Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian [ Desember 2009 ]. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian [ Desember 2009 ]. Tampilkan semua postingan

Renungan Harian 26 Desember 2009

Saatnya untuk Memberi
Baca: Matius 1:18-25, 2:9-11
Ayat Mas: Matius 2:11
Bacaan Alkitab Setahun: Wahyu 4-6

Tanggal 26 Desember di Inggris dikenal sebagai Boxing Day. Sejarahnya, dulu di Inggris, para pelayan diharuskan tetap bekerja pada hari Natal. Tenaga mereka dibutuhkan karena majikan mereka biasanya mengadakan pesta Natal. Sehari setelah Natal barulah mereka bisa pulang kepada keluarganya. Biasanya pada saat mereka pulang itu, para majikan membekali mereka dengan berbagai hadiah. Saat ini, Boxing Day berkembang menjadi saat memberi hadiah kepada orang-orang yang sepanjang tahun telah mengabdikan dirinya melayani di berbagai bidang. Misalnya, para pekerja rumah tangga, penjaga mercusuar, tukang sampah, dan polisi lalu lintas.

Semangat utama yang melandasi Natal adalah semangat memberi. Berawal dari Allah yang memberi Putra-Nya Yang Tunggal untuk menyelamatkan manusia. Lalu, Maria dan Yusuf yang memberi dirinya untuk dipakai Allah sebagai sarana karya penyelamatan-Nya (Matius 1:18-25). Juga para majus yang datang jauh-jauh dari Timur untuk memberi benda-benda berharga sebagai persembahan buat Sang Bayi Kudus (Matius 2:9-11).

Maka, sebaiknyalah semangat memberi ini pula yang kita hidupi pada masa Natal ini; memberi kepada para sahabat dan handai taulan; memberi kepada orang-orang yang sehari-hari kita temui di kantor, di jalan, di gereja. Pemberian kita bisa berupa materi, bisa juga berupa tangan yang siap membantu, telinga yang siap mendengar, hati yang terbuka untuk menjadi saluran kasih sayang dan tercermin dalam senyum ramah, ungkapan terima kasih yang tulus, dan sapaan hangat. Mari kita jadikan Natal sebagai saat untuk memberi.

Pada masa natal ini berapa banyak orang yang telah merasakan sukacita karena pemberian kita?

» Read more → Renungan Harian 26 Desember 2009

Renungan Harian 27 Desember 2009

Hati Seorang Hamba
Baca: Lukas 1:26-38
Ayat Mas: Lukas 1:38
Bacaan Alkitab Setahun: Wahyu 7-9

Hamba adalah seseorang yang menyadarkan dirinya untuk selalu berserah dan hanya menuruti segala kehendak tuannya. Demikian pula setiap orang yang mengaku sebagai hamba Allah, seharusnya siap untuk berkata, ”Jadilah kehendak-Mu.” Kita mungkin akan segera menjawab bahwa kita bisa mengatakannya. Namun, ketika sebuah kenyataan berat menuntut jawaban kita tersebut, sungguhkah kita dapat melakukannya? Adakah kita sungguh mau menerima kehendak Allah dengan segala konsekuensinya, atau kita cenderung ingin mengubah kehendak Allah itu? Mari belajar dari Maria, ibu Yesus. Ketika malaikat Gabriel membawa berita bahwa Maria akan mengandung, berbagai tanya muncul. Bagaimana hubungan saya dengan Yusuf? Bagaimana masa depan saya? Menjadi ibu Sang Mesias merupakan kehormatan. Namun, harga yang harus dibayar terasa begitu berat karena harus dibayar dengan seluruh masa depannya.

Biasanya orang gagal untuk berkata, “Jadilah kehendak-Mu” karena tidak bersedia membayar harga. Namun, Maria tidak gagal. Ia menjawab, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Dalam jawaban ini kita melihat apa yang dipikirkan Maria, yakni bahwa ia sangat menyadari siapa dirinya dan siapa Tuhan. Kebenaran itulah yang membuatnya tunduk.

Kita pun harus menyadari bahwa kita ini milik Allah, hidup kita untuk Allah; tidak lagi untuk diri sendiri. Maka, apa pun yang dikehendaki Tuhan harus kita terima, apa pun keputusan-Nya. Jika kita menganggap bahwa Tuhan itu Allah, dan bukan “alat”, sesungguhnya apa pun yang Dia putuskan pasti benar, adil, dan terbaik. Allah tidak akan memberi rancangan jahat bagi kita, umat tebusan-Nya.

Hati yang berserah akan selalu penuh damai sejahtera ketika menaati kehendak Allah

Penulis: Eddy Nugroho
» Read more → Renungan Harian 27 Desember 2009

Renungan Harian 28 Desember 2009

Buku Panduan
Baca: Mazmur 119:88-105
Ayat Mas: Mazmur 119:105
Bacaan Alkitab Setahun: Wahyu 10-12

Belum lama saya membeli handphone baru. Saya merasa begitu kesulitan saat pertama kali memakainya karena tidak mengerti cara menggunakannya. Lalu saya membaca buku panduan penggunaannya. Dan terperangah mendapati begitu banyak fasilitas yang tersedia dan dapat dipergunakan. Namun, ada juga banyak larangan dan peringatan, demi keamanan saya dan orang-orang yang berkomunikasi dengan saya. Sayangnya, banyak orang tidak mematuhi peringatan itu, sehingga terjadi kecelakaan yang tak diinginkan. Ada juga yang enggan membaca buku panduan, sehingga tak maksimal memakai fitur yang ada.

Demikian juga Tuhan sudah memberi kita buku panduan hidup, yaitu firman Tuhan agar kita hidup dengan baik, sesuai maksud dan rencana-Nya mencipta kita. Namun, kita kerap kali malas membaca firman Tuhan, dan hidup semau kita seperti orang bebal. Karena itu jangan heran jika hidup kita terasa kacau dan tidak efektif. Bahkan, menjadi malapetaka bagi orang lain. Kita membaca bahwa pemazmur terus merenungkan firman Tuhan dalam hari-harinya. Itulah yang menjadikannya lebih bijak daripada musuh, pengajar, dan bahkan orangtua. Hidupnya pun tidak menyimpang dari hukum-hukum Tuhan. Firman Tuhan pula yang menjadi kekuatannya saat mengalami kesengsaraan. Firman Tuhan begitu penting baginya seperti pelita yang menerangi jalannya yang gelap (ayat 105).

Sebab Tuhan yang menciptakan kita, Dia pula yang paling tahu bagaimana kita harus menjalani hidup ini. Jika kita mau hidup maksimal seperti yang Tuhan inginkan, tak ada jalan lain kecuali setia merenungkan dan melakukan firman-Nya.

Firman Tuhan adalah petunjuk menjalani hidup. Mengabaikannya berarti menyia-nyiakan hidup

Penulis: Vonny Thay
» Read more → Renungan Harian 28 Desember 2009

Renungan Harian 29 Desember 2009

Bersih Tangannya
Baca: Mazmur 24
Ayat Mas: Mazmur 24:3,4
Bacaan Alkitab Setahun: Wahyu 13-15

Pada hari Pemilu Presiden Juli 2009 lalu, saya menerima beberapa SMS. Isinya menuduh calon presiden tertentu berniat jahat terhadap umat kristiani, sehingga umat dihimbau tidak memilihnya. Tidak jelas dari mana asalnya berita itu. Yang jelas, SMS itu telah menjadi pesan berantai yang diteruskan ke mana-mana, tanpa diteliti dulu kebenarannya. Teknologi SMS memudahkan orang menyebarluaskan berita dengan cepat ke banyak orang, cukup dengan menekan tombol “send”. Orang tidak sadar bahwa ketika ia meneruskan pesan berisi fitnah, ia pun masuk dalam jaringan pemfitnah!

Menipu dan memfitnah adalah persoalan serius di mata Tuhan. Di Mazmur 24, pemazmur bertanya: “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan?” Gunung Tuhan adalah Bukit Sion, sebuah bukit di Yerusalem tempat Bait Allah berdiri. Lokasi ini dipandang sangat kudus, sebab kehadiran Tuhan nyata disana. Maka, tidak semua orang boleh naik ke situ untuk mendekati Tuhan dan menikmati hadirat-Nya. Hanya “orang yang bersih tangannya dan murni hatinya” (ayat 4). Bersih tangannya berarti tidak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Tidak menipu dan memfitnah. Sedang murni hatinya berarti tulus. Tidak memakai intrik untuk menjatuhkan sesama. Itulah syarat untuk mendekat dan menerima berkat serta keadilan Allah (ayat 5).

Penipuan dan fitnah bisa terjadi lewat gosip dari mulut ke mulut, lewat SMS, e-mail, maupun internet. Waspadalah! Jagalah agar tangan dan hati kita selalu bersih, dengan tidak menyebarkan pesan yang belum jelas kebenarannya. Keakraban kita dengan Tuhan terkait erat dengan perbuatan dan hati yang bersih.

Tanpa kemurnian dalam kata dan perbuatan, tidak dapat kita mendekat pada Tuhan

Penulis: Juswantori Ichwan
» Read more → Renungan Harian 29 Desember 2009

Renungan Harian 30 Desember 2009

Pengujung Tahun
Baca: Yakobus 4:13-16
Ayat Mas: Yakobus 4:14
Bacaan Alkitab Setahun: Wahyu 16-18

Kita sudah berada di pengujung tahun 2009. Sebetulnya pengujung tahun atau bukan, itu hanya soal penanggalan (kalender). Di dunia ini ada banyak sekali penanggalan; ada kalender Yahudi, kalender Persia, kalender Jawa, kalender Hindu, kalender China, dan sebaginya. Setiap kalender memiliki perhitungan sendiri. Tahun ini seperti yang kita kenal sekarang adalah penanggalan barat (tahun masehi). Kalender ini adalah karya Paus Gregorius XIII tahun 1508 (karena itu sering juga disebut Kalender Gregorius), perhitungannya dimulai dari kelahiran Tuhan Yesus.

Akan tetapi, terlepas kalender apa pun yang digunakan, pemahaman tentang “pengujung tahun” tetaplah sangat penting. Itu mengingatkan kita akan kefanaan hidup ini, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini akan berakhir. Hidup kita, dengan segala suka dan dukanya, kesuksesan dan kegagalannya, cepat atau lambat akan berlalu. Yakobus mengumpamakan hidup ini seperti uap “yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (ayat 14). Ya, betapa ringkih dan rapuhnya hidup kita di dunia ini.

Maka, baiklah kita bijak dalam menjalani hari-hari kita, agar kita tidak salah melangkah, yaitu dengan senantiasa melibatkan Tuhan dalam setiap rencana (ayat 15). Jangan berpikir, bahwa kita akan mampu menentukan dan melakukan segala-galanya seorang diri, tanpa Tuhan. Itu adalah sebuah kecongkakan (ayat 16). Sebab, betapa pun hebatnya kita, tetaplah kita ini mahluk yang fana. Mari, dalam setiap langkah, kita selalu ingat dan lekat pada Sang Pencipta. Hanya dengan demikian hidup kita akan terjaga. Selamat menyongsong tahun yang baru.

Hidup ini bukan warisan yang bisa kita pergunakan seenaknya, melainkan titipan Tuhan yang harus kita pertanggungjawabkan

Penulis: Ayub Yahya
» Read more → Renungan Harian 30 Desember 2009

Renungan Harian 31 Desember 2009

MENJAGA KOMITMEN
Baca: Filipi 3:4-16
Ayat Mas: Filipi 3:13
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 7-9

Banyak tokoh di dunia ini terus menginspirasi masyarakat luas untuk jang- ka waktu yang cukup lama. Di antaranya Martin Luther King, Jr., yang berjuang melawan diskriminasi ras di Amerika Serikat dan William Wilberforce, yang berjuang menghapus perbudakan di Inggris. Apakah kunci keberhasilan mereka? Mereka terus menjagai komitmen yang telah dibuat. Walaupun harus mengalami masa-masa berat, mereka pantang menyerah sehingga mencapai akhir perjuangan.

Alkitab juga mencatat tokoh-tokoh yang menjaga komitmen hingga akhir. Contohnya Paulus. Setelah bertobat, ia memberitakan Injil, terutama kepada bangsa bukan Yahudi. Dan itu sungguh tak mudah. Begitu banyak tantangan berat menghampirinya; dari kaum Yahudi, dari orang-orang bukan Yahudi, dari alam (2 Korintus 11:23-33), bahkan dari penyakit tubuhnya (2 Korintus 12:7,8). Namun, ia tetap dapat menjaga komitmennya. Rahasianya? Dari waktu ke waktu ia menjalani pertandingan iman dengan selalu melupakan apa yang di belakang (dalam bahasa Yunani kata melupakan di sini tidak sama seperti kalau kita lupa sesuatu. Ini lebih berarti tidak berfokus ke masa lalu, tetapi kepada tujuan, visi hidup di depan) dan mengarahkan diri pada tujuan hidupnya, yakni memenuhi panggilan Tuhan (Filipi 3:13,14).

Apakah berbagai tantangan juga terus menghantam hingga Anda sulit menjaga komitmenterhadap keluarga, pekerjaan, studi, atau pelayanan? Seperti Paulus, kita ini hamba yang dituntut untuk taat, maka mintalah kekuatan dari Dia. Seperti Paulus, kita ini hamba yang Tuhan pilih dan layakkan untuk menjadi saksi-Nya, maka ingatlah pentingnya tugas yang harus terus kita kerjakan

KOMITMEN MEMBUTUHKAN KETEKUNAN YANG MEMANDANG JELAS PADA TUJUAN AKHIR

Penulis: Alison Subiantoro
» Read more → Renungan Harian 31 Desember 2009

Renungan Harian 19 Desember 2009

Tujuh Keajaiban Dunia
Baca: Matius 11:20-24
Ayat Mas: Matius 11:20
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Timotius 4-6

Seorang guru memberi tugas kepada murid-muridnya untuk menyebutkan tujuh keajaiban dunia. Sebagian besar murid segera menuliskan jawabannya di kertas mereka. Namun, Ririn hanya termangu-mangu di bangkunya. Dan ketika jam pelajaran hampir selesai, kertasnya masih kosong. Gurunya heran karena Ririn tergolong anak cerdas. ”Masakan kau tidak tahu satu pun keajaiban dunia, Rin?” tanya gurunya. ”Sebenarnya banyak, Bu, tapi saya bingung memilih yang mana.” Kening gurunya berkerut, dan meminta Ririn menjelaskan. Ririn pun menyebutkan keajaiban dunia versinya: bisa melihat, bisa mendengar, bisa berkata-kata, bisa menyayangi, dan sebagainya. Gurunya tertegun, sekaligus tersadar: betapa mudah kita mengagumi karya hebat buatan manusia, dan menganggap biasa saja berbagai keajaiban yang Tuhan karuniakan secara cuma-cuma!

Yesus mengecam Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum karena menyambut dingin karya Tuhan di tengah mereka. Kota-kota itu termasuk daerah yang pertama kali mendengar berita pertobatan yang disampaikan Yesus. Berbagai mukjizat juga Dia lakukan. Yesus bahkan memilih Kapernaum sebagai kediaman-Nya sekeluar dari Nazaret. Namun, kota-kota itu bergeming. Berita Injil dan mukjizat Tuhan tak menggugah mereka bertobat dan berbalik dari kejahatan mereka.

Menurut Roma 2:4, maksud kemurahan Allah ialah menuntun kita ke dalam pertobatan: mengalami perubahan hati, sikap, dan perilaku. Bagaimana tanggapan kita terhadap firman yang kita dengar dan kita baca? Bagaimana sikap kita terhadap kebaikan yang Tuhan limpahkan dalam hidup kita?

Bersyukur atas keajaiban Tuhan dalam hidup kita adalah titik awal menuju pertobatan dan perubahan hidup

Penulis: Arie Saptaji
» Read more → Renungan Harian 19 Desember 2009