Tampilkan postingan dengan label Renungan Agustus 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Agustus 2009. Tampilkan semua postingan

Renungan harian 8 Agustus 2009

Di Balik Layar
Baca : 2 Timotius 1:16-18
Ayat Mas: 2 Timotius 1:16
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 9-12

Dalam sebuah retret yang diselenggarakan bagi sebagian penulis Renungan Harian, saya mendapat kesempatan untuk berkenalan dengan banyak orang baru. Beberapa di antaranya adalah para staf Renungan Harian yang selama ini lebih banyak bekerja di balik layar. Misalnya ada Pak Agus yang mengomandani penyebaran Renungan Harian, juga Ibu Aan yang bertanggung jawab di bagian keuangan. Juga para staf lain yang “tidak tampil”. Mereka adalah orang-orang yang mungkin tidak banyak dikenal oleh publik. Namun tanpa andil mereka, tulisan ini dan buku ini tidak mungkin dapat kita baca sekarang ini.

Dalam pelayanan Rasul Paulus pun ada orang-orang seperti mereka. Keluarga Onesiforus adalah salah satunya. Keluarga ini sempat mengunjungi Paulus ketika ia dipenjara. Tampaknya kunjungan tersebut menjadi berkat yang besar bagi pelayanan Paulus dan telah menyentuh hatinya. Sehingga dalam bagian Alkitab yang kita baca hari ini, secara khusus Paulus mengambil kesempatan untuk mengungkapkan terima kasihnya kepada mereka.

Di balik setiap keberhasilan kita, biasanya ada orang-orang yang berperan dari balik layar. Mereka mungkin suami atau istri kita, anak-anak kita, sahabat, saudara, bawahan, pembantu rumah tangga, sopir, dan lain-lain. Kerap kali jasa mereka terlupakan. Padahal tanpa mereka, keberhasilan tersebut tidak akan dapat kita raih. Oleh karena itu, kita harus mengingat, mengakui, dan berterima kasih atas jasa mereka. Kenyataan ini juga mengingatkan kita untuk tidak menjadi sombong atau merasa hebat karena diri kita sendiri

JANGAN PERNAH ANGGAP KECIL MEREKA YANG BERPERAN DI BALIK LAYAR

Penulis: Alison Subiantoro
» Read more → Renungan harian 8 Agustus 2009

Renungan Harian 10 Agustus 2009

Pengaruhnya Semakin Besar
Baca : Matius 13:31-33
Ayat Mas: Matius 13:32
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 17-20

Di Indonesia, arus listrik sering padam. Entah karena kerusakan teknis atau pemadaman bergilir. Hal ini sangat meresahkan, karena masyarakat sudah sangat bergantung pada listrik. Dulu, listrik dipakai hanya sebatas menyalakan lampu. Kini, pemakaiannya merambah ke segala bidang. Hampir semua kegiatan memerlukan listrik: mendinginkan ruangan, menjalankan mesin, menonton televisi, menyalakan komputer, dan lain-lain. Pengaruhnya semakin besar. Tidak bisa lagi kita hidup nyaman tanpanya!

Pengaruh atau dampak Kerajaan Surga juga begitu. Ia seumpama biji sesawi. Mula-mula kecil mungil. Tak terasa hadirnya, apalagi dampaknya. Namun, setelah tumbuh, ia menjadi pohon besar tempat bernaung burung-burung. Dampaknya sangat terasa. Burung-burung tak bisa hidup nyaman tanpanya. Kerajaan Surga juga seumpama ragi dalam adonan. Ketika ditaruh sejumput, tampaknya tidak terjadi apa-apa. Namun, perlahan tetapi pasti, 3 sukat adonan (hampir 40 liter) akan dipengaruhi hingga mengembang. Itulah yang terjadi saat kita hidup dalam Kerajaan Surga. Sewaktu baru beriman pada Kristus, mungkin Tuhan dan Firman-Nya belum terlalu memengaruhi hidup. Tetapi, makin lama dampaknya makin besar. Kristus dan Firman-Nya memengaruhi pikiran dan hati. Mewarnai setiap aksi. Menjadi sumber inspirasi.

Hidup dalam Kerajaan Allah tak pernah statis. Ada pertumbuhan. Pengaruh Kristus seharusnya semakin terasa, hingga kita tak nyaman lagi hidup tanpa merasakan hadir-Nya. Seberapa besar Yesus telah memengaruhi cara pikir, sikap, dan tindakan Anda?

IMAN YANG HIDUP SELALU BERGERAK MAJU, TIDAK PERNAH BERHENTI DI TEMPAT

Penulis: Juswantori Ichwan
» Read more → Renungan Harian 10 Agustus 2009

Renungan Harian 1 Agustus 2009

Berani Hidup
Baca : Filipi 1:20-26
Ayat Mas: Filipi 1:21
Bacaan Alkitab Setahun: Zefanya 1-3

Seorang pemuda Palestina melilit tubuhnya dengan rangkaian bom. Keringat dingin membasahi wajahnya. Ia tahu, sebentar lagi ia akan mati. Namun, tekadnya sudah bulat: ingin membalas kejahatan musuh. Lalu dinaikinya sebuah bus umum. Ditekannya sebuah tombol. Bom itu meledak. Tubuhnya pun hancur lebur. Bagi kelompoknya, pemuda ini dipandang sebagai pahlawan, sebab ia berani mati untuk keyakinannya. Namun, ada yang jauh lebih susah dan lebih heroik daripada sekadar berani mati, yakni berani hidup. Tegar menghadapi hidup yang penuh penderitaan dengan tabah.

Rasul Paulus bukan hanya berani mati, melainkan juga berani hidup. “Bagiku hidup adalah Kristus,” katanya. Jadi, alasan terkuat untuk hidup adalah untuk melakukan perbuatan yang memuliakan Kristus: melayani jemaat, menolong sesama, serta memberitakan kasih Allah. “Mati adalah keuntungan.” Untung, sebab bisa bertemu Kristus muka dengan muka dan beristirahat dari jerih lelah di dunia. Jadi, ia berani mati, tetapi juga berani hidup. Namun, Paulus lebih memilih untuk hidup “karena kamu”. Karena ia masih ingin berbuat banyak hal demi menjadi berkat bagi sesamanya. Ia bergairah hidup karena agenda kerjanya masih penuh cita-cita mulia.

Menjadi orang yang berani mati saja tidak cukup. Kita juga harus berani hidup. Berani menjalani hari demi hari dengan penuh semangat, walaupun banyak kesulitan menghadang. Untuk itu, kita perlu memiliki visi hidup seperti Paulus. Ia hidup bagi Tuhan dan sesama, tidak sibuk untuk diri sendiri saja. Akibatnya, hidup senang, mati pun tenang.

BERIKANLAH HIDUPMU BAGI SESAMA, MAKA TIAP HARI AKAN JADI BERMAKNA

Penulis: Juswantori Ichwan
» Read more → Renungan Harian 1 Agustus 2009