[ Renungan harian ] 3 Mei 2009

Tungku yang Menyala       
Baca       : Mazmur 119:97-104
Ayat Mas: Mazmur 119:97
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 67-69

Di tengah kelangkaan BBM, sebagian warga kembali memasak dengan tungku tanah liat. Perlu teknik khusus untuk pembakarannya. Kalau apinya masih kecil, dan Anda memasukkan kayu yang masih lembap, kemungkinan besar api itu akan padam. Namun, saat apinya sudah berkobar-kobar, kayu yang masih lembap pun akan disambarnya. Hati kita menyerupai tungku tersebut. Besar-kecilnya nyala api berkaitan dengan kebiasaan kita merenungkan firman Tuhan. Orang yang tekun merenungkan firman-Nya, menjaga api di tungku hatinya senantiasa menyala. Bagi orang semacam ini, khotbah yang sederhana dan disampaikan oleh pengkhotbah yang membosankan pun bukan masalah: kayu kebenaran yang lembap itu akan dibakarnya dan membuat hatinya kian berkobar!

Daud termasuk orang yang tungku hatinya berapi-api. Ia tidak hanya mencintai janji-janji dan berkat Tuhan, tetapi juga hukum-hukum dan perintah Tuhan. Kecintaannya itu bukan muncul begitu saja. Pertama, Tuhan memberinya anugerah untuk memahami firman-Nya. Kedua, ia berdisiplin untuk merenungkan firman itu sepanjang hari. Seperti orang yang jatuh cinta tak berhenti memikirkan kekasihnya, ia pun terus-menerus memikirkan firman Tuhan. Tidak hanya saat menjalankan waktu teduh, tetapi juga di tengah kesibukannya sehari-hari sebagai raja. Dan, firman Tuhan pun menjadikannya bijaksana (ayat 98).

Bagaimana dengan tungku hati kita? Marilah kita berdoa meminta anugerah Tuhan untuk dapat memahami firman-Nya. Selanjutnya kita menumbuhkan kecintaan pada firman-Nya itu dengan sesering mungkin merenungkannya.

SEMAKIN SERING KITA MERENUNGKAN FIRMAN TUHAN SEMAKIN MUDAH KITA MENCINTAINYA

Penulis: Arie Saptaji

Tidak ada komentar: