Iman yang kita dengarkan, kita wujud-nyatakan dalam hidup kita sehari-hari

Di mana ada pengkotbah atau pembicara ulung, menarik, dan disenangi, di situ selalu banyak orang berkerumun mendengarkan. Sampai-sampai, ada yang mencari jadwal siapa yang misa dan siapa yang khotbah. Jika yang “tugas” adalah romo yang bagus khotbahnya, gereja penuh sesak. Nah ini salah satu fenomena kehidupan menggereja di sekitar kita. Semoga saja tidak berkembang terus. Mengapa?

Kita datang ke Gereja bukan pertama-tama sebagai pendengar saja. Bila hal ini terjadi, maka gagalah liturgi kita. Apalagi pada akhir misa, imam mengatakan “ite missa est”, pulanglah dan wartakanlah apa yang kau dapatkan selama perayaan Ekaristi. Namun apa yang terjadi? Apakah kita pulang dengan membawa damai? Apakah damai itu kita bagikan kepada orang-orang yang ada di sekitar kita?kepada orang-orang yang kita jumpai hari itu? Bila kita datang hanya sebagai pendengar, bisa terjadi kisah dalam Injil hari ini terulang kembali.

Injil mengisahkan ada orang yang sakit lumpuh, diusung oleh beberapa orang, namun tidak diberi jalan sampai kepada Yesus. Saya heran, apakah mereka terlalu egois sehingga tetap berdesakan ingin mendengarkan Yesus, namun tidak mau “melaksanakan” apa yang didengarkan? Yesus mengajar “kasihilah”. Dan orang yang mengasihi tentu juga mendahulukan orang lain, melayani orang lain. Tetapi bagaimana pemandangan kisah injil hari ini?

Bagaimana dengan diri kita jika kita melihat keadaan seperti itu? Apakah kita cukup mengungkapkan iman gereja saja? Iman yang kita dengarkan dalam liturgi Ekaristi, kita wujud-nyatakan dalam hidup kita sehari-hari, dalam perilaku kita, dalam pekerjaan-pekerjaan kita. Dengan demikian, kita menuju dan membentuk iman yang kuat dalam diri kita.

Markus 2:1-12

Tidak ada komentar: