Renungan 12 Maret 2010

Dusta
Baca: Kisah Para Rasul 5:1-11
Ayat Mas: Amsal 3:32
Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 4-6

Membiarkan berkembangnya sesuatu yang berpengaruh buruk adalah
kesa­lah­an serius. Ibarat penyakit menular, jika di­biarkan ia akan
semakin banyak me­ma­kan korban. Ibarat sel kanker, jika sudah
ber­kembang hingga ke stadium lanjut, ia akan semakin sukar dilumpuhkan.
Ibarat ke­biasaan buruk, jika dibiarkan sejak a­nak-anak akan menjadi
watak yang buruk. Da­ya rusaknya sudah terlampau kuat un­tuk dihambat.
Satu-satunya cara me­ng­a­tasi hanya dengan mencegah atau
mem­berantasnya selagi masih dini. Gereja di zaman para rasul tentu
ma­sih amat "muda". Tugasnya adalah men­ja­di saksi kebenaran injil
Yesus Kristus. Dalam pengadilan di masa itu, kebenaran se­buah kesaksian
harus dikukuhkan oleh dua orang saksi. Jadi, banyak murid diutus
berpasangan—seperti Pe­trus dan Yohanes atau Paulus dan Barnabas—untuk
meneguhkan ke­­be­nar­an injil. Dusta adalah dosa yang bertolak belakang
dengan tu­gas menjadi saksi. Menjadi saksi harus berkata benar. Oleh
sebab itu, ketika ada dua orang murid bersepakat dalam sebuah dusta,
me­reka dihukum dengan amat serius untuk menjadi peringatan bagi semua
orang. Se­bab seorang saksi tak mungkin berkompromi de­ngan dusta.
Itulah sebabnya kita tertegun membaca tentang hu­kum­an berat yang harus
dialami oleh pa­sangan Ananias dan Sa­fi­ra. Ada hal-hal dalam kehidupan
ini yang tidak bisa dikompro­mi­kan, sebab sejak dari akarnya sudah
bertolak belakang. Termasuk dus­ta melawan kebenaran. Jika kebiasaan
buruk berdusta dibiarkan, ia akan menjadi bencana di kemudian hari. Kita
harus bersikap tegas terhadapnya
TIADA CARA LAIN UNTUK MEMERANGI DUSTA SELAIN MEMANGKASNYA SEDINI DAN
SESERIUS MUNGKIN

Penulis: Pipi Agus Dhali

Tidak ada komentar: