Baca: Filipi 4:10-13
Ayat Mas: Keluaran 20:17
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 30,31; Kisah Para Rasul 13: 26-52
Kawan saya, suami-istri pemilik warung makan sederhana, mengatur
keuangan secara menarik. Setiap hari mereka menyisihkan penghasilan ke
dalam beberapa kaleng menurut keperluan-keperluan tertentu. Dengan cara
itu, mereka berhasil mencicil sepeda motor selama dua tahun, dan kini
masih aktif membayar premi asuransi pendidikan untuk kedua anak mereka.
Apa kunci mereka dalam berdisiplin mengelola keuangan? "Tidak sering
jalan-jalan," kata sang istri. Lo, kok? "Kalau sering jalan-jalan, kan
banyak yang dilihat. Kalau banyak yang dilihat, banyak juga yang
diinginkan," jelasnya.
Firman Tuhan secara khusus menyoroti keinginan. Sesuatu yang masih
tersimpan di dalam hati; belum terwujud menjadi tindakan—tetapi, mengapa
dilarang? Memangnya ada yang salah dengan keinginan? Apakah manusia
tidak boleh memiliki keinginan? Tentu tidak. Yang dikedepankan oleh
perintah Allah itu ialah pentingnya mengendalikan keinginan. Tidak semua
hal perlu diinginkan. Keinginan ada yang patut dan ada yang tidak patut;
mesti dipilah dan dipilih mana yang sesuai dengan firman-Nya.
Meskipun masih di dalam hati, keinginan yang tidak terkendali menjadikan
kita rentan terhadap pencobaan. Bukannya mengumbar keinginan, Paulus
mendorong kita untuk selalu "belajar mencukupkan diri dalam segala
keadaan" (ayat 11). Belajar untuk bersyukur atas apa yang sudah kita
miliki; berkat yang sudah disediakan Tuhan. Dengan begitu, kita akan
menggunakan berkat tersebut secara efektif. Kita tidak
menghambur-hamburkannya untuk keinginan yang sia-sia, tetapi
memanfaatkannya untuk hal-hal yang bermakna.
KEINGINAN YANG TIDAK DIKENDALIKAN
AKAN BERBALIK MENGENDALIKAN KITA
Penulis: Arie Saptaji
Tidak ada komentar:
Posting Komentar