Renungan 9 September 2010

Memperluas Lingkaran Kasih
Baca: Kisah Para Rasul 11:1-18
Ayat Mas: Matius 5:47
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 77-78; Roma 10

Apa yang Anda lakukan saat berada dalam lift yang penuh sesak? Anda akan
menunduk, menatap pintu, atau meng­­utak-ngatik telepon genggam. Anda
menghindari kontak mata, karena merasa tidak nyaman berdekatan dengan
orang asing. Ini bukti bahwa tiap orang memiliki boundary: tembok
pembatas tak terlihat di sekeliling tubuhnya. Jika seorang asing
men­coba mendekat, secara refleks tubuh akan resah dan bergerak menjauh
sampai ke "jarak aman". Tidak heran kita hanya me­rasa nyaman berada
dalam lingkungan keluarga dan teman. Lingkaran kasih kita sempit.

Jemaat mula-mula juga hidup dalam lingkaran kasih yang sempit. Sebagai
orang Yahudi, mereka enggan bergaul de­ngan orang non-Yahudi. Mereka
keberatan Petrus pergi ke rumah orang non-Yahudi dan melakukan
pembaptisan. Hal itu dianggap najis. Petrus lalu menjelaskan bahwa
pembedaan antara yang najis dan halal kini telah dihapuskan Tuhan (ayat
5-9). Kepada Petrus, Tuhan juga menunjukkan bahwa orang non-Yahudi pun
mendapat lawatan Roh yang sama seperti yang mereka alami (ayat 15-17).
Cara pandang Petrus berubah. Pengalaman ini memperluas ling­karan kasihnya.

Lingkaran kasih kita perlu diperluas dengan meruntuhkan tem­bok pembatas
yang membuat kita malas menjangkau orang asing. Ini tidak bisa terjadi
dengan sendirinya. Kita perlu berjuang menga­tasi rasa tidak nyaman.
Lalu, membangun jembatan persahabatan dengan orang di sekitar yang
berbeda suku, agama, budaya, mau­pun status sosialnya. Jika kita tidak
mau keluar dari zona nyaman, bagaimana orang bisa mendengar berita
keselamatan?

KITA BISA MENJADI BERKAT

HANYA SELUAS LINGKARAN KASIH YANG KITA BUAT

Penulis: Juswantori Ichwan

Tidak ada komentar: