada masa kini, Dia sudah bernubuat tentang masa depan. Sementara orang berduyun-duyun mau mendengar khotbah-Nya, Dia sudah mu¬lai menyiapkan para murid yang kelak bakal meneruskan karya-Nya. Sementara masih di tengah jalan, Dia sudah berbicara tentang penderitaan dan kematian-Nya. Sementara jasad-Nya mau dirempahi, Dia sudah bang¬it meninggalkan kubur. Dan, sementara para murid masih terperanjat akan kebangkitan-Nya, Dia sudah bicara tentang Roh Pentakosta. Dia selalu “selangkah lebih maju”. Mengapa? Sebab Dia Tuhan bagi masa depan.

Anda pasti mengenal lagu Paskah yang liriknya berbunyi, “S’bab Dia hidup, ada hari esok!” Ya, Paskah senantiasa mengingatkan kita bahwa Tuhan kita hidup dan Dia adalah Sang Pemilik hari esok. Tuhan yang selalu berjalan mendahului kita di depan. Memimpin dan menyediakan masa depan bagi anak-anak-Nya. Maka, jangan takut lagi me¬natap masa depan, seberat apa pun tantangan pada masa sekarang, sepahit apa pun pengalaman pada masa lalu. Ingat, kita berjalan ke depan dan Yesus sudah berjalan mendahului kita sebagai Pemimpin.

TUHAN YANG BANGKIT ITULAH PEMEGANG HARI ESOK KITA JADI, MARI BERJALAN BERSAMA DIA!

Penulis: Pipi Agus Dhali

» Read more → [ Renungan harian ] 13 April 2009

[ Renungan harian ] 14 April 2009

Pertandingan Iman Baca: 2 Timotius 4:5-8
Ayat Mas: 2 Timotius 4:5
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 10-12

Pada Olimpiade Meksiko 1968, Mamo Wolde dari Ethiopia memenangkan medali emas dalam cabang lari maraton. Ia mencatat waktu 2 jam 20 menit 27 detik. Namun, yang menjadi “bintang” justru John Stephen Akhwari dari Tanzania. Ia masuk finis sebagai pelari terakhir, 1,5 jam setelah Wolde. Ketika Akhwari masuk lapangan, medali sudah diserahkan, penonton sudah sepi. Ia berjalan tertatih-tatih dengan kaki penuh darah dan balutan. Ia sempat jatuh beberapa kali sebelum akhirnya menjejakkan kaki di garis finis. Penonton yang masih ada pun bersorak.

Kepada Bud Greenspan, seorang sutradara film yang mewawancarainya, Akhwari berkata, “Saya dikirim ke sini bukan hanya untuk memulai perlombaan, tetapi juga untuk menyelesaikannya.” Akhwari memang pelari terakhir di lomba tersebut. Namun, ia dicatat sebagai pelari yang menyelesaikan pertandingan hingga akhir, tidak undur atau menyerah kalah di tengah jalan.

Hidup kita seumpama pertandingan iman. Kita tengah berlari menuju garis finis (baca: kematian). Ada saat kita merasa lelah dan letih—bisa karena beban hidup yang berat, sakit penyakit yang berkepanjangan, atau juga karena kegagalan dan kepahitan yang terus mendera. Dalam keadaan demikian, janganlah kita menyerah atau undur. Teruslah “berlari” dengan iman kita. Seperti Akhwari yang terus berlari sampai garis finis, walaupun kakinya terluka dan berdarah-darah. Sehingga, kelak sebagaimana Paulus, kita juga bisa berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (ayat 7.

APABILA KELAK KITA TIBA DI GARIS ”FINIS”, APAKAH KITA KELUAR SEBAGAI PEMENANG ATAU PECUNDANG DALAM IMAN?

Penulis: Ayub Yahya
» Read more → [ Renungan harian ] 14 April 2009

[ Renungan Harian ] 15 April 2009

Merasa Dimusuhi Tuhan Baca: Mazmur 102:1-23
Ayat Mas: Mazmur 102:10,11
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 13-15

Suami saya selalu menunjukkan sikap per¬musuhan. Apa pun yang saya lakukan dianggap salah. Saya harus ba¬gai¬mana?” Keluh seorang ibu pada pendetanya. “Sudahkah Ibu berdoa memohon Tuhan melunakkan hatinya?” tanya Pendeta. Ibu itu menjawab, “Saya merasa Tuhan pun sedang memusuhi saya! Memang semuanya gara-gara saya. Beberapa tahun lalu saya pernah selingkuh. Sejak saat itu, biarpun sudah bertobat, saya merasa baik suami maupun Tuhan memusuhi saya!”

Ketika dimusuhi orang, kita bisa mengadu pada Tuhan. Namun, jika Tuhan pun buang muka, ke mana lagi kita bisa pergi? Situasi tanpa harapan ini pernah dialami pemazmur. Bagian pertama Mazmur 102 mengungkapkan kesengsaraannya saat dicela musuh sekaligus dimurkai Tuhan. Ia merasa Tuhan menyembunyikan diri (ayat 3) dan membiarkannya terpuruk (ayat 11). Akibatnya, semangat hidup pemazmur meredup. Ia layu bagai rumput (ayat 5,12). Tidak nafsu makan, tidak bisa tidur, dan merasa sangat kesepian (ayat 7,8). Namun, di bagian kedua (ayat 13-23), nada bicara pemazmur berubah. Muncul optimisme. Pemazmur yakin Tuhan masih sayang kepadanya (ayat 14). Kesetiaan Tuhan lebih besar daripada murka-Nya. Pasti Tuhan akan kembali mengasihani dan mendengarkan doa umat-Nya (ayat 17,18).

Hubungan dengan Tuhan bisa rusak karena dosa dan pemberontakan kita. Ketika hal itu terjadi, Tuhan terasa jauh. Wajah-Nya tampak seram bagai musuh. Namun, jika kita sudah bertobat, yakinlah bahwa Tuhan pasti kembali peduli. Dia tidak lagi berwajah marah, tetapi ramah. Jangan biarkan hidup Anda terus dihantui rasa bersalah!

SETIAP PERTOBATAN MENYURUTKAN MURKA TUHAN

Penulis: Juswantori Ichwan
» Read more → [ Renungan Harian ] 15 April 2009

[ Renungan Harian ] 12 April 2009

Fakta Kebangkitan Yesus
Baca : 1 Korintus 15:1-11
Ayat Mas: 1 Korintus 15:6
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 4-6

Tahun 2007 ada desas-desus bahwa makam dan tulang belulang Yesus Kristus telah ditemukan. Meski sempat membuat heboh, akhirnya disadari bahwa penemuan itu hanyalah sensasi. Banyak ahli sejarah akhirnya angkat bicara, bahwa tulang belulang tersebut bukan tulang belulang Ye¬sus. Berbagai publisitas kerap memberikan kesan bahwa sejarawan umumnya tidak percaya kebangkitan Yesus. Ada kesan bahwa menjadi pakar sejarah identik dengan meragukan peristiwa kebangkitan Yesus. Konon kebangkitan hanyalah dongeng yang tidak layak dipercaya oleh manusia yang rasional.

Paulus memberikan daftar kesaksian tentang kebangkitan Yesus. Termasuk lima ratus saksi yang sebagian besar masih hidup waktu Paulus menulis (ayat 6). Ini diberikan sebagai bukti sejarah bahwa kebangkitan Yesus bukanlah dongeng atau mitos semata. Iman kristiani sejak awal sangat serius dengan fakta. Beriman pada dongeng adalah kebodohan. Sebagai manusia modern, kita seharusnya tidak terburu-buru memutuskan mana yang mungkin dan tidak mungkin terjadi. Adalah naif untuk menilai bahwa orang-orang pada masa Yesus percaya mukjizat karena mereka tidak memahami hukum ilmu alam seperti kita. Sejak dulu orang sudah tahu bahwa orang mati tidak bangkit, dan bahwa catatan di Injil adalah laporan kejadian yang tidak biasa.

Apakah Anda tergoda dengan propaganda media bahwa kebangkitan Yesus hanya dongeng? Bacalah Injil dan surat-surat Paulus. Anda akan sadar bahwa kisah itu memiliki kualitas luar biasa sebagai laporan faktual. Jangan mudah percaya kepada isu dan sensasi media. Percayalah pada kebangkitan-Nya.

UJILAH SEGALA SESUATUPEGANGLAH YANG BENAR DAN JADILAH BIJAKSANA!

Penulis: Denni Boy Saragih
» Read more → [ Renungan Harian ] 12 April 2009