Ayat Mas: Pengkhotbah 5:1
Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 29-31
Di kota Bern, Swiss, ada menara dengan jam besar di atasnya. Usianya sudah 750 tahun, tetapi masih berfungsi. Uniknya, jam itu tidak punya jarum penunjuk menit! Orang zaman dulu rupanya tidak hidup tergesa-gesa. Waktu sehari hanya dibagi dalam hitungan jam. Belakangan baru orang membagi satu jam menjadi 60 menit. Pada zaman modern, satu menit dibagi lagi menjadi 60 detik. Makin akuratnya pembagian waktu membuat manusia bisa memakai waktu lebih efektif dan produktif. Namun juga membuat kita menjadi budak waktu. Tidak bisa tenang. Selalu terburu-buru karena dikejar jadwal dan target.
Tuhan mengajar kita untuk menghargai waktu. Nazar kepada-Nya harus digenapi tepat waktu. Sesuai jadwal. Tidak ditunda-tunda (ayat 3,4). Namun, hidup tidak boleh jadi serba terburu-buru. Saat berdoa, misalnya, kita diminta tidak “lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah” (ayat 1). Sediakan waktu untuk menenangkan diri lebih dulu. Benar-benar hadir di hadapan-Nya. Jika mulut asal berucap, tetapi pikiran masih ada di lain tempat, doa kita bisa menjadi “asbun” (asal bunyi). Sekadar rutinitas. Akibatnya, banyak terlontar janji gombal yang tidak kita amini dan tepati. Berbicara terburu-buru kerap membuat orang khilaf (ayat 5). Bicara tanpa pikir panjang!
Sediakanlah cukup waktu saat bersekutu dengan Tuhan, juga saat bercengkerama dengan keluarga dan teman. Pada momen-mo¬men berharga itu, perlambat kecepatan hidup Anda. Jadilah rileks. Hadir dan nikmati tiap percakapan, sehingga relasi Anda jadi bermakna. Sibuk boleh, tetapi jangan mau diperbudak waktu!
ORANG YANG HIDUP TERBURU-BURU DARI PAGI HINGGA PETANG KERAP KEHILANGAN MOMEN INDAH YANG TAK TERULANG
Penulis: Juswantori Ichwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar