Tampilkan postingan dengan label 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2009. Tampilkan semua postingan

Renungan Harian 4 Agustus 2009

Mengapa Harus Meniru?
Baca: Galatia 2:1-14
Ayat Mas: 1 Korintus 4:1
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 1-2

Seorang rabi muda menggantikan ayahnya. Umat banyak yang protes, karena mereka sering membandingkannya dengan ayahnya, rabbi senior yang mereka hormati. Dalam pertemuan jemaat, kritik kepadanya berbunyi “Engkau tidak seperti ayahmu”. Dengan tenang rabi muda menjawab, “Kalian tahu, ayahku seorang yang tidak pernah meniru siapa pun. Kini biarkan aku menjadi diriku sendiri, tidak meniru siapa pun, termasuk meniru ayahku. Dengan begitu, bukankah aku justru mirip ayahku?”

Sebagai rasul, Paulus adalah pendatang baru. Ketokohan para senior membayanginya. Apalagi jemaat di Yerusalem masih banyak yang mencurigainya, bahkan mempertanyakan kerasulannya. Namun, Paulus tidak gentar. Ia yakin akan panggilan Tuhan baginya. Ia tahu apa tugasnya, yaitu menginjil kepada orang-orang bukan Yahudi (ayat 2,7). Ia tidak mencari popularitas. Ia tidak mencari permusuhan, malahan dengan giat membangun persekutuan (ayat 9). Namun, ia juga tidak mencari muka di depan para seniornya. Ia berpendirian teguh dan menjunjung tinggi kebenaran. Bahkan ia berani menegur Petrus (Kefas) dengan tulus (ayat 11).

Godaan untuk meniru dan menyesuaikan diri dengan harapan banyak orang sering mengusik kita. Mengapa? Karena kita ingin diterima. Kita pun sering tergoda untuk mencari muka di depan orang yang berpengaruh. Padahal mereka pun bisa salah. Hari ini kita belajar perlunya mandiri dalam bersikap, tanpa berlaku sok pintar. Teguh dalam pendirian, tanpa menjadi keras kepala. Menjadi diri sendiri, tanpa merendahkan orang lain.

TUHAN MENCIPTAKAN KITA MASING-MASING UNIK. JADI KENAPA MESTI MENIRU ORANG LAIN?

Penulis: Pipi Agus Dhali
» Read more → Renungan Harian 4 Agustus 2009

Renungan Harian 7 Agustus 2009

Penghormatan Nancy
Baca : 1 Petrus 2:13-17
Ayat Mas: 1 Petrus 2:17
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 7-8

Cahyo dan istrinya sangat terkesan ketika diundang Nancy makan malam di restoran. Bukan oleh makanannya, tetapi oleh perlakuan Nancy. Begitu mereka duduk, hal pertama yang dilakukan Nancy adalah mematikan telepon genggam. Melihat wajah Cahyo yang keheranan, Nancy menjelaskan, “Ini yang biasa kulakukan kalau bikin janji dengan siapa saja. Aku sudah mengatur waktu ini khusus untuk kalian dan aku tidak ingin ada orang lain yang mengganggu. Mereka bisa menunggu pada jam yang lain. Lagi pula, aku bukan dokter dan tidak sedang dalam keadaan darurat.”

Kita biasanya memberikan penghormatan kepada pemimpin atau orang yang lebih tua. Penghormatan dari seorang kawan baik seperti Nancy jadi terasa istimewa. Namun, firman Tuhan memberikan perintah yang tanpa batas, yaitu agar kita menghormati semua orang. Bagi orang-orang pada zaman Petrus, perintah tersebut sangat menyentak. Saat itu di kekaisaran Romawi ada sekitar 60.000 budak. Menurut hukum yang berlaku, mereka bukanlah manusia, melainkan barang dagangan. Petrus menggugat cara pandang itu, dan menantang orang percaya untuk memperlakukan budak sebagai manusia.

Penghormatan berarti mengakui harkat dan martabat setiap manusia sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan menurut gambar dan rupa-Nya. Memberikan perhatian penuh pada saat orang lain berbicara dengan kita adalah langkah awal yang sederhana, tetapi kerap kita abaikan. Kita dapat belajar dari Nancy. Orang-orang yang berhubungan dengan kita, siapa pun dia, patut kita perlakukan sebagai manusia yang layak dihargai.

MENGHORMATI SETIAP MANUSIA BERARTI MENGHORMATI ALLAH YANG MENCIPTAKANNYA

Penulis: Arie Saptaji
» Read more → Renungan Harian 7 Agustus 2009

Renungan 5 Agustus 2009

Waspada Sejak Dini
Baca : Kejadian 4:1-16
Ayat Mas: Kejadian 4:7
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 3-4

Dalam salah satu cerita Donal Bebek, pernah dikisahkan Donal yang bingung untuk bertindak; bertindak baik atau bertindak buruk. Lalu muncullah dua figur di kepalanya, yakni tokoh putih dan tokoh hitam. Kedua figur itu mati-matian berusaha memengaruhi Donal agar memperhatikan dan mengikuti nasihat mereka yang pastilah berseberangan. Donal pun harus memilih, mana yang ia ikuti: nasihat si tokoh putih atau hitam.

Firman Tuhan hari ini berkisah tentang Kain yang iri dan marah kepada Habel karena persembahannya tidak diindahkan Tuhan. Sangat mungkin ia juga merasa malu, karena terjemahan bahasa Ibrani dari “muka muram” (ayat 6) adalah “wajahnya jatuh”. Wajah jatuh berarti tak punya muka. Tak punya muka berarti malu. Jadi, Kain menjadi iri, marah, dan sekaligus malu akibat Tuhan menolak persembahannya. Akibatnya, Kain melampiaskan kemarahan dan rasa malu serta iri hatinya kepada Habel, adiknya. Kain membunuh Habel. Ini bukan tanpa peringatan Tuhan. Sebetulnya Tuhan sudah memperingatkan Kain, agar “berkuasa atas dosa yang sudah mengintip di depan pintu” (ayat 7). Namun, agaknya kuasa dosa yang mengintip di pintu hati Kain yang marah dan malu itu terlalu besar untuk dapat ia kuasai. Hasilnya tragis: Darah Habel tercurah ke tanah akibat pembunuhan yang dilakukan oleh kakak kandungnya.

Godaan si jahat harus kita kalahkan sejak awal; sejak godaan itu masih berupa benih. Itu jauh lebih mudah daripada kita mencoba mengalahkannya ketika godaan itu sudah menjadi pohon yang besar

DOSA BESAR BERAWAL DARI KEINGINAN KECIL

Penulis: Daniel K. Listijabudi

» Read more → Renungan 5 Agustus 2009